Faith

14:44 cinta kata 0 Comments


“Apa??? Lamaran dari cowok sebaik Bayu kau tolak Sar?” teriak Rani yang duduk di sebelah Sarah di sebuah sudut café milik Sarah.
“Iya, gak usah heboh gitu dong. Kalau jodoh juga gak ke mana. Kamu kan tahu, Ran, aku gak mungkin mendahului Kak Lana untuk menikah duluan. Aku gak ingin Kakakku satu-satunya itu merasa tersinggung.”
“Aku mau mengecek pembukuan hari ini. Kamu enak-enakin dulu kopi dan baca buku favoritmu itu ya temanku yang paling cantiik.” Sarah pun berlalu dan beralih di belakang meja kerjanya di salah satu ruangan café.
Sarah sebenarnya tidak benar-benar sedang mengecek pembukuan cafénya. Ia hanya ingin sendiri untuk beberapa saat. Sarah sadar bahwa dirinya baru saja menolak lamaran seorang Bayu yang juga sangat dicintainya. Ia pun terisak sendirian di ruang kerjanya.
            “Maafkan aku Bay, aku tidak bisa menerima lamaranmu sekarang. Aku tidak ingin menikah mendahului kakakku, kau kan tahu itu Bay?”
“Tapi sampai berapa lama lagi Sar aku harus menunggu untuk menyuntingmu? Apa di zaman modern ini kamu juga percaya dengan mitos bahwa kakakmu akan menjadi perawan tua kalau kau dahului? Jodoh setiap orang itu sudah ada garisnya.”
“Aku tidak sepenuhnya percaya itu. Aku hanya ingin menghormati perasaan Kak Lana. Itu saja.”
***
Di usianya yang ke-26, Sarah sudah terhitung sebagai pengusaha muda yang cukup sukses. Ia adalah owner sebuah café library. Sebuah tempat nongkrong sekaligus persewaan buku, di mana keduanya berada di satu tempat yang cozy. Hobi membaca yang dimilikinya ingin ia tularkan kepada masyarakat luas khususnya anak muda. Café JJ mulai dirintis Sarah sejak ia duduk di semester 3 jurusan manajemen. JJ adalah singkatan dari Journal of Journey, karena Sarah ingin menjadikan café JJ tempat singgah banyak orang.
Di Café JJ pula tempat pertemuan Sarah dengan Bayu. Saat itu hujan sangat lebat dan café menjadi tempat persinggahan yang tepat untuk berteduh. Saat itu pegawai Sarah belum sebanyak sekarang. Pengunjung yang membludak membuat Sarah cukup repot. Padahal kondisi tubuhnya kurang fit hari itu. Tiba-tiba saat selesai meletakkan pesanan di atas salah satu meja, Sarah jatuh pingsan.
Saat tersadar dari pingsannya, Sarah melihat sosok pangeran yang tengah memeriksa nadinya. Pangeran itu ternyata seorang dokter muda bernama Bayu. Sarah langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Setelah diperiksa ternyata tekanan darah Sarah drop. Berawal dari ucapan terima kasih kemudian tanya terkait resep obat, hubungan mereka kian dekat dan berkembang menjadi lebih dari teman.
Tidak ada prosesi tembak-menembak di antara mereka. Hubungan yang terjalin terus mengalir dan masing-masing dari mereka cukup tahu bahwa mereka saling mencintai dan mampu saling mengisi. Bayu adalah sosok cerdas yang mampu mengimbangi apapun topik diskusi yang diangkat Sarah. Keduanya sama-sama book addict dan pecinta traveling. Jadilah mereka sangat klop walaupun bukan dari background pendidikan yang sama.
Kini sudah tiga tahun Sarah mengenal Bayu. Ketika Bayu sudah lulus spesialis dan Sarah sudah begitu matang sebagai wanita, Bayu ingin segera meresmikan hubungan mereka. Ujungnya justru penolakan dari Sarah yang terjadi.
***
Sebenarnya Bayu sudah tahu kalau ujungnya akan seperti ini. Pernah ia mengobrol dengan ayah Sarah mengenai rencananya ini. Dengan tegas Bapak Subroto Aji, ayah Sarah, tidak menghendaki putri keduanya menikah mendahului putri pertamanya.  Keluarga Sarah adalah keluarga Jawa yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang. Dalam mitos yang beredar di masyarakat Jawa seorang adik perempuan tidak boleh menikah terlebih dahulu melangkahi kakak perempuannya. Jika itu dilanggar maka sang kakak akan menjadi perawan tua yang tak kunjung bertemu jodohnya.
Saat itu tidak sengaja Lana mendengar obrolan antara ayahnya dan Bayu. Ia merasa sangat bersalah karena menjadi penghalang pernikahan adik semata wayangnya. Lana adalah wanita Jawa modern yang tidak percaya dengan mitos. Ada alasan tersendiri mengapa ia belum bisa menjalin komitmen pernikahan dengan seorang pria. Di lain sisi meyakinkan orang tua yang sangat kolot sama saja dengan meniupkan udara kedalam balon yang bocor, tidak ada hasilnya.
Sebelumnya Lana adalah gadis yang ceria dan supel. Ia mempunyai banyak teman dan aktif di berbagai organisasi kampus. Ia pun menjadi gadis yang popular karena prestasi dan keaktifannya di organisasi. Sampai suatu ketika ia didekati seorang laki-laki bernama Ringgo.
Ringgo adalah presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampus tempat Lana belajar. Mereka pun akhirnya menjalin hubungan yang lebih dekat hingga masing-masing dari mereka lulus. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah.
Masalah pun datang. Subroto Aji, ayah Lana, menolak pernikahan tersebut. Ringgo adalah anak ketiga dalam keluarganya dan Lana adalah anak pertama di mana anak pertama dan ketiga tidak boleh menikah dalam tradisi Jawa. Jika itu dilaksanakan maka akan menimbulkan kesengsaraan dan kesialan.
Merasa sakit hati dengan tanggapan ayah Lana, Ringgo akhirnya mundur dan meninggalkan Lana begitu saja. Tidak berapa lama, Lana mendengar Ringgo telah menikah dengan gadis yang dijodohkan kedua orang tua Ringgo.
Sejak saat itu Lana memutuskan untuk menutup diri. Pekerjaan yang dilakoni Lana pun tidak banyak berhubungan dengan orang banyak. Ia bekerja sebagai editor lepas di beberapa penerbitan di Jawa. Ia adalah korban mitos yang dijunjung tinggi oleh orang tuanya sendiri. Ia pun tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria pun setelah Ringgo. Bagi Lana itu adalah bentuk protes dirinya kepada orang tuanya.
Tiba-tiba tanpa sadar air mata Lana menetes. Ia menyesalkan bahwa sang adik juga harus menjadi korban mitos karena kakaknya tak kunjung menikah. Dua tahun ini sebenarnya Lana mulai mau membuka diri. Ia mulai aktif dalam sebuah LSM . Pergaulannya pun juga semakin luas. Mau bagaimana lagi, kini usianya sudah 30 tahun dan ia belum mempunyai seorang calon suami yang mau menikahinya. Lana pun tidak bisa berbuat banyak untuk hal yang diluar kendalinya.
***
            “Saya terima nikah dan kawinnya Sarah Natasha binti Subroto Aji dengan seperangkat alat salat dan mas kawin tersebut tunai.”
            “Saaaah…,” ucap para hadirin kompak.
            Baru saja dalam sekali nafas, Bayu mengucapkan ijab qabul dengan sangat lancar. Sarah terlihat merona bahagia di samping Bayu.
            Di belakang pasangan pengantin baru itu, terlihat Lana menyeka air mata di sudut matanya. Lana bahagia melihat adiknya akhirnya bersatu dengan Bayu. Lana lalu menghampiri adiknya dan memeluknya dengan lembut.
            “Selamat ya, Dik! Kak Lana bahagia kok…,” lirih Lana di telinga Sarah.
            Sarah hanya bisa mengangguk diikuti isakan haru yang tiba-tiba tumpah begitu deras.
            Lana percaya bahwa tidak ada yang tertukar atas sebuah ketetapan. Ayah mereka, Subroto Aji, telah terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta setengah tahun lalu. Rokok yang menjadi teman sehari-hari Subroto Aji selama puluhan tahun telah merenggut sebagian besar paru-parunya.
Dulu, Lana terhalang untuk menikah karena dirinya adalah anak pertama yang jika menikah dengan anak ketiga ditakutkan akan membawa sial bagi keluarga. Orang dulu mengatakan bisa jadi kesialan itu dalam wujud meninggalnya anggota keluarga. Saat ini Lana masih gadis. Tidak ada yang tertukar atas sebuah ketetapan.
***
            “Apakah tempat duduk di samping Anda masih kosong,” seulas senyum menyapa Lana dengan hangat. Senyum yang terlalu manis yang pernah dilihat Lana.
            Lana menutup novel yang tengah dibacanya. Ia lalu mengangguk dan mempersilahkan pemilik senyum indah itu untuk duduk.
            Pemilik senyum indah itu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, Rega.”
“Lana.” Tangan kanan Lana menyambut uluran tangan Rega. Lana tersenyum tipis. Ia sedikit merasa asing karena jantungnya mulai berdetak lebih kencang setelah sekian lama tertidur. Desir jantung yang secara halus menyusupkan rasa bahagia yang indah.

***

0 komentar: