Menjadi Manusia Adaptif

10:24 cinta kata 0 Comments


Seberapa banyak orang yang tidak bisa bertahan karena ketidakmampuannya menyesuaikan diri (beradaptasi). Menjadi adaptif berarti kita mampu bertahan hidup dan terus bermanfaat. Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 216 Allah Swt berfirman yang artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ayat di atas secara tersirat menunjukkan bahwa takdir dan peran apapun yang sedang kita jalani saat ini, baik kita suka atau tidak semuanya tetap bermuara pada kebaikan untuk kita. Allah tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan tugas hamba adalah menjalankan dengan sebaik-baiknya perannya.

Meskipun seminar-seminar motivasi berbisnis semakin menjamur, tidak berarti menjadi pengusaha atau pebisnis itu pekerjaan terbaik dan menjadi karyawan adalah sebaliknya. Negara juga perlu diurus birokrat jujur, generasi bangsa juga perlu dididik guru-guru yang berdedikasi, sektor kesehatan membutuhkan tenaga kesehatan yang amanah, surat kabar dan televisi membutuhkan jurnalis-jurnalis hebat yang menulis dan menyiarkan berita secara berimbang, toko-toko buku perlu diisi dengan tulisan-tulisan bermutu sebagai gizi generai bangsa, bahkan bus; kereta; pesawat siapa yang mengoperasikan kalau semua jadi pengusaha. Setiap porsi ada kontribusinya dan kontribusi terbaik bisa kita beri saat kita mampu menyamankan diri dengan peran saat ini. 

Bersikap adaptif itu selalu berhubungan dengan pikiran yang terbuka. Maka selain bekerja, imbangi dengan melakukan hobi dan sesekali melakukan perjalanan/ traveling. Seringkali perjalanan menghadirkan sesuatu yang tak terduga, yang membuat kita mau tidak mau harus survive, beradaptasi dengan kondisi, dan lebih banyak bersyukur. Lalu kemudian bisa kita terapkan dalam keseharian, yang tidak melulu nyaman dan aman. Maka bangunlah setiap pagi dengan semangat. Berjuanglah di sektor kita dengan ikhlas, ummat membutuhkan kita, gaji yang berkah itu efek sampingnya. []

0 komentar:

Se-PeDe Apa Kita?

12:58 cinta kata 0 Comments


Tahun 2018 menjadi tahun di mana saya banyak berkesempatan naik pesawat, yakni delapan kali terbang. Itu berarti saya juga mengalami delapan kali pesawat take off dan delapan kali pesawat landing. Dua kondisi kritis pesawat di mana penumpang wajib duduk tegak dan mengenakan sabuk pengaman, karena pesawat bergetar hebat dalam dua kondisi tersebut yang diistilahkan dengan critical eleven.

Maka mendengar berita jatuhnya pesawat Lion Air JT610 beberapa menit setelah take off, membuat saya merinding. Merasa bersyukur semua penerbangan saya kemarin aman dan tidak ada halangan apapun. Rahasia umur tidak ada yang tahu, tetapi di sisi lain kita sama-sama sadar mempunyai modal waktu sehari 24 jam.

Seorang wanita muda yang saya temui di antrean sebuah swalayan menyadarkan tentang bagaimana seharusnya mengisi waktu luang (sisa umur−red). Saat itu antrean kasir mengular. Pemandangan yang sering ditemui saat akhir pekan dan tanggal-tanggal setelah gajian. Satu customer rata-rata selesai terlayani dalam waktu 10−15 menit. Maka ketika kita ada di urutan nomor 9 dari antrean, kita harus rela berdiri 80−120 menit sampai tiba giliran kita. Di tengah antrean, wanita muda yang berdiri tepat di depan saya tersebut mengisi waktunya dengan membaca Al-Quran dengan suara lirih. Sebuah pemandangan langka dewasa ini, tapi cukup menohok.

Ketika di rata-rata banyak waktu yang kita habiskan untuk mengantre. Untuk berobat di Puskesmas, menabung di Bank, untuk berbelanja, untuk nyalon, sampai antre membeli tiket nonton di bioskop. Maka pilihan mengisi waktu luang saat mengantre untuk hal-hal berfaedah harus mulai kita pikirkan. Jatah masing-masing orang tetaplah 24 jam dan waktu tidak bisa kita tabung untuk bisa dipakai kemudian. Dan cukup percaya diri kah kita akan berumur panjang? []

0 komentar:

Traveling ke Luar Negeri Terus Nih, tapi Kapan Umroh?

13:45 cinta kata 4 Comments


Jika ditanya, sudah ke negara mana aja? Cuma bisa ngejawab dua aja sih, Malaysia dan Thailand. Dan dua belum bisa dikatakan banyak kan? Jadi kata “terus” dalam judul di atas hanya pemanis aja kok. Tiga kata terakhir dalam judul yang lebih kita soroti. Kalimat tanya yang dilontarkan beberapa kawan padaku saat tahu rencanaku ke Thailand awal Oktober lalu. 

Hidup adalah pilihan, kita semua pasti sepakat dan sepaket dengan itu. Bahkan tidak melulu ketika kita memilih pilihan A, lantas ada yang salah dan benar di antara pilihan A, B, atau C. Semua ada waktunya, semua ada ikhtiarnya, dan semua ada konsekuensinya. 

Bagiku, traveling adalah kegiatan positif yang membuat pikiran kita lebih terbuka, membuat kita kaya, membuat kita belajar tentang budaya dan habit orang lain, dan membuat  bahagia tentunya. Travel: the only thing you buy that makes you richer. So, merencanakan sebuah perjalanan selalu menyenangkan dan membuat hidup lebih bergairah. Tahun kemarin, bersama lima kawan, aku berkesempatan menginjakkan kaki di Negeri Jiran. Stempel negeri jiran pun menjadi stempel pertama yang menghuni buku hijau, pasporku.

Lalu awal tahun 2018, kami yang menamai grup whatsapp kami dengan “Overseas” kembali merencanakan next destination. Maka Bangkok menjadi tujuan mufakat overseas selanjutnya. Negeri yang bagi kami lebih menantang dari Malaysia. Dari segi budaya, agama, dan bahasa.

Kok ke luar negeri terus sih? Nggak sayang ya sama duitnya? Kenapa nggak milih pergi umroh aja sih? Iya sih, kalau punya duit sih enak. Kok enak liburan terus, nggak kerja ya? 

Hehehe.... begitulah salah satu hobi manusia Indonesia, bertanya dan berargumen sesuka mereka. Sebenarnya alasan memilih destinasi ke luar negeri banyak poinnya, Gaess. Yuk kita urai satu-satu yak! Pertama, kami memilih negeri-negeri ASEAN karena kami tidak perlu membayar visa saat pergi ke sana. Kedua, kalau kita tekun hunting tiket promo pasti bakalan dapet. Cuman perlu digarisbawahi sih kalau tiket promo itu selalu gentayangan hanya di awal tahun. So, tekunlah maka pasti mujur. Kemarin sih kami dapet tiket PP Jakarta—Bangkok, 1.350k. Waktu ke Kuala Lumpur tahun lalu, kami dapet tiket PP Jakarta—KL, 780k. Keduanya via Air Asia (terima kasih Air Asia^^). Jadi keluar negeri pun bisa dengan budget minim dan akomodasi di sana pun bisa disesuaikan dengan budget masing-masing. Ketiga, kami ingin melihat bentang dunia yang lebih luas. Dan perjalanan selalu membuat kita belajar bahwa apa yang kita ketahui dibanding ilmu-Nya sangatlah sedikit. Pengen mencicip untuk keluar dari dunia homogen kita, agar nggak ignorant dan gampang skeptis sama orang lain. Keempat, tahun ini kami ke Thailand berdelapan dan momen liburan selalu menjadi momen reuni tahunan kami. Traveling mengajarkan untuk tidak egois, harus mementingkan kepentingan satu sama lain, dan bagaimana bersama-sama bertahan hidup (survive) di negeri orang. Kelima, liburan ke luar negeri membuat kita eksplor bahasa lain, termasuk bahasa isyarat..haha. Minimal kita jadi termotivasi untuk belajar bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Keenam, secara pribadi kami pengen mengisi masa muda dengan hal-hal yang positif, salah satunya ya jalan untuk jalan-jalan. Belum menikah di usia 25-an tidak membuat kami lantas galau dan gabut. Kami justru melihat itu sebagai kesempatan untuk mengeksplor masa muda. Secara finansial kami mandiri dengan pekerjaan masing-masing, secara kedewasaan jangan ditanya lagi, gaess. So daripada menghabiskan fulus untuk nongkrong dari cafe ke cafe atau untuk membeli gombal (a.k.a baju/ fashion) kami memilih menabung, gaess. Untuk mewujudkan liburan impian, kami bahkan mengerem untuk tidak membeli atau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sifatnya sekunder apalagi tersier. Ketujuh, mengapa nggak eksplore negeri sendiri dulu? Jawabannya adalah karena destinasi di luar Jawa bisa memakan budget yang lebih tinggi dari negara tetangga. Harapan untuk keliling Indonesia jelas ada dong. Tapi cari sponsor atau cari duit yang banyak dulu. Kerja keras bagai kuda pun boleh. (hihihi...). Maka memilihlah berjalan ke manapun kau inginkan untuk menemukan siapa dirimu sebenarnya.

So, balik lagi ke pertanyaan, kapan pergi umroh? Menurutku pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Allah Yang Maha Kuasa. Karena dipanggil untuk ke tanah suci merupakan keistimewaan yang ketika Allah sudah menghendakinya sangat mudah untuk kita terbang ke sana, Kun Fayakun!

Soal niat, ikhtiar, dan azzam itu adalah masalah privasi. Masing-masing muslim jelas mendambakan untuk umroh bahkan Haji, sebagai penggenap rukun Islam. Aku sendiri berazzam ingin berangkat umroh atau haji sebelum usia 35 tahun (semoga Allah ijabah). Dan tidak semua mimpi perlu dipublikasikan, bukan? Bahkan lebih baik kita bekerja keras dan berikhtiar dalam diam dan ketika apa yang kita cita-citakan terwujud kita pun bebas untuk mempublikasikannya sebagai motivasi buat orang lain atau tetap stay cool menikmati kebahagiaan di lingkup kecil hidup kita. Kalau ada yang terlalu kepo tanya ini tanya itu soal pandangan hidup yang menurut dia salah, yaa senyumin ajaa. Toh, hidup tidak sekadar untuk menjawab pertanyaan orang-orang.

Memilih untuk sibuk meng-upgrade diri, meningkatkan kualitas diri, dan mengisi hidup dengan banyak pengalaman positif kurasa lebih penting dari sekadar menyibukkan diri dengan hidup orang lain. Life is choice! []

4 komentar:

Memperjelas Tujuan

14:13 cinta kata 0 Comments


Tujuan adalah arah yang dituju. Seorang sopir selalu tahu ke mana seharusnya membawa para penumpangnya, agar jarak dan waktu bisa terukur. Dalam Ayat-ayat Cinta 1, Kang Abik sering mengutip kalimat dari Thomas Carlyle, “Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Dan seseorang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus.

Tentang memilih tujuan, kita bisa melakukannya di usia berapa pun. Seorang wanita paruh baya yang beberapa waktu lalu saya kenal, usianya 55 tahun dan ia membidik satu tujuan hidup baru setelah pensiun. Sebelumnya ia bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas milik asing, hingga mencapai puncak karirnya. Berbeda 180 derajat, tujuan hidup baru yang dipilihnya adalah menjadi seorang penulis cerita anak. 

Lewat mesin pencari di internet ia menyeleksi beberapa penulis senior yang masuk kriterianya. Lalu secara pribadi mengirim email kepada calon gurunya tersebut dan minta belajar menulis via email. Ia begitu gigih dan fokus dengan tujuan hidupnya yang baru. Sebuah tujuan hidup yang membuatnya lebih bergairah di usianya yang hampir senja. Kerja keras dan kegigihannya terbukti membuahkan hasil, bahkan dalam hitungan bulan. Puluhan cerita pendeknya berhasil dimuat di Majalah Bobo, Kompas Klasika, koran lokal, dan bukunya berhasil menembus beberapa penerbit. Ia pun berhasil menjadi pemenang di sayembara penulisan buku anak yang diadakan kementerian pendidikan dan kebudayaan. 

Ia sering hadir sebagai peserta di workshop-workshop menulis. Menempatkan diri sebagai sebuah gelas kosong yang siap menerima ilmu dari siapa pun. Di usianya tersebut, ia masih mengusahakan yang terbaik untuk mimpinya. Hal yang akan kita lakukan juga saat mau memperjelas apa tujuan hidup kita, bukan? Cuss, ambil kertas dan tulis besar-besar apa tujuanmu. []

0 komentar:

Satu Kata Ajaib

13:15 cinta kata 0 Comments


Saya terbiasa memvisualkan mimpi atau cita-cita dalam coretan kertas yang ditempel di dinding kamar. Mimpi atau cita-cita yang tertempel pun tidak serta merta terkabul seketika. Satu bulan berjalan hingga menjadi tahun dan mimpi tetap tertempel manis tanpa ada perubahan yang terjadi. 

Hingga dalam sebuah obrolan dengan teman ada satu kalimatnya yang mengingatkan tentang satu kata ajaib bahwa ciri seorang muslim adalah mengucapkan insya Allah dalam setiap hajat yang akan ia tunaikan atau inginkan. Insya Allah bermakna “Jika Allah menghendaki” ternyata adalah salah satu kunci untuk membuat mimpi terwujud. Tidak terwujud seketika, tapi Allah memberikan berbagai pertolongan dan petunjuk-Nya untuk kita mewujudkannya. It’s work!

Tentu kita masih ingat dengan kisah Sulaiman as yang terabadikan dalam sabda Nabi saw berikut, “Sulaiman bin Daud as pernah berkata, ‘Sungguh, saya akan menggilir seratus istri saya pada malam ini. Semuanya akan melahirkan anak yang ahli berkuda yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu temannya berkata kepadanya, ‘Katakanlah ‘Insya Allah’,’ tetapi Nabi Sulaiman tidak mengatakan ‘insya Allah’. Ternyata dari semua istrinya tersebut yang hamil hanya seorang istrinya, itupun hanya melahirkan separuh anak (tidak sempurna fisiknya). Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman mengucapkan ‘InsyaAllah’, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu Allah berikan bimbingan adab kepada umat manusia lewat firman-Nya, “Dan janganlah sekali-kali engkau mengucapkan: Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali (dengan mengucapkan) InsyaAllah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan terdekat menuju hidayah.” (Q.S al-Kahfi ayat 23-24).

Tengoklah kembali mimpi dan citamu, saat ia bergeming tak kunjung terwujud, jangan-jangan hatimu belum sepenuhnya betawakal pada-Nya, maka segera ucapkan insyaAllah dan Allah yang akan mengatur segalanya. 

0 komentar:

Kualitas Hidup

11:57 cinta kata 1 Comments



Sepulang dari kajian beberapa waktu yang lalu ban motor saya bocor. Kebetulan saya tidak sendiri, seorang teman meminta pulang bareng karena rumah kami memang satu arah. Dalam hati merasa bersyukur tidak menuntun motor sendirian sementara belum jelas di mana letak jasa tambal ban yang masih buka.

Waktu itu selepas maghrib. Kami pun berhenti di masjid. Kami bertanya kepada salah satu jama’ah letak jasa tambal ban terdekat. Darinya kami diberi tahu tempat yang tidak terlalu jauh, kami cukup menuntun motor kurang lebih 200 m. Gerimis pun ikut menemani pencarian kami.

Kami sudah sampai di ujung gang, hanya ada kebun pisang di sana dan rumah yang terlihat suwung. Setelah bertanya lagi kepada salah satu warga, kami pun menemukan tempat yang dimaksud. Si ibu yang kami tanyai bahkan mengantarkan sampai depan rumah pemilik jasa tambal ban, rumah suwung yang kami kira tidak berpenghuni tadi.

Kami menyisir sekeliling rumah, tak ada tanda-tanda bengkel di sana. Seorang laki-laki paruh baya lalu keluar dan mendengarkan maksud kedatangan kami. Kalimat berikutnya membuat semangat kami luruh. “Maaf mbak, tapi saya sudah lama tidak buka jasa tambal ban,” ujar si Bapak.

Kami sudah membayangkan akan berjalan menuntun motor tanpa tahu di mana letak jasa tambal ban terdekat. Kami sudah menuntun mundur motor. Lalu suara si bapak menghentikan kami. “Rumah mbaknya di mana?”

Setelah saya menyebutkan daerah rumah kami. Adegan berikutnya si bapak mau membantu menambal ban kami. Dari dalam rumah si bapak mengeluarkan beberapa peralatan. Hujan semakin menderas. Ban dalam yang bocor ternyata pas mengenai dop, artinya ban dalam harus di ganti. Saya dan teman saya saling berpandangan.

“Saya belikan ban dulu ya mb, nggak jauh kok,” ujar si Bapak. Di tengah guyuran hujan si bapak pergi mengenakan mantol dengan motornya. Tak berselang lama si bapak datang dan dengan cepat mengganti ban motor saya. Bermaksud menghargai kemurahhatiannya, saya kasih ongkos lebih banyak dari seharusnya, tapi si bapak menolak dengan sangat halus. Raut mukanya terlihat sangat tulus. Ketulusan yang membuat hati kami menggerimis.

Kita senang dengan segala hal yang berkualitas. Makanan yang enak dan lezat itu makanan yang berkualitas. Kita senang dengan pakaian yang berkualitas, nyaman dipakai. Kita pun senang saat shalat berjamaah dipimpin oleh imam yang bacaannya berkualitas, menambah kekhusyuan kita. Kita pun senang berbelanja di tempat yang berkualitas, tidak hanya barang yang dijualnya memiliki kualitas yang baik, namun juga pelayanannya berkualitas. Tapi sudahkah hidup kita berkualitas dengan membuatnya menjadi sebaik-baik manfaat dan membuatnya ringan untuk menolong kesulitan orang lain?

1 komentar:

Pencuri Nasihat

10:38 cinta kata 0 Comments


Dalam salah satu episode novel Ayat-ayat cinta 2, Fahri merasa begitu ingin dinasihati oleh Mishbah. “Bah, tolong nasihati aku!” ucap Fahri. Lalu Mishbah pun memberi sebuah nasihat tentang “Jangan Menipu Allah”, yakni mengerjakan amal yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya namun menginginkan selain Allah. Mendengar nasihat Mishbah, air mata Fahri mengalir. 

Keimanan yang ada dalam hati manusia sejatinya memang bersifat fluktuatif. Harus ada upaya untuk membuatnya stabil, salah satunya dengan siraman nasihat. Seorang kawan saya memutuskan untuk fokus membina remaja di daerahnya, setelah itu mewajibkan dirinya ikut taklim setiap hari. Ruhiyahnya harus dalam kondisi selalu penuh saat ia berazam membuat orang lain baik. Itu prinsip sederhana yang selalu ia jaga.

Energi postitif itu menular. Kalau secara pribadi saya lebih sering mencuri nasihat. Mengapa mencuri? Karena orang yang bersangkutan tidak tahu kalau saya sering mengambil nasihat darinya. Ada beberapa kenalan dan sahabat, baik di dunia maya maupun dunia nyata yang sering saya jadikan langganan pencurian. Saya sisihkan sebagian waktu untuk membaca status mereka di sosial media, yang nasihatnya selalu bernas. Atau saya sapa via whatsapp dan sesekali berkunjung ke rumahnya, ngobrol tentang hal-hal sederhana dan selalu nasihat berharganya keluar untuk kemudian saya simpan sebagai energi jiwa. 

Setelah itu, dunia begitu terlihat berbeda. Dunia terlihat lebih luas dan menyenangkan. Permasalahan kita akan terlihat kecil dan diri menjadi lebih bersyukur. Teruslah menjadi nasihat bagi orang lain, melalui tutur kata, tulisan, bahkan sikap-sikap sederhanamu. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Asr:2−3) []

0 komentar:

Menjemput Ketidaknyamanan

13:25 cinta kata 0 Comments


Tidak sedikit orang yang menyukai berada di zona nyaman. Zona di mana ia merasa santai, tanpa tekanan, fleksibel, bisa bersenang-senang, bebas, dan merasa semuanya mudah dilakukan. Di sisi lain, zona nyaman cenderung mematikan kreativitas, membuat seseorang meremehkan pekerjaannya sendiri, dan membuatnya menjadi close-minded (berpikiran tertutup). Kondisi negatif yang menggelinding bak bola salju, mengakibatkan kondisi mental menjadi berubah. Ia menjadi bosan dengan banyak hal dan tak memiliki minat pada satu bidang pun. Ketika dihadapkan pada tantangan, ia menjadi takut gagal.

Banyak motivator yang kemudian menyerukan kepada audiensnya untuk keluar dari zona nyaman. Bagi saya “keluar” di sini lebih pada keluar dari hal-hal negatif yang mengerak saat berada di zona nyaman. Sesekali kita hanya perlu keluar sejenak dari rutinitas. Salah satunya dengan melakukan perjalanan/ trip/ atau yang lebih populer dengan sebutan traveling. Dengan kata lain kita menjemput ketidaknyamanan dengan traveling. 

Saat seseorang selesai melakukan traveling, alam bawah sadarnya ingin merencanakan traveling berikutnya. Mengapa? Padahal ketika ditilik, lebih banyak hal tak nyaman dan tak terduga saat traveling tapi anehnya kita merasa begitu bahagia. 

Ibarat dua sisi mata uang, traveling dan ketidaknyamanan adalah sepaket yang tak terpisahkan. Dalam banyak ketidaknyamanan saat traveling, kita akan mensyukuri hal-hal kecil yang sebelumnya sering kita abaikan, seperti nikmatnya seteguk air mineral. Saat jauh dari rumah, ketergantungan kepada sang Rabb pun menjadi sangat besar. Traveling juga membutuhkan mental dan fisik yang kuat, serta kemandirian, juga toleransi dan empati saat traveling dalam sebuah rombongan. Soal fisik yang kuat, kita akan sadar pentingnya berolahraga untuk menjaga daya tahan tubuh. 

Saat terakhir kali saya melakukan perjalanan, saya melihat banyak orang-orang Barat dengan usia senja yang masih menyempatkan untuk traveling. Ada juga pasangan muda dengan balitanya yang rela repot-repot membawa segala keperluan baby untuk traveling mereka. Artinya, traveling adalah kebutuhan yang mulai mendarah daging menjadi sebuah gaya hidup yang menyenangkan. Karena momentum ini selalu ditunggu bahkan cenderung direncanakan setiap tahun.

Mengunjungi tempat baru, artinya mempelajari budaya setempat, wawasan bertambah, saling menghargai meningkat, dan pikiran kita akan lebih terbuka dengan banyak hal. Energi negatif dijamin akan terkikis dengan sendirinya. Dan soal bahagia jangan ditanya lagi. []

0 komentar:

Menjadi Tangguh itu Pilihan

12:10 cinta kata 0 Comments


Judul : Jangan Jadi Cewek Cengeng
Penulis : Linda Satibi, dkk.
Penerbit : Indiva
Cetakan I : April 2017
ISBN : 978-602-6334-18-3
Halaman : 204 halaman

Membaca kisah dan menghayati tentang semangat hidup dan sisi terang seseorang merupakan salah satu investasi kita dalam menjaga kesehatan psikologis dan jasmani. Dalam hidup selalu ada keceriaan dan penderitaan. Membuatnya seimbang adalah sebuah pilihan.

Buku ini merupakan kumpulan dua belas kisah inspiratif yang disajikan dengan berbagai gaya kepenulisan masing-masing penulisnya. Seperti judulnya, “Jangan Jadi Cewek Cengeng”, buku ini memang dihadirkan sebagai hadiah untuk kaum hawa.

Dari pada menjadi cewek cengeng dalam artian mudah mengeluh, mudah menyerah, pesimis, dan sederet kata sifat negatif lainnya, lebih baik menjadi cewek yang kuat, ikhlas, pantang menyerah, optimis, dan positif (halaman 10-11).

Buku ini dibagi menjadi empat bagian yang masing-masing bertajuk, Bukan Cewek Cengeng, Aku Tangguh, Girl’s Power, dan Girl’s Rule. Kisah yang disuguhkan mampu menggugah kesadaran pembaca. Tentang beginilah seharusnya seorang wanita menjalani hidupnya.

Salah satunya kisah tentang seorang wanita yang divonis dokter mengidap kanker rahim dan usianya diprediksi tidak lebih dari 30 tahun. Hingga akhirnya kita dibuat belajar untuk menyemai kebaikan-kebaikan yang terus-menerus untuk kemudian kebaikan itu menjadi kebaikan kecil yang menyembuhkan sakitnya. Dituliskan bahwa, Kita boleh kehilangan apa pun di dunia ini, namun tidak boleh kehilangan semangat dan harapan. Karena itu berarti kematian (halaman 99).

Buku ini disajikan dengan gaya penulisan yang populer untuk mendampingi para wanita tangguh dan cocok dibaca oleh kalangan remaja sampai wanita dewasa sekalipun. Setiap asam garam yang dilalui ia akan bermuara pada akhir yang indah. Seperti kutipan dari HAMKA, “Air mata berasa asin itu karena air mata adalah garam kehidupan.”

0 komentar: