The Legend
Ini tentang sosok penulis yang melegenda dalam sastra Barat. Tak ada yang menyangka, latar belakangnya adalah seorang dokter, tapi sayang praktiknya tidak laku. Pasien-pasien yang dirawatnya tidak betah. Entah mengapa ia pun tak tahu. Untuk mengobati kekecewaanya akibat tidak lakunya tempat dia praktik, menulislah ia. Kemudian ia mereka-reka tokoh. Terlahirlah sosok fiksi yang melengenda: Sherlock Holmes.
Uniknya,
tokoh fiksi itu terinspirasi dari profesornya, John Bell, saat masih kuliah di
Eidenburgh. A Study in Scarlet, muncul sebagai karyanya yang
pertama. Kemudian menyusul sebagai yang kedua, A Sign of Four. Tapi
itu semua tak laku. Tidak menggema dan kurang populer. Hingga akhirnya, dia
menciptakan serial pendek The Adventure of Sherlock Holmes. Namanya langsung meledak, berkibar di tiang-tiang hati
para pembaca.
Ia
langsung menjadi legenda. Ia benar-benar selalu ditunggu. Saking meledaknya,
Holmes bahkan lebih terkenal dari namanya sendiri. Bahkan, ada data yang
menyebutkan bahwa ia, adalah penulis dengan bayaran tertinggi di dunia pada
tahun 1920-an. Dokter yang gagal praktik tapi tersohor setelah menjadi penulis
itu bernama Sir Arthur Conan Doyle.
Di Indonesia kita mengenal sosok legenda lain yang
memerlukan waktu pengendapan 15 tahun dan 4 tahun untuk menyelesaikan sebuah novel yang melegenda, Ronggeng Dukuh Paruk. Ia sering
menyingkat namanya AT, dan kita mengenal sosok penulis yang pernah jadi
wartawan itu dengan nama Ahmad Tohari.
Ronggeng Dukuh Paruk bertema ndeso dan kaya akan wejangan kearifan lokal. Karya-karya AT
mempunyai ruh humanis yang tinggi dan selalu menyentuh. Banyak kalangan yang
jatuh cinta dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Tak
tanggung-tanggung novel ini pun telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa,
Jepang, Cina, Belanda, Jerman, dan Inggris.
Ide dan Inspirasi
Jika
Sir Arthur Conan Doyle melegenda setelah terinspirasi dari profesornya, maka
Ahmad Tohari menjadikan penghayatan terhadap lingkungan sebagai refleksi dari
tulisannya. Lingkungan terdekat selalu bisa menjadi bank inspirasi. Karya mereka melegenda dan
mampu menginspirasi jutaan generasi setelah mereka. Kali ini, kita belajar tentang satu pertanyaan: karya
apa yang akan melegendakan kita?
Tersohor
itu konsekuensi, tapi ini lebih pada refleksi; seberapa berani kita menantang diri untuk melompat
lebih tinggi. Sebuah niat mulia untuk meninggalkan jejak bagi generasi setelah
kita. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, maka berkarya dapat menjadi salah satu jalan kemanfaatan.
Seperti ungkapan Helvy Tiana Rosa berikut ini, “Saya
ingin menulis untuk mencerahkan diri saya dan syukur-syukur untuk mencerahkan
orang lain. Saya ingin menulis hal-hal yang bisa membuat orang bergerak ke arah
yang lebih baik. Saya yakin menulis adalah pekerjaan penting sekali, seolah
saya sedang memahat di antara abad yang berlari. Saya menulis agar hidup saya
berarti, agar ada karya sebagai sejarah keberadaan saya di dunia ini.”
Kita menulis bukan
semata untuk diri kita, tetapi juga demi kepentingan generasi berikutnya. Mereka butuh
inspirasi, dan inspirasi selalu lebih mengena dan mereka percayai jika datang
dari generasi sebelum mereka. Mereka butuh belajar banyak hal dari masa-masa yang
berbeda dengan mereka. Kemudian mereka timang, bandingkan, kemudian mereka bagi
lagi. Begitu seterusnya. Bukan hanya berbagi inspirasi, tapi kita juga menuai
pahala, yang tak kenal henti, dari karya kita.
*)Dimuat di Majalah Nur Hidayah Edisi 102/Maret 2016/Jumadil Awal 1437 dalam rubrik Dunia Literasi. Semoga Bermanfaat!


0 komentar: