The Legend

10:57 cinta kata 0 Comments



         Ini tentang sosok penulis yang melegenda dalam sastra Barat. Tak ada yang menyangka, latar belakangnya adalah seorang dokter, tapi sayang praktiknya tidak laku. Pasien-pasien yang dirawatnya tidak betah. Entah mengapa ia pun tak tahu. Untuk mengobati kekecewaanya akibat tidak lakunya tempat dia praktik, menulislah ia. Kemudian ia mereka-reka tokoh. Terlahirlah sosok fiksi yang melengenda: Sherlock Holmes.

Uniknya, tokoh fiksi itu terinspirasi dari profesornya, John Bell, saat masih kuliah di Eidenburgh. A Study in Scarlet, muncul sebagai karyanya yang pertama. Kemudian menyusul sebagai yang kedua, A Sign of Four. Tapi itu semua tak laku. Tidak menggema dan kurang populer. Hingga akhirnya, dia menciptakan serial pendek The Adventure of Sherlock Holmes. Namanya langsung meledak, berkibar di tiang-tiang hati para pembaca.

Ia langsung menjadi legenda. Ia benar-benar selalu ditunggu. Saking meledaknya, Holmes bahkan lebih terkenal dari namanya sendiri. Bahkan, ada data yang menyebutkan bahwa ia, adalah penulis dengan bayaran tertinggi di dunia pada tahun 1920-an. Dokter yang gagal praktik tapi tersohor setelah menjadi penulis itu bernama Sir Arthur Conan Doyle.

Di Indonesia kita mengenal sosok legenda lain yang memerlukan waktu pengendapan 15 tahun dan 4 tahun untuk menyelesaikan sebuah novel yang melegenda, Ronggeng Dukuh Paruk. Ia sering menyingkat namanya AT, dan kita mengenal sosok penulis yang pernah jadi wartawan itu dengan nama Ahmad Tohari.

Ronggeng Dukuh Paruk bertema ndeso dan kaya akan wejangan kearifan lokal. Karya-karya AT mempunyai ruh humanis yang tinggi dan selalu menyentuh. Banyak kalangan yang jatuh cinta dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Tak tanggung-tanggung novel ini pun telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa, Jepang, Cina, Belanda, Jerman, dan Inggris.

Ide dan Inspirasi
Jika Sir Arthur Conan Doyle melegenda setelah terinspirasi dari profesornya, maka Ahmad Tohari menjadikan penghayatan terhadap lingkungan sebagai refleksi dari tulisannya. Lingkungan terdekat selalu bisa menjadi bank inspirasi. Karya mereka melegenda dan mampu menginspirasi jutaan generasi setelah mereka. Kali ini, kita belajar tentang satu pertanyaan: karya apa yang akan melegendakan kita?

Tersohor itu konsekuensi, tapi ini lebih pada refleksi; seberapa berani kita menantang diri untuk melompat lebih tinggi. Sebuah niat mulia untuk meninggalkan jejak bagi generasi setelah kita. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, maka berkarya dapat menjadi salah satu jalan kemanfaatan.

Seperti ungkapan Helvy Tiana Rosa berikut ini, “Saya ingin menulis untuk mencerahkan diri saya dan syukur-syukur untuk mencerahkan orang lain. Saya ingin menulis hal-hal yang bisa membuat orang bergerak ke arah yang lebih baik. Saya yakin menulis adalah pekerjaan penting sekali, seolah saya sedang memahat di antara abad yang berlari. Saya menulis agar hidup saya berarti, agar ada karya sebagai sejarah keberadaan saya di dunia ini.”

Kita menulis bukan semata untuk diri kita, tetapi juga demi kepentingan generasi berikutnya. Mereka butuh inspirasi, dan inspirasi selalu lebih mengena dan mereka percayai jika datang dari generasi sebelum mereka. Mereka butuh belajar banyak hal dari masa-masa yang berbeda dengan mereka. Kemudian mereka timang, bandingkan, kemudian mereka bagi lagi. Begitu seterusnya. Bukan hanya berbagi inspirasi, tapi kita juga menuai pahala, yang tak kenal henti, dari karya kita.


*)Dimuat di Majalah Nur Hidayah Edisi 102/Maret 2016/Jumadil Awal 1437 dalam rubrik Dunia Literasi. Semoga Bermanfaat!

0 komentar: