Memotret Upacara Kasada -- Dongeng Kompas Nusantara Bertutur

Memotret Upacara Kasada (Kompas Nusantara Bertutur, Terbit: 29 Desember 2019)

Memotret Upacara Kasada

Oleh: Anisah Sholichah


“Lihat, Kak! Ini hasil jepretan Bagas bersama Pak Lingga,” kata Bagas menunjukkan layar kamera miliknya pada Kak Septa. Dua jempol diacungkan Kak Septa, kakak Bagas yang berprofesi wartawan.

Bagas baru saja memotret pembuatan ongkek oleh warga untuk persiapan Upacara Kasada. Ongkek adalah kumpulan sesaji dari hasil bumi terdiri atas pisang, kelapa, sayur-mayur, bunga manggar, bunga kenikir, bunga tana layu, dan buah-buahan lainnya.

Bagas dan Kak Septa sedang menginap di rumah Pak Lingga, warga Suku Tengger yang tinggal di Desa Ngadisari, Probolinggo, Jawa Timur. Kak Septa akan meliput rangkaian Upacara Kasada di Gunung Bromo tahun ini. Bagas senang diajak kakaknya untuk memotret Upacara Kasada besok. Ia yakin akan mendapatkan foto-foto bagus untuk lomba fotografi di sekolahnya.

Malam harinya, Bagas bersiap tidur lebih awal. Tengah malam nanti, ia sudah harus terjaga demi mengikuti upacara Kasada.

Saat tengah malam, Bagas dan Kak Septa sudah bersiap-siap mengikuti upacara Kasada.

Bagas merapatkan resleting jaketnya. Ia juga mengenakan syal untuk menahan dingin. Bagas memandang dengan takjub iring-iringan orang-orang berpakaian adat warna putih. Bagas mulai memijit-mijit kakinya yang mulai pegal. Memotret upacara Kasada tidak semudah yang ia bayangkan.

“Bagas lihat kan, ongkek-ongkek itu akan dilarung sampai ke atas sana. Ke tepi kawah Bromo,” jelas Kak Septa sambil menunjuk ke puncak Bromo.

Bagas mulai menimbang-nimbang untuk tidak melanjutkan perjalanan. Namun, di depan Bagas, orang-orang tua terlihat masih kuat berjalan dan bersemangat. “Kenapa orang-orang mau berjalan sejauh itu, Kak?”

“Orang-orang Hindu Suku Tengger meyakini bahwa upacara Kasada adalah bentuk rasa syukur mereka kepada Sang Pencipta,” jawab Kak Septa.

Bagas lalu ingat tujuannya ke sini dan kembali bersemangat. Bagas merasa kagum dengan masyarakat Suku Tengger yang terlihat bersemangat dalam melaksanakan upacara Kasada tersebut. Mereka sangat berkomitmen menjaga kelestarian budaya, termasuk menjaga agama atau keyakinan sejak nenek moyangnya.

Bagas lalu teringat pesan Bu Yuni, gurunya di sekolah, bahwa anak-anak Indonesia harus selalu menjaga kelestarian budaya bangsa kita sendiri. “Kalau bukan kita sendiri yang melestarikan budaya bangsa, lalu siapa lagi?” kata Bu Yuni waktu itu.


Link:

Anak Belajar Berterima Kasih Pada Allah



Judul           : Terima Kasih Allah atas Segala Cuaca
Penulis         : Tyas KW
Ilustrator      : Jj Wind
Editor          : Noor H. Dee
Penerbit       : Noura Books
Tahun          : Cetakan I, Oktober 2019
Tebal           : 20 Halaman

Memahami nilai kesyukuran sejak kecil akan melatih kecerdasan spiritual anak. Boardbook ini mengajarkan kepada anak untuk memahami tidak semua hal terjadi sesuai apa yang kita suka. Naura suka hari yang cerah, tapi terkadang hujan juga turun.

Naura pun belajar melihat sisi positif dari setiap cuaca yang dihadirkan Allah untuknya. Terkadang langit cerah, terkadang berawan, dan tekadang tak luput dari hujan. Naura dan Nabil tetap bisa bermain dengan bahagia. Bahkan Allah memberikan bonus keindahan alam yang tergambar di dua halaman terakhir. Naura dan Nabil tidak lupa mengucapkan, “Terima kasih, Allah!”

Kita intip halaman isinya yaa...!

Buku ini sangat baik dan menarik untuk dijadikan teman bermain anak. Ilustrasi yang apik, full color, dan bahasa yang ringan membantu anak berimajinasi serta menyerap pesan dengan mudah. Anak akan belajar menumbuhkan empati, kemandirian, dan mengembangkan karakter sekaligus. Naura dan Nabil akan menjadi teman bermain yang menyenangkan. 










Kali Pertama Mengunjungi Bangkok ala Backpacker



Mengawali postingan awal tahun dengan review perjalanan di akhir tahun kemarin adalah semangat tersendiri bagi saya. Tulisan kali ini adalah catatan perjalanan di negeri kedua ASEAN yang berhasil saya kunjungi setelah Malaysia. Tentunya masih bersama sahabat-sahabat terbaik saya. Kami mengunjungi Negeri Gajah Putih. 

Thailand menjadi salah satu negara terfavorit bagi traveler Indonesia. Pasalnya banyak daya tarik yang ditawarkan, mulai dari wisata belanja, kuliner khas Thailand, budaya, dan arsitektur kelas atas. Selain itu kita tidak perlu repot-repot mengurus visa jika berkunjung ke sana. Thailand menjadi salah satu negara di ASEAN yang bebas visa untuk paspor Indonesia.

Selama empat hari tiga malam, saya berkesempatan meng-explore Bangkok. Pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok, saya belum merasa meninggalkan Indonesia. Aura kota, kemacetan, dan iklim di Bangkok tak ubahnya di Jakarta. Hanya saja saat mendengar bahasa dan membaca papan-papan yang dipenuhi aksara Thailand, saya yakin sudah di negeri lain.

Mengunjungi Bangkok tidaklah afdhal kalau belum melakukan tiga hal yakni mengunjungi tempat wisatanya, mencicip kuliner khasnya, dan berbelanja sepuasnya. haha...


Chatuchak Weekend Market






November 2018, saya bersama tujuh orang teman memutuskan mengunjungi negeri gajah putih dengan bermodalkan tiket promo yang berhasil kami booking di awal tahun. Cukup dengan satu juta sekian, kami sudah bisa terbang pergi pulang. Kami mendarat di Bangkok pada hari Ahad. Tujuannya agar bisa berbelanja di Chatuchak Weekend Market. Sesuai namanya, Pasar Chatuchak hanya buka di akhir pekan. Untuk hari Jumat Chatuchak buka pukul 18.00−24.00 dan pukul 09.00−18.00 di hari Sabtu-Ahad. Chatuchak merupakan pasar terbesar di Thailand yang memiliki ribuan kios. Berbagai barang mulai dari pakaian, aksesoris, kerajinan tangan, keramik, furniture, art and gallery, barang antik, sampai berbagai kuliner tersedia di Pasar Chatuchak. Harga-harga yang ditawarkan relatif murah, apalagi kalau punya bakat tawar-menawar. 

Untuk menuju Pasar Chatuchak, dari Airport Don Mueang kami naik shuttle bus A1 menuju Mo Chit Stasion dan jalan kaki ke arah Pasar Chatuchak, mengikuti arus pejalan kaki sampai ketemu pintu masuk kecil masuk ke pasar. Bagi wisatawan yang membawa barang bawaan banyak, Pasar Chatuchak menyediakan Lock Box untuk menitipkan barang. Harga penitipan tergantung ukuran, untuk ukuran S (20 Bath/jam), ukuran M (30 Bath/jam), ukuran L (40 Bath/jam), dan ukuran XL (50 Bath/ jam). Karena rombongan backpacker kami hanya membawa ransel, kami tidak perlu menitipkan barang di Lock Box. 

Soal makanan halal, kita harus jeli dan gigih mencarinya. Kami baru menemukan rumah makan halal setelah berputar-putar cukup lama. Kami makan di Kah Jak Restaurant, sebuah rumah makan sederhana dengan berbagai menu-menu khas Thailand. Setelah berpanas-panas, menu Tom Yum dan Thai Tea dingin yang dicicip di negerinya sendiri terasa begitu nikmat. Sebelumnya, kami juga sudah mencicip Coconut Ice Cream lengkap dengan toping yang bejibun, street food yang wajib kamu coba saat di Thailand. 










Grand Palace, Komplek Istana Raja





Mengunjungi Thailand, tidaklah lengkap kalau tidak mengunjungi tempat-tempat wisata yang must visit (wajib dikunjungi), salah satunya adalah Grand Palace. Kami yang menginap di dekat sungai Chao Phraya cukup jalan kaki 100 meter menuju Dermaga Central Pier untuk tujuan pertama kami, Grand Palace. Kami naik boat dengan bendera orange (ada dari pukul 06:00–19:30 setiap hari, Harga tiket @15 Bath/ 6500 rupiah) dan turun di dermaga Tha Chang. dari sana tinggal jalan melewati lorong pedagang, sampai ketemu jalan raya dan di seberang jalan sudah terlihat komplek bangunan Grand Palace.

Grand Palace merupakan komplek istana Raja Thailand yang berada di jantung kota Bangkok. Untuk masuk, kita wajib membeli tiket seharga @500 Bath/ 200.000 rupiah. Harga yang lumayan mahal tapi cukup setimpal dengan suguhan bangunan-bangunan megah di sana. Kita bisa menikmati sejarah sekaligus arsitektur tingkat tinggi di setiap bangunannya. 

Wisatawan yang masuk wajib mengenakan pakaian yang sopan. Grand Palace mempunyai luas 500 x 300 m. Terdapat 35 bangunan di dalamnya. Istana ini mulai dibangun pada tahun 1782, pada masa pemerintahan Raja Rama I. Istana ini berfungsi sebagai kediaman resmi Raja-raja Thailand dari abad ke-18 hingga tahun 1945. Setelah itu, Grand Palace lebih banyak digunakan sebagai tempat menggelar upacara dan ritual kerajaan. Grand Palace akan ditutup untuk umum saat pelaksanaan upacara dan ritual. Kami beruntung karena pekan selanjutnya dari tanggal kami berkunjung, ada informasi Grand Palace ditutup untuk acara peringatan kematian Raja. 

Jangan lupa banyak-banyak berfoto ria dengan berbagai bangunan megah di Grand Palace. Kenanganmu jalan-jalan akan lebih tersimpan dengan manis dan indah. Eaaa...












Wat Pho dan Wat Arun yang Eksotis






Tidak jauh dari Grand Palace, kami melanjutkan perjalanan mengunjungi Wat Pho dan Wat Arun, dua kuil yang megah dengan pesonanya masing-masing. Untuk menuju Wat Pho, kita cukup berjalan kaki menyusuri trotoar kurang lebih 20 menit (memang harus banyak berjalan kan, namanya juga jalan-jalan). Wat Pho punya sebutan The Temple of Reclining Buddha. Sesuai namanya, di sana memang terdapat patung Budha tidur raksasa berlapis emas setinggi 15 meter dan panjang 46 meter. 

Wat Pho dibangun oleh King Rama I dan termasuk salah satu kuil tertua yang telah berdiri sebelum Bangkok menjadi ibukota. Pada tahun 1832, King Rama III merenovasi dan memperluas kompleks kuil yang menghabiskan waktu sekitar 16 tahun. Setiap bangunan dan pagoda yang ada di sana memiliki full ornamen pada marmer dan ukiran pada setiap dindingnya. Tiket masuk ke Wat Pho adalah 100 Bath/ orang (44.000 rupiah) dan per orang akan mendapat sebotol air mineral dingin pelepas dahaga. Tips bagi kamu saat mengunjungi bangkok adalah jangan mengenakan kaos hitam, setidaknya pakailah pakaian yang tidak terlalu menyerap panas. 

Saat berjalan di trotoar, sesekali berhentilah untuk mencicip buah-buahan segar atau jus yang dijajakan di sepanjang trotoar. Mencari tempat ibadah dan makanan halal cukup sulit di sana. Untuk makan siang waktu itu, kami memilih mampir ke Subway, salah satu gerai makanan cepat saji. Kita bisa memilih isian roti hanya dengan sayuran atau dengan tambahan seafood seperti tuna.

Selesai mengeksplor Wat Pho kami berjalan menuju dermaga Tha Thien Pier dan bersiap menuju Wat Arun di seberang Sungai Chao Phraya. Kami naik boat dengan tarif 4 Bath (1800 rupiah). Wat Arun terkenal dengan nama Temple of Dawn (Candi Fajar). Berbeda dengan Wat Pho, Wat Arun didominasi dengan mosaik berwarna putih. Kuil ini bisa dinaiki hingga ke puncak sehingga bisa terlihat liukan sungai Chao Phraya. Menara-menara di Wat Arun meruncing menyerupai kerucut menghadap angkasa. Harga tiket masuk Wat Arun 50 Bath/ orang. Di Wat Arun kita bisa berfoto dengan background dan spot yang instagramable sepuasnya.















Menikmati senja di Asiatique dan Mencicip Mango Tango yang Hits






Salah satu cara terbaik menikmati senja dan suasana malam saat di Bangkok adalah dengan mengunjungi Asiatique The Riverfront. Sebuah kawasan dermaga  sekaligus night market dengan sentuhan gaya Eropa. Asiatique buka pukul 17.00-24.00. Kita bisa menikmati sungai Chao Phraya saat senja dan saat malam tiba kita bisa menikmati berbagai kuliner dan mencari buah tangan di jejeran toko-toko yang ada. Lampu-lampu gedung pencakar langit yang ada di sekeliling sungai pun nampak begitu indah dinikmati. 

Tak jauh dari Asiatique kami menemukan salah satu masjid bernama Bang Uthit untuk menunaikan shalat dzuhur-ashar yang kami jamak (selalu bersyukur dengan rukshah atau keringatan dari Allah bagi orang-orang yang safar). Masjid ini jadi satu dengan sebuah sekolah, pintu masuknya berada persis di depan Asiatique. Kami tidak perlu lagi sholat di lapangan seperti saat berada di Chatuchak Weekend Market.

Di Asiatique kami mencicip salah satu desert hits di Thailand, yakni Mango Tango. Waktu itu kami memesan Mango Tango with Sticky Rice. Mangga memang sangat identik dengan negeri gajah putih. Penampilan Mango Tango with Sticky Rice benar-benar menggoda mata, ditata sedemikian rupa sehingga jadi sayang untuk dimakan tapi menggoda untuk segera dihabiskan. Di dalam piring disajikan satu scoop ketan gurih, satu scoop es krim mangga berwarna kuning, pudding dan setengah buah mangga yang dipotong-potong, dilengkapi dengan topping whipped cream dan garnish daun mint.

Puas berkuliner, kami pun balik ke hostel dengan naik boat gratis yang disediakan Asiatique dari pukul 16.00-23.00 menuju Saphan Taksin, dermaga yang hanya berjarak 100 meter dari tempat kami menginap.














Explore Maeklong Railway Market





Di hari ketiga, kami memutuskan mengunjungi pasar tradisional yang berada di pinggiran kota Bangkok, tepatnya di distrik Samut Songkhram. Pasar ini bisa dikatakan salah satu pasar terunik di dunia. Sesuai namanya, Maeklong Railway Market sangat identik dengan rel kereta. Pasalnya barang-barang dagangan yang digelar di pasar ini hanya berjarak sekian senti meter dari rel kereta, bahkan ada yang benar-benar menggelar barang dagangannya di atas rel. Saat kereta akan lewat, dengan sigap para pedagang segera menggeser barang-barang dagangan dan melipat payung tenda mereka untuk ruang kereta. Poin bahaya justru menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan.

Untuk menuju Maeklong, dari hostel kami naik BTS dan turun di shelter Wong Wian Yai dan berjalan menuju Stasiun Wong Wian Yai (untuk menuju ke sini silahkan tanya penduduk sekitar atau petugas stasiun yang bisa bahasa Inggris biar tidak banyak belok dan kebanyakan melewati tikungan..haha). Kami lalu turun di Stasiun Maha Chai, kemudian lanjut jalan kaki menuju penyeberangan fery untuk menyeberang sungai. Sampai di daratan, lanjut jalan kaki ke Stasiun Ban Laem. Kereta menuju Maeklong hanya beroperasi empat kali dalam satu hari (07.30, 10.10, 13.30, dan 16.40). 

Waktu itu kami sampai di stasiun Ban Leam pukul 11.00, jadilah kami harus menunggu 2,5 jam di stasiun. Kami pun memutuskan untuk kembali ke jalan perkampungan untuk mengisi perut yang kosong dan membeli beberapa oleh-oleh seafood kering. Penduduk sekitar tidak ada yang bisa berbahasa Inggris, jadilah kami bertransaksi dengan kalkulator sebagai penerjemah. Kami Berbelok ke minimarket lalu memilih menu lauk jamur dan sayur yang bisa dihangatkan di microwave untuk santap siang aman tanpa sarapan sambil menunggu kereta. 

Perjalanan dari stasiun Ban Laem menuju Maeklong membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Perjalanan panjang menuju Maeklong pun berakhir. Wajah-wajah kuyu penuh kelegaan yang membutuhkan seteguk mineral dingin menempel pada wajah kami. 

Kondisi pasar Maeklong cukup bersih dan menjajakan berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari sayuran hingga berbagai bumbu. Ada juga yang menjual buah-buahan dan kuliner lokal. Kalau soal harga sudah pasti lebih miring. Puas berfoto, kami pun memutuskan kembali ke Ban Laem dengan kereta lagi pukul 15.30. Kami merasakan kembali sensasi dekatnya kereta dengan tenda-tenda pasar yang dilipat dan ramainya para wisatawan yang saling mengabadikan gambar dalam foto maupun video. Satu keberuntungan kami adalah ada salah satu dari kami yang beberapa kali disangka warga lokal. Jadilah teman kami tersebut berkesempatan masuk ke ruang masinis dan mendapatkan video eksklusif melajunya kereta di Maeklong Railway Market dengan sudut pandang kepala kereta. ahayy...









Berburu Kenyang di Rot Fai Nigt Market





Malamnya kami mengunjungi Rot Fai Night Market. Salah satu pasar malam di Bangkok yang cukup hits, terletak tepat di belakang Esplanade Shopping Mall Bangkok. Di Rot Fai Night Market tidak hanya menjual pakaian atau aksesoris, ada juga tanaman seperti kaktus, kosmetik, tas, barang-barang vintage, dan berbagai barang-barang gaul anak muda di Thailand. Dan yang terpenting berbagai kuliner bisa didapatkan di sini. Kami memilih mencicip berbagai seafood dan membeli berbagai buah-buahan segar sebagai snack. Misi malam itu adalah memanjakan lidah dengan uang saku yang memang lumayan sisa banyak dari perkiraan awal. Haha... Kami mah begitu, hemat di awal dan foya-foya kemudian. 










Mengunjungi Lumphini Park





Di hari keempat alias hari terakhir kami di Bangkok, kami mengunjungi Lumphini Park. Suasana taman kota yang penuh dengan nuansa alam akan sangat mudah ditemukan di Lumpini Park. Taman terbesar dan tertua yang ada di Bangkok ini memiliki luas lebih dari 500 ribu kilometer persegi. Di taman yang dinamai seperti tempat kelahiran budha ini, terdapat danau yang cukup luas. Banyak warga Bangkok maupun turis datang kesini untuk bersantai di bawah pohon rindang sambil menikmati suasana alam dan mengobrol seru dengan kawan. 

Puas bersantai di taman, kami pun mampir shalat dan makan di Yana Restaurant Halal di MBK Center (salah satu mall di Bangkok) dan bersiap menuju Don Mueang Airport untuk terbang menuju tanah air. 








Akhirnya mengunjungi Bangkok selama empat hari tiga malam membuat kami ingin kembali mengunjunginya lagi bahkan sebelum meninggalkannya sekalipun. Saya pribadi pun semakin ingin menginjakkan kaki di negeri lain. Betapa sebuah perjalanan adalah miniatur kehidupan yang mendewasakan, karena di dalamnya kita harus beradaptasi, bertoleransi, menekan ego, berteman dengan ketidaknyamanan, bergerak dengan segenap energi, banyak berjalan, banyak bercerita dan mengantongi cerita, saling bertukar senyum, dan tentunya mencipta kenangan. []

Menjadi Manusia Adaptif


Seberapa banyak orang yang tidak bisa bertahan karena ketidakmampuannya menyesuaikan diri (beradaptasi). Menjadi adaptif berarti kita mampu bertahan hidup dan terus bermanfaat. Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 216 Allah Swt berfirman yang artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ayat di atas secara tersirat menunjukkan bahwa takdir dan peran apapun yang sedang kita jalani saat ini, baik kita suka atau tidak semuanya tetap bermuara pada kebaikan untuk kita. Allah tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan tugas hamba adalah menjalankan dengan sebaik-baiknya perannya.

Meskipun seminar-seminar motivasi berbisnis semakin menjamur, tidak berarti menjadi pengusaha atau pebisnis itu pekerjaan terbaik dan menjadi karyawan adalah sebaliknya. Negara juga perlu diurus birokrat jujur, generasi bangsa juga perlu dididik guru-guru yang berdedikasi, sektor kesehatan membutuhkan tenaga kesehatan yang amanah, surat kabar dan televisi membutuhkan jurnalis-jurnalis hebat yang menulis dan menyiarkan berita secara berimbang, toko-toko buku perlu diisi dengan tulisan-tulisan bermutu sebagai gizi generai bangsa, bahkan bus; kereta; pesawat siapa yang mengoperasikan kalau semua jadi pengusaha. Setiap porsi ada kontribusinya dan kontribusi terbaik bisa kita beri saat kita mampu menyamankan diri dengan peran saat ini. 

Bersikap adaptif itu selalu berhubungan dengan pikiran yang terbuka. Maka selain bekerja, imbangi dengan melakukan hobi dan sesekali melakukan perjalanan/ traveling. Seringkali perjalanan menghadirkan sesuatu yang tak terduga, yang membuat kita mau tidak mau harus survive, beradaptasi dengan kondisi, dan lebih banyak bersyukur. Lalu kemudian bisa kita terapkan dalam keseharian, yang tidak melulu nyaman dan aman. Maka bangunlah setiap pagi dengan semangat. Berjuanglah di sektor kita dengan ikhlas, ummat membutuhkan kita, gaji yang berkah itu efek sampingnya. []

Se-PeDe Apa Kita?


Tahun 2018 menjadi tahun di mana saya banyak berkesempatan naik pesawat, yakni delapan kali terbang. Itu berarti saya juga mengalami delapan kali pesawat take off dan delapan kali pesawat landing. Dua kondisi kritis pesawat di mana penumpang wajib duduk tegak dan mengenakan sabuk pengaman, karena pesawat bergetar hebat dalam dua kondisi tersebut yang diistilahkan dengan critical eleven.

Maka mendengar berita jatuhnya pesawat Lion Air JT610 beberapa menit setelah take off, membuat saya merinding. Merasa bersyukur semua penerbangan saya kemarin aman dan tidak ada halangan apapun. Rahasia umur tidak ada yang tahu, tetapi di sisi lain kita sama-sama sadar mempunyai modal waktu sehari 24 jam.

Seorang wanita muda yang saya temui di antrean sebuah swalayan menyadarkan tentang bagaimana seharusnya mengisi waktu luang (sisa umur−red). Saat itu antrean kasir mengular. Pemandangan yang sering ditemui saat akhir pekan dan tanggal-tanggal setelah gajian. Satu customer rata-rata selesai terlayani dalam waktu 10−15 menit. Maka ketika kita ada di urutan nomor 9 dari antrean, kita harus rela berdiri 80−120 menit sampai tiba giliran kita. Di tengah antrean, wanita muda yang berdiri tepat di depan saya tersebut mengisi waktunya dengan membaca Al-Quran dengan suara lirih. Sebuah pemandangan langka dewasa ini, tapi cukup menohok.

Ketika di rata-rata banyak waktu yang kita habiskan untuk mengantre. Untuk berobat di Puskesmas, menabung di Bank, untuk berbelanja, untuk nyalon, sampai antre membeli tiket nonton di bioskop. Maka pilihan mengisi waktu luang saat mengantre untuk hal-hal berfaedah harus mulai kita pikirkan. Jatah masing-masing orang tetaplah 24 jam dan waktu tidak bisa kita tabung untuk bisa dipakai kemudian. Dan cukup percaya diri kah kita akan berumur panjang? []