Aku Memanggilnya, Ibuk!!

12:32 cinta kata 0 Comments




Ibuku adalah wanita desa yang bersahaja. Sejak usia taman kanak-kanak ia sudah menjadi seorang piatu. Nenekku yang tak lain ibu dari ibuku telah meninggal dunia meninggalkan seorang suami dan 5 orang anak. Ibuku adalah anak nomor tiga. Sepeninggal nenek, kakekku menikah lagi dan sibuk dengan rumah tangga barunya. Ibuku dan dua orang adiknya akhirnya di asuh oleh saudara jauh ibu. Walaupun saudara jauh, ternyata rumah mereka cukup dekat dengan rumah kakek beserta istri barunya.

Sebagai anak asuh, ibuku terbiasa dengan pekerjaan rumah. Waktu itu ibuku usia sekolah dasar kelas 5, ia bekerja serabutan di tempat tetanga. Karena waktu itu pekerjaan yang banyak tersedia adalah tukang jahit serabutan, maka ibu belajar menjahit secara otodidak. Beberapa kali tangannya terluka karena tidak sengaja justru tangannya yang ia jahit. Ia ingin mencari uang untuk melanjutkan sekolahnya. Kakek jarang sekali memberi uang untuk anak-anaknya. Di antara keempat saudaranya, ibuku adalah satu-satunya anak yang bisa sekolah sampai sekolah menengah atas. Ia sangat semangat dalam belajar dan aktif dalam beberapa organisasi. Jadilah ibuku sosok yang keras sekaligus lembut. Ia akan benar-benar keras ketika itu sudah menyangkut prinsipnya. Sebaliknya ia bisa menjadi sosok yang sangat humanis ketika melihat orang lain susah.

Seringkali rumahku kedatangan tetangga yang hendak meminjam uang kepada ibu. Ketika punya, maka ibu tidak akan tega untuk berkata tidak. Walaupun seringkali ada beberapa tetangga yang bahkan terus berkelit, enggan mengembalikan uang yang dipinjamnya. Ibu selalu mengajarkan bahwa kita tidak akan pernah rugi ketika memberi. Ibu selalu bilang bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur.

Saat itu usia ibu 22 tahun ketika menikah dengan bapak yang usianya 25 tahun. Keduanya diperkenalkan oleh teman bapak yan tak lain adalah sepupu dari ibu. Dari muda ibuku sangat menjaga pergaulannya dengan laki-laki. Ketika bapak sedang pe-de-ka-te, ibu tidak banyak mengobrol dengan bapak. Setelah beberapa lama mengenal ibu, mungkin karena sudah merasa cocok, bapak melamar ibu dan memboyong ibu ke Solo. Mereka pun menikah dan 1,5 tahun kemudian lahirlah anak pertama yang tak lain kakakku, seorang perempuan.

Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Tiga orang anak perempuan termasuk aku dan dua orang anak laki-laki. Dalam keluargaku ayah sebagai tulang punggung utama di keluarga. Ibu hanya membantu mengajar sekolah sore di Madrasah Diniyah dan tugas utamanya tetap sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaan ibu rumah tangga sungguh sangat mulia menurutku. Ia menjadi orang yang pertama bangun dan terakhir kali istirahat.

Ibuku adalah seseorang yang sangat tidak pandai dalam mengekspresikan rasa sayang kepada anak-anaknya. Ia tidak pernah memberi ciuman cipika-cipiki ketika kami berangkat sekolah. Itu hanya ibu lakukan saat kami masih balita, dan saat aku wisuda kemarin. Ibu juga sangat jarang memeluk kami, anak-anaknya. Rasa sayang ibu cukup ia tunjukkan dengan memasakkan kami makanan terbaik di dunia setiap hari, membuat rumah begitu bersih dan nyaman untuk kami, dan beribu perhatian yang sama porsinya untuk kami kelima anaknya. Ibu tidak akan tega membebani pekerjaan rumah yang banyak kepada anaknya. Kami cukup membantu sekadarnya dan melakukan yang terbaik untuk studi kami.  

Di usia ibu yang hampir setengah abad tahun ini, yaitu 49 tahun, ia tetap mampu menjadi sosok yang bersahaja sekaligus cemerlang. Dalam hal berkehidupan sosial dengan tetangga ibuku sangatlah luwes. Dengan profesinya sebagai guru Madrasah Diniyah, beliau berhasil menerapkan ilmu-ilmu yang di ajarkan dalam kehidupan yang dijalaninya. Ia menjadi penggerak untuk mencegah praktik riba di dalam pinjaman pertemuan PKK RT. Ibu dan seorang teman sebayanya yang juga tetanggaku adalah satu-satunya yang mampu memandikan jenazah di kampungku. Bisa dibilang seorang pengurus jenazah memang sangat sedikit dewasa ini. Dalam satu kelurahan saja hanya ada dua kelompok ibu-ibu yang mampu melakukannya, dan ibuku serta temannya itu adalah salah satu dari mereka.

Salah satu sifat ibuku adalah ia akan sangat menjaga kebersihan akidahnya. Ia sangat jarang menikmati event-event kota Solo yang berbau budaya. Takut terseret dalam praktik kemusyrikan, jelas beliau. Padahal tidak semua event seperti itu. Besar dilingkungan Muhammadiyah, menjadikan ibuku sangat sensitif dalam urusan agama yang menyangkut bid’ah. Ia akan sangat menentang dan mencoba menasihati tetanggaku yang masih mempraktikkan tahlilan misalnya.

Sekarang usiaku 23 tahun. Dua anak ibu, yaitu aku dan kakakku sudah berhasil menjadi seorang sarjana. Kami berdua juga sudah bekerja, jadi sedikit banyak sudah mengurangi beban kedua orangtuaku. Adikku yang tak lain anak ketiga dalam keluargaku juga sedang kuliah di Surabaya. Sementara adik keempat dan kelima masing-masing baru duduk di sekolah menengah pertama kelas VIII dan sekolah dasar kelas V.

Ibu selalu mengajarkan kepada kami berlima untuk menjaga kerukunan dengan sesama saudara, karena hakikatnya memang kami adalah satu darah. Ia sangat terlihat susah ketika melihat kami bertengkar. Tidak segan-segan pula memperlihatkan sisi keras beliau yang memang harus dikeluarkan untuk menghentikan kebandelan kami. Paling banter ibu akan mencubit kami dan sedikit mengomel (hehe...).

Ibu juga mengajarkan kami, sekecil apapun rejeki yang kami punya, kami harus ingat dengan kakak dan adik. Suatu hari bapak membeli roti, maka sebelum masing-masing mengambil seenaknya, ibu akan bertindak untuk membagi roti itu menjadi lima bagian sama banyak untuk kami berlima dengan terlebih dahulu mengambil untuk dirinya dan bagian bapak. Ketika salah satu dari kami sedang tidak ada di rumah, ibu akan menyisakan makanan itu dengan bagian yang sama besarnya dengan yang di rumah.

Seiring bertambah dewasanya kami, anak-anaknya, usia ibu juga akan menuju senja dengan pasti. Uban di kepala ibu aku lihat semakin banyak. Keriput di kulitnya juga semakin terlihat. Memberi kehidupan yang layak untuk ibu dan bapak adalah keniscayaan yang harus kami wujudkan. Meskipun masih saja diri ini sering tidak sengaja menyakiti pemilik hati yang lembut itu. Paling tidak dalam hati ini ada azzam untuk memuliakan ibu dan bapak di dunia dan akhirat serta memperbaiki bakti kami yang masih sangat jauh dari sempurna. Menjadi tabungan amal jariyah mereka kelak. Yang perlu dilakukan saat ini adalah kami saling mendukung untuk menggapai ridha-Nya. Tetaplah menjadi sosok ibu yang inspiratif, IBUK!!


0 komentar: