Pencuri Nasihat
Dalam salah satu episode novel Ayat-ayat cinta 2, Fahri merasa begitu ingin dinasihati oleh Mishbah. “Bah, tolong nasihati aku!” ucap Fahri. Lalu Mishbah pun memberi sebuah nasihat tentang “Jangan Menipu Allah”, yakni mengerjakan amal yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya namun menginginkan selain Allah. Mendengar nasihat Mishbah, air mata Fahri mengalir.
Keimanan yang ada dalam hati manusia sejatinya memang bersifat fluktuatif. Harus ada upaya untuk membuatnya stabil, salah satunya dengan siraman nasihat. Seorang kawan saya memutuskan untuk fokus membina remaja di daerahnya, setelah itu mewajibkan dirinya ikut taklim setiap hari. Ruhiyahnya harus dalam kondisi selalu penuh saat ia berazam membuat orang lain baik. Itu prinsip sederhana yang selalu ia jaga.
Energi postitif itu menular. Kalau secara pribadi saya lebih sering mencuri nasihat. Mengapa mencuri? Karena orang yang bersangkutan tidak tahu kalau saya sering mengambil nasihat darinya. Ada beberapa kenalan dan sahabat, baik di dunia maya maupun dunia nyata yang sering saya jadikan langganan pencurian. Saya sisihkan sebagian waktu untuk membaca status mereka di sosial media, yang nasihatnya selalu bernas. Atau saya sapa via whatsapp dan sesekali berkunjung ke rumahnya, ngobrol tentang hal-hal sederhana dan selalu nasihat berharganya keluar untuk kemudian saya simpan sebagai energi jiwa.
Setelah itu, dunia begitu terlihat berbeda. Dunia terlihat lebih luas dan menyenangkan. Permasalahan kita akan terlihat kecil dan diri menjadi lebih bersyukur. Teruslah menjadi nasihat bagi orang lain, melalui tutur kata, tulisan, bahkan sikap-sikap sederhanamu. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Asr:2−3) []

0 komentar: