Berhenti Sejenak

14:55 cinta kata 0 Comments





Ada seorang kenalan yang berprofesi sebagai psikolog. Ia mengaku setiap pagi ada sebuah aktivitas rutin yang  dilakukan saat datang di kantor. Ia akan datang lebih pagi dari yang lain, melaksanakan shalat dhuha, tilawah beberapa lembar, dan berdiam diri lama sekali. Setelah itu ia siap untuk memasang senyum sepanjang hari dan mendengarkan segala keluh kesah klien. Dari luar, ia seakan selalu ceria dan bebas masalah. 

Pernahkah membayangkan pekerjaan psikolog yang melayani konseling puluhan orang setiap harinya? Segala permasalahan, keluh kesah, dan berbagai energi negatif ia terima. Sebaliknya, ia harus membalas dengan menyalurkan energi positif agar klien bangkit atau setidaknya merasa lebih baik.

Paparan di awal tentang me time yang sifatnya relaksasi berupa shalat dan dzikir adalah kebutuhan manusiawi. Sangat indah ketika Islam memerintahkan pemeluknya untuk melaksanakan shalat minimal lima kali sehari, atau menjamin keberkahan waktu bagi siapa saja yang membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya. 

Islam menganjurkan pemeluknya untuk shalat dengan tuma’ninah (khusyuk), karena ada hikmah besar dibaliknya. Dalam ilmu psikologi, meditasi adalah cara relaksasi untuk menghindari stres. Misalnya, melakukan meditasi sambil berjalan (berjalan perlahan dengan perhatian tertuju pada otot dan tulang yang ikut bergerak pada saat berjalan. Maka, shalat menjadi meditasi terbaik karena pikiran akan lebih fresh, konsentrasi meningkat, dan masalah akan nampak begitu kecil karena ada unsur berserah diri pada Rabb.

Saat kita merasa semakin tertekan/ stress, bisa jadi kita jarang untuk berhenti sejenak atau lupa untuk sekadar menarik napas dalam-dalam. Terkadang seseorang butuh hening setelah setiap harinya bergelut dengan hidup yang penuh kebisingan. Hening dalam sujud-sujud panjangnya, dalam kebasahan lisan akan dzikir, dan lembaran-lembaran tilawah. 

0 komentar:

Sahabat Sholih

13:47 cinta kata 2 Comments


Saat forum iktikaf Ramadan kemarin, ada salah seorang kawan berujar, “Aku senang bisa berada di sini, di tengah orang-orang sholih.” Nikmat berkumpul dengan orang-orang sholih jelas perlu disyukuri. Ibnul Qayyim pernah menyampaikan bahwasannya kita akan mendapatkan enam hal saat berkumpul dengan orang-orang sholih, yakni keyakinan dalam perkara agama, menjadi ikhlas dalam beribadah, senantiasa berdzikir, mencintai akhirat, tawadhu’, dan ikhlas memberi nasihat.

Banyak orang yang di kemudian hari jarang mendapatkan forum-forum ilmu dengan orang-orang sholih, merindukan itu. Ada dua hal kecenderungan manusia, yakni berbuat makruf atau berbuat munkar. Jadi saat seseorang tidak disibukkan dengan kebaikan, secara otomatis ia sedang disibukkan dengan kebatilan. Maka lingkungan dan teman bisa menjadi cermin bagi kita. Sedang menjejak di mana kita?

Imam Hasan al-Bashri menasihatkan, ”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka bisa memberi syafaat (pertolongan) pada hari klamat.” Tentang syafaat seorang sahabat ini, Abu Said al-Khudri ra. meriwayatkan hadits yang panjang, Rasulullah saw. bersabda, “Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah  untuk  memperjuangkan hak saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon, “Wahai Rabb kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Lalu dikatakan, ‘Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.’ Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Orang-orang mukmin itu pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.” (HR Muslim)

Maka mengingat sahabat adalah ingat untuk menyebut mereka dalam doa-doa kita. Sahabat yang bersatu dalam naungan cinta-Nya, bersatu dalam ketaatan dan perjuangan, di mana ikatan dan cinta itu perlu dimohonkan untuk kuat dan kekal oleh Yang Maha Pemberi Petunjuk. [] 

2 komentar:

Cangkir Terakhir

16:16 cinta kata 0 Comments

Ilustrasi by Suryo Pct

Sudah senja ketika kutemukan alamatnya. Dua tanganku kini merasa perlu menautkan dua sisi resleting jaket. Dua jari kananku dengan cepat menarik tuas resleting ke atas, melindungiku dari dinginnya udara pedesaan di pelosok Jawa Tengah ini. Udara dingin serta aroma duka bersekongkol mewarnai suasana, menghinggapiku hingga kudukku meremang.

Bendera merah, lantunan ayat-ayat Al-quran, dan pelayat dengan busana nuansa gelap. Aku memang sedang berada di rumah duka. Di ruang utama rumah duka ini, terbujur kaku tubuh Mbak Rumi, putri sambung Kakekku. Kami sebaya, teman sekelas pula sejak SMP.

Dengan alasan sebaya itu, ia enggan kupanggil Bulik. Panggilan yg seharusnya kusematkan padanya sebagai anak dari wanita yang dinikahi Kakekku. Mbak Rumi juga terpaut usia cukup jauh dari Ibuku, putri semata wayang Kakek. Mbak Rumi, teman sekaligus keluarga yang lebih dari saudara kandung bagiku. Ia ikut dirawat Ibu sepeninggal Kakek dan Nenek.

"Darwis, kamu tidak segera menyolatkan Mbakyumu?" Ibu menepuk pundakku lembut. Menyadarkanku bahwa aku sedang duduk di depan jenazah Mbak Rumi.

Aku hampir tak mengenali tubuh Mbak Rumi. Sangat kecil untuk ukuran ideal seorang wanita, terlampau kecil malahan. Ibu mengatakan bahwa tubuh Mbak Rumi hanya tinggal tulang berbalut kulit. Tak berani kusingkap wajah di balik kafan itu. Biarlah kenangan semasa ia sehat saja yang perlu ku kenang.

Setelah kuambil wudhu, aku segera berdiri bersama jamaah lain yang hendak menyolatkan Mbak Rumi. Rangkaian takbir dan doa meluncur, mengiring saat-saat terakhir jasad Mbak Rumi berada di tengah-tengah kami.

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia.” Kuresapi setiap bacaan doa dengan sepenuh hati dan sepenuh keikhlasan melepasnya.

Maka sebelum senja benar-benar tumbang, jenazah Mbak Rumi siap dikebumikan. Kulihat Mas Herman, suami Mbak Rumi, nampak begitu kuyu. Di sampingnya ada dua anak laki-laki Mbak Rumi yang sudah beranjak remaja, Darma dan Danu. Kuamati Darma, putra sulungnya, lebih lama. 

Kami angkat keranda yang kelewat ringan itu. Letak makam yang hanya berjarak 200 meter dari rumah, membuat Mbak Rumi cukup diantar dengan kaki-kaki kami. Aku menoleh sebentar ke belakang, ada Ibu di sana bersama seorang anak perempuan usia dua tahun. Anak perempuan yang merupakan anak ketiga Mbak Rumi, Bianka namanya.

“Umur sakit Mbakyumu itu seumuran Bianka, Le.” Ibu menceritakan dalam telepon waktu itu, saat Mbak Rumi dirawat untuk kesekian kalinya di Rumah Sakit.

“Kasihan ya Rumi, kanker lambung itu berhasil menggerogotinya. Uangnya kurasa tak cukup untuk berobat.” Aku sedang membereskan kursi-kursi saat seorang tetangga mengucapkan itu kepada temannya.

“Hartanya keburu habis untuk khitanan si Danu, siapa suruh menghabiskan harta untuk pesta sebesar itu,” timpal temannya. Aku hampir saja menghampiri mereka, kalau saja Ibu tidak memanggilku. Menyuruh mereka untuk sedikit menjaga mulut. Menjaga aib mayit jelas sangat dianjurkan, terlebih tanah di makam Mbak Rumi masih basah.

 “Ini dari Mbakyumu.” Ibu menyerahkan sebuah bungkusan berwarna biru navy, berisi sepasang cangkir keramik putih. Aku tahu sepasang cangkir itu akan dikembalikan padaku. Tiba-tiba mataku mulai memanas. Tangis yang coba kutahan sejak mendengar kabar kepergian Mbak Rumi kini tak mampu lagi terbendung.
**

“Apakah kau suka?” Suara bening Mbak Rumi mengagetkanku. Aku sedang menulis sebuah roman sore itu, dua puluh tahun yang lalu.

“Tentu.” Aku menjawab pertanyaannya sambil mengangkat cangkir keramik berwarna putih, pemberiannya. Aku lalu menyodorkan cangkir lain yang serupa. Menyerahkannya pada Mbak Rumi dan membuatnya menemaniku menikmati sore bersama kopi dan roman yang masih menggantung ujung ceritanya. 

“Cangkir ini sangat sederhana, tapi terlihat begitu elegan. Seperti Mbak Rumi,” ucapku pada sosok sederhana di sampingku. 

Mbak Rumi hanya tersenyum tipis. Kakinya ia ayunkan sambil menghirup dan menyesap kopi dalam cangkir, perlahan. Kala itu, aku merasa berhasil menemukan inspirasi untuk menyelesaikan romanku. Meskipun kemudian kutahu, sampai sekarang pun roman itu tak pernah selesai.
**

“Darwis, bulan depan kamu harus pulang ke Jawa pokoknya.” Suara bening Mbak Rumi memenuhi gendang telingaku kala itu.

Kami memang sudah punya kehidupan masing-masing. Aku di Kalimantan dan Mbak Rumi di Jawa. Mbak Rumi dengan keluarganya yang bahagia bersama Mas Herman dan aku tentu saja masih membujang.

Ia mengabarkan kalau Danu, putra keduanya akan dikhitan. Akan ada pesta besar katanya. Hal yang tak dilakukan Mas Herman dan Mbak Rumi untuk Darma, si putra sulung. 
Hanya kukirim paket bingkisan untuk Danu. Bingkisan dengan kertas pembungkus berwarna biru navy, warna kesukaan kami. Aku memang tak menjanjikan untuk pulang kala itu.

Dari Ibu, hanya kudengar bahwa rumah Mb Rumi sudah berkeramik, dicat indah, dan ada pagar besi pula. Menghelat pesta khitanan besar-besaran adalah impian lain Mbak Rumi, itu yang diceritakan Ibu. Ada campur sari yang ditanggap tiga hari tiga malam. Seluruh desa diundang. Bahkan mendatangkan pelawak dari ibu kota pula. Kala itu ada sebersit perasaan, bahwa Mbak Rumi bukan seperti Mbak yang kukenal lagi.

Kabar berikutnya, sebenarnya tak terlalu mengagetkanku. Sumbangan yang didapat tak bisa menutup biaya perayaan khitanan. Pesta yang berbuntut hutang tentu sesuatu yang klise.

Dari episode itu semua kesulitan seakan menghampiri Mbak Rumi. Mas Herman kena PHK dan Mbak Rumi mulai sakit-sakitan. Satu kebahagiaan besar di tengah itu adalah lahirnya Bianka, anak perempuan yang diidam-idamkan.

Sayangnya, Mbak Rumi terlalu rapuh untuk mengasuh Bianka. Kanker lambung stadium lanjut ternyata tervonis untuk Mbak Rumi. Hingga tubuhnya menyusut drastis dalam dua tahun terakhir sebelum ajal menjemputnya.
**

Mencintai anak kakekku tentu hal yang tabu di masyarakat. Kami saling merasa nyaman dan bergantung satu sama lain. Menjadi teman dan tempat curhat Mbak Rumi, mungkin itu fungsiku kala itu.

Hingga suatu sore, saat Ibu tak di rumah. Saat dua cangkir keramik putih menjadi saksi gejolak masa muda kami. Cangkir terakhir yang kami nikmati bersama, sebelum tiga bulan kemudian Mas Herman melamar Mbak Rumi.

“Maaf telah membuatmu menanggung dosa masa lalu itu,” ucapku lebih pada diriku sendiri.

Aku ada di samping nisan Mbak Rumi saat ini. Menyapanya sebelum aku kembali ke Kalimantan. Aku di sini bersama seseorang yang diwasiatkannya padaku. Seseorang yang cukup memanggilku paman, tanpa perlu tahu masa lalu dibalik wasiat ini.

“Darma, ucapkan salam pada Ibumu. Kita akan berangkat setelah ini.” Aku berdiri mensejajari remaja lelaki, darah dagingku. 
***

Dimuat di Majalah Nur Hidayah edisi 120/September 2017 (dengan beberapa penyesuaian oleh Redaksi). 


"Cangkir Terakhir" adalah hasil belajar di Kelas Rumah Karya bersama Mbak Yulina Trihaningsih, dkk. Senang bisa mengenal dan belajar bersama kalian... Love you all ^^

0 komentar:

Gaya Hidup dan Ramalan Masa Depan

14:56 cinta kata 2 Comments


Beberapa waktu yang lalu, sosial media sedang tren dengan unggahan foto yang menampilkan wajah seseorang saat tua nanti dengan aplikasi android FaceApp. Manusia memang selalu penasaran tentang bagaimana gambaran masa depan nanti. Saat FaceApp bisa memprediksi bagaimana wajah kita saat tua nanti, di lain sisi kita pun bisa memprediksi kehidupan masa depan kita dengan menilik gaya hidup seperti apa yang kita jalani hari ini. 

Belum lama, saya mendapat kabar duka dari salah satu teman, ayahnya harus terlebih dahulu menghadap Sang Kuasa. Sang ayah divonis dokter menderita leukopenia, yakni rendahnya jumlah total sel darah putih (leukosit) dibanding nilai normal. Penyakit yang berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh seseorang. 

Usut punya usut penyebabnya adalah karena sang ayah mengkonsumsi obat sakit kepala dalam jangka panjang, selama puluhan tahun. Merasa pusing sedikit sang ayah akan minum obat itu, maka intensitas minum obat tersebut menjadi sangat sering. Sang ayah meninggal empat bulan kemudian setelah tervonis leukopenia.

Cerita lain tertutur dari seorang anggota DPRD. Selama dua periode menjabat sebagai anggota dewan, ia berada satu ruangan dengan para perokok aktif. Maka sepuluh tahun menjadi perokok pasif menghadiahi beliau jantung yang bermasalah. Setelah itu, ia tidak bisa melakukan aktivitas fisik yang berat dan tidak boleh terlalu capek. 
Usia 70 atau 80 tahun, seseorang bisa begitu bugar karena sejak muda ia menjaga pola makan dan olah raga teratur. Lihat saja petani-petani di desa yang masih begitu bugar di usia setengah abad lebih mereka. Ada juga sebaliknya, belum ada 50 tahun nafas sudah ngos-ngosan, persendian sering bermasalah, dan ancaman sakit jantung karena kolesterol tinggi.

Banyak yg bertanya seperti apa masa depan nanti? Sedikit banyak kita bisa mengintipnya dari pola hidup dan kebiasaan kita saat ini. Sebuah akumulasi gaya hidup yang akan dipetik buahnya nanti. []

2 komentar:

Yuk….Berkenalan dengan Cuaca!

15:28 cinta kata 0 Comments


Judul               : [Serial Cerita Cuaca] – Sinar Matahari – Awan − Hujan – Angin – Petir − Salju
Penulis             : FiFadila
Ilustrator         : Adipagi
Penyunting      : Yenni Saputri
Penerbit           : Tiga Ananda 
Tahun              : Cetakan I, Maret 2017
Tebal               : 36 halaman

Pembelajaran sains jelas perlu dikenalkan kepada anak sejak dini, terlebih pengenalan terhadap alam sekitar dan gejala alam. Anak akan terbantu untuk mengenal dan cinta terhadap alam sekitar sekaligus menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Orang tua perlu membekali diri tentang pengetahuan alam dasar juga tentang fenomena alam sehari-hari. Sehingga tidak akan mati kutu saat anak bertanya, Gimana hujan bisa terjadi? Apakah Hujan asalnya sama dengan salju? Apa itu petir? Kenapa matahari kadang hangat kadang juga begitu menyengat? Dsb.

Buku Seri Cerita Cuaca karangan Kak FiFadila menjadi salah satu alternatif bagi orang tua untuk mengenalkan cuaca kepada anak, tentunya dengan cara menyenangkan. Buku 36 halaman ini sarat pengetahuan, disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami anak, dan anak akan bersemangat membaca karena suguhan ilustrasi yang mendukung isi.

Ada enam buku dalam Seri Cerita Cuaca terbitan Tiga Ananda ini, ada Sinar Matahari – Awan − Hujan – Angin – Petir – Salju. Wuiiih…dijamin anak-anak akan betah membaca dan bertambah luas wawasan tentang alam terkhusus cuaca.

Penulis menyajikan si Cuaca sebagai tokoh utama dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Misalnya, dalam seri Salju, “Brr…hawanya dingin sekali…. Padang rumput mendadak berselimut putih. Siapa yang mengecatnya??? Olala itu bukan warna cat. Tapi… itu aku, Salju. Sebenarnya aku sebening Kristal lho….” (Halaman 4 dan 7).

Kita intip sedikit yaa bukunya!


Secara langsung anak-anak seperti berdialog dengan cuaca yang ia baca. Buku ini dilengkapi pula dengan kamus kecil berisi istilah-istilah khusus tentang cuaca. Di bagian akhir buku terdapat aktivitas bersama orang tua tentang percobaan sains sederhana yang bisa dipraktikkan di rumah. Dijamin seru!


Saya secara khusus mengajak anak-anak tetangga (karena memang belum bisa ngajak anak sendiri….hihihi…)— yang notabene memang anak murid saya juga di madrasah diniyah untuk membaca Seri Cerita Cuaca. Walhasil mereka sangat antusias dan dengan telaten melahap buku sampai halaman terakhir.  








Tunggu apalagi, segera lengkapi keenam bukunya dan kita bisa belajar sains dengan menyenangkan. Kita pun jadi tahu ternyata Allah Swt. begitu Maha Besar yaa mengatur alam ini sedemikian rupa.  Boleh lho kepoin fb penulisnya langsung, Kak Fifa Dila.  ^^


0 komentar:

Keberanian dan Keluguan Si Kembar di Negeri Pastry

13:38 cinta kata 0 Comments


Judul Buku      : Petualangan Dafin dan Dafina Si Kembar Di Negeri Pastry
Penulis             : Deasylawati P.
Tebal               : 128 hlm.
Penerbit           : Pro-Kids
Tahun Terbit    : 2017
ISBN               : 978-602-60290-1-0
Harga              : Rp.42.000,-

Setiap anak suka dengan petualangan. Kebanyakan anak juga gemar menemukan dan melakukan hal-hal baru. Novel Petualangan Dafin dan Dafina Si Kembar Di Negeri Pastry menyuguhkan petualangan seru si kembar, Dafin dan Dafina.
Mereka berdua tinggal di Negeri Pastry. Sebuah negeri tempat semua makanan kecil yang ada di seluruh dunia dibuat. Sekolahnya saja sudah mengajari mereka untuk bisa dan pandai memasak makanan sendiri sejak kecil. Ada Patty’s Garden (TK), Patty’s Elementary (SD), Patty’s High (Sekolah Menengah), dan Academy Patisseries/ Management Academy Pattiseries. Si kembar adalah siswa baru di Patty’s Garden.
Novel ini menghadirkan serunya tinggal di Negeri Pastry, Dafin dan Dafina yang senang bermain peran, Dafin yang sangat suka makan, Dafina yang jahil, serta kehangatan keluarga si kembar. Klimaksnya adalah saat Dafin dan Dafina mengumpulkan persenjataan dan melawan lelaki asing mencurigakan di sekolah. Petualangan mereka pun dimulai.
Seperti kutipan berikut ini, 'Saat Fina sedang asyik-asyiknya memecahkan telurnya yang kelima, tiba-tiba Dafin berbisik serius pada Fina. "Na..., kayaknya ada penculik beneran, deh! Ituuu, di luar pagar. Pakai topi jerami, mukanya kotor bercambang. Dan Dia sedang mengawasi kita!" (halaman 59)
Novel ini juga disisipi doa sehari-hari beserta artinya, ilustrasi yang membuat cerita semakin hidup, juga pengetahuan umum seputar kue, resep praktis yang bisa dibikin anak-anak, serta kamus gizi. Keberanian serta keluguan si kembar mewarnai keseluruhan cerita. Novel yang kaya dan menambah wawasan anak-anak tentang kue dan bagaimana menghadapi orang asing. []

0 komentar:

Senyum Matahari

13:07 cinta kata 0 Comments

Bulir keringat jatuh satu-satu dari kening, punggung, dan leher kami. Setiap hari kutemani Matahariku menjemput surya kala ia terbit. Hingga kami jemput peluh dan vitamin D, menguatkan Matahariku. Kubelai lembut kepala Matahari yang tak berambut lalu ingatanku terlempar pada dialog tiga tahun lalu di ruangan serba putih itu.
“Rambutnya akan mulai rontok dan menipis hingga tak ada lagi rambut yang tumbuh di kepalanya. Kulitnya akan cepat mengeriput, tulangnya akan cepat mengeropos, gigi yang tanggal dengan cepat, dan hal-hal yang dialami orang usia lanjut,” jelas Dokter Faras dikunjungan kami yang ketiga.
Sekokoh apapun dinding seorang Ibu, ia akan tetap terguncang dengan kabar serupa petir itu. Kala itu Matahari belum genap dua tahun. Tahun pertamanya memang tak secemerlang pertumbuhan anak-anak di usianya. “Setiap anak kan beda Mas, ia akan tumbuh dengan kemampuan masing-masing,” tuturku kepada Mas Dayat ketika Matahari belum juga tengkurap di usianya yang sudah lima bulan.
Giginya juga lambat tumbuh, berjalan pun ia masih tertatih, dan berat badan Matahari perlahan menyusut sejak ia menginjak 22 bulan. Dokter Faras lalu melakukan observasi dan dikunjungan kami ketiga kabar yang bagai sambaran petir itu mengoyak kekokohan jiwaku dan tak ku nyana mengguncang Mas Dayat lebih dahsyat.
Kami namai ia Matahari Adyatma, yang berarti Matahari sebagai anugerah terindah. Bagi Mas Dayat itu bermakna sebaliknya kini.
“Anak dengan vonis progeria kebanyakan hanya bertahan di usia remaja mereka.” Perkataan Dokter Faras terus terngiang jelas.
“Dari dua juta anak, Matahariku yang dipilih Tuhan. Seberapa istimewa kami sehingga Tuhan menguji kami seperti ini?” batinku mulai menghujat. Dan dari ketidakterimaan itu, justru guncangan yang diterima Mas Dayat tak kunjung surut hingga progeria menemani Matahari di usianya yang kelima.
 “Mas berangkat dulu.” Kukecup punggung tangannya. Mata Mas Dayat lalu lurus memandang detak jarum jam di tangan kirinya. Tak sedikit pun Mas Dayat mengindahkan kehadiran Matahari yang sedang terlelap.
Mas Dayat menjadikan kerja sebagai pelarian. Mas Dayat memutuskan meneruskan bisnis keluarga. Jarak tempat kerja dan tempat tinggal kami terpisah ratusan kilometer. Itu yang membuat Mas Dayat pulang sepekan atau dua pekan sekali. Ada yang Mas Dayat hindari.
Padahal Matahari hadir tidak untuk dicap lemah. Meski bertumbuh dengan lambat dan cepat melemah, Matahari selalu tersenyum bagai matahari pagi yang hangat. Matahari yang gemar membaca, Matahari yang gemar bercerita, Matahari yang hangat menyapa setiap tetangga, dan Matahari yang ringan berbagi.
“Maaah...Matahari sudah selesai.” Suara melengking Matahari mengagetkanku. Ia sodorkan buku dongeng terbaru hadiah ulang tahunnya yang kelima. Kuterima dengan senyum terindah dan kutagih padanya isi dongeng yang baru saja dilahapnya.
 “Seandainya kau mau meminjamkan telingamu dan ragamu barang sejenak, Mas. Tuntutan dan tekanan yang coba kau hindari selama ini bisa kau tepis dengan kebahagiaan melihat senyum Matahari,” batinku getir.
“Apakah Rosi tak bisa hamil lagi?” Pertanyaan itu kudengar saat kami berkunjung ke rumah orang tua Mas Dayat.
Di balik pintu kulihat Mas Dayat menggeleng. “Kehamilan di atas usia empat puluh tahun terlalu beresiko, Pah.”
 Matahari berusia tiga tahun kala itu dan aku sudah 41 tahun. Menikah di usia yang terlampau matang, yakni di usia 37 begitu rawan bagi kaum hawa. Maka saat Matahari hadir di tahun pertama kami menikah itu betul-betul anugerah besar. 
***
            Bumi berputar begitu juga dengan waktu. Kehidupan berputar begitu juga dengan titipan kemegahan.
“Bismillahir rahmaanir rahiim.....alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.....arrahmaanir rahiim...Aku urung masuk saat mendengar suara melengking Matahari memenuhi ruangan serba putih dengan selang infus yang menghiasi sisi ranjang kelas VIP itu.
Matahari tak sakit apalagi terbaring dengan selang infus yang menempel. Ia hanya mengulang hafalannya untuk lelaki yang ia panggil Opa. Lelaki yang tak lain ayah Mas Dayat yang oleh Tuhan baru saja dilepas titipan kemegahannya. Syok membuat Ayah mertuaku ambruk dan dua pekan ini dirawat. Stroke berhasil melumpuhkan motorik sebelah kanan dari tubuh Ayah.
            Tuhan memutuskan bisnis keluarga surut seketika. Bisnis yang sudah dibangun puluhan tahun harus kandas. Bisnis yang digadang-gadang harus memiliki penerus. Penerus  trah yang dituntut dari seorang anak tunggal bernama Dayat. Tuntutan yang begitu Mas Dayat hindari yang kemudian membuatnya menghindari Matahariku.
“Kriieeet...” Tiga pasang mata menoleh saat kudorong pintu, kecuali pandang ayah mertuaku.
            Dengan kedua mata berkaca-kaca ia mengisyaratkan Matahari untuk melanjutkan bacaan Al-Fatihah yang sempat terhenti kala aku masuk tadi. Kulihat Mas Dayat balik badan, dan mendongakkan kepala dengan tangis tertahan.
***
Tangan hangat nan kokoh itu mulai menggenggam tangan Matahari. Mereka saling bertukar senyum lalu dalam hitungan detik yang sama menoleh tepat di inti mataku. Aku mengangguk tapi tak bergerak dari posisi, bergeming. Kuhitung dan kupindai setiap inchi paras Matahari.
Aku nikmati surya yang mulai menghangat di wajahnya, seperti juga kedua mataku yang mulai menelaga. Detik selanjutnya punggung tanganku berhasil menepis tumpahnya air bening dari telaga di mataku.
Tiga pasang kaki kami kini berjalan beriringan tentu saja dengan Matahari berada di tengah. Tangan kanan Matahari kugenggam erat sekaligus lembut. Kurasai kulitnya yang lebih keriput dari kulitku. Dan langkah pelan Matahari yang harus kami sejajari dengan irama yang sama.
Sambil berjalan, Matahari mulai mendongeng tentang Pangeran Kecil dan lebah madu. Gigi yang tidak lengkap membuat Matahari begitu menggemaskan saat tertawa lepas. Kuamati kerut di wajahnya yang bertambah saat ia melengkungkan bibir dan kedua matanya.
“Auuw,” kurasai sesuatu yang mungil tengah menendang-nendang dalam perut.
“Kau tak apa?” Wajah Mas Dayat sedikit pias.
Aku tersenyum sambil menggeleng. “Seperti kata dokter kemarin, aku dan si adek baik-baik saja Mas. Mungkin ia terlalu antusias mendengar cerita kakaknya.”
Matahariku lalu tersenyum indah sekali. [] 

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Dimuat dalam Majalah Nur Hidayah Edisi 116/ Mei 2017



0 komentar:

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

14:00 cinta kata 0 Comments


Ada seorang kawan yang lama tinggal di Arab Saudi. Ia memiliki stigma awal bahwa orang-orang Arab itu malas-malas. Di sana ia menjadi manajer yang membawahi beberapa staf, ada orang Yaman, India, dan Arab. Suatu hari staf yang orang Arab tidak masuk kerja tanpa kabar yang jelas. Staf tersebut masih muda dan tinggal bersama orang tuanya.

Si manajer lalu menelepon anak muda tersebut, menanyakan kenapa dia tidak masuk. Si pemuda menjawab badannya agak kurang sehat, meskipun begitu sebenarnya masih kuat untuk ke kantor. Mendengar jawaban pemuda tersebut, sang manajer meminta agar si pemuda masuk karena hari itu ia sangat membutuhkan kehadiran si pemuda. 

Dengan sangat sopan tapi yakin dia menjawab, tidak diizinkan oleh ibunya. “Maaf Boss, saya lebih baik dipecat Anda, daripada saya melawan keinginan ibu saya, beliau memaksa saya untuk istirahat dan tidak berangkat, buat apa kerja kalau tidak didoakan ibu saya.” Jawaban yang berhasil menampar manajer asal Indonesia itu. Kalau di Indonesia, permintaan ibu seperti itu tidak akan dianggap, malah kebanyakan akan memarahi ibu, protes menentang permintaan itu.

Hal lain, dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Arab memang cenderung santai saat bekerja. Jam 9 masuk kerja, jam 10 sudah keluar kantor, ngopi-ngopi dulu, pekerjaan bisa berhari hari selesai, dan lain sebagainya. Tapi saat Dhuha dan adzan shalat berkumandang, mereka bergegas untuk pergi ke Masjid, tidak ada kompromi, walaupan sedang rapat/ meeting, mengerjakan sesuatu. Tidak ada tawar menawar, saat waktu shalat orang-orang Arab sudah menghilang pergi ke masjid. 

Pekerjaan bukanlah sesuatu yang utama buat mereka, mereka sangat meyakini sekali rezeki itu dari Allah, kadang bekerja itu bagi mereka hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk menunggu waktu shalat, sangat kental sekali bagaimana mereka itu benar-benar mengutamakan shalat.

Seperti saat beberapa waktu yang lalu Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al-Saud meninggalkan Obama di tengah-tengah pertemuan mereka, karena waktu Ashar sudah tiba. Raja Salman adalah muslim yang taat, memilih segera shalat pada waktunya karena itu amat dicintai Allah. Maka pantaslah jika Allah begitu mencintai bangsa Arab karena pemimpin dan rakyatnya sama-sama memilih apa yang dicintai Allah: shalat pada waktunya dan mengutamakan berbuat baik kepada Ayah dan Ibu. [] 

0 komentar:

Menikmati Kesyahduan Situ Patenggang Ciwidey

10:26 cinta kata 0 Comments


Situ Patenggang adalah sebuah danau di bagian selatan Kabupaten Bandung, terletak di sebuah desa bernama Patengan. Desa ini adalah bagian dari wilayah administratif Kecamatan Rancabali yang lokasinya berada di bawah kaki Gunung Patuha, sebuah Gunung yang sangat erat kaitannya dengan objek wisata Kawah Putih. 

Berada di ketinggian 1600 m di atas permukaan laut, Situ Patenggang, dikelilingi perkebunan teh PTPN VIII Rancabali dan di seberangnya terdapat hutan yang masih alami. Di tempat ini kamu dapat menikmati tenangnya air danau, udara sejuk, serta kabut tipis yang membuat suasana semakin syahdu.



Situ Patenggang menjadi salah satu objek wisata menarik dan populer di Bandung. Awalnya, Situ (danau) ini adalah bagian dari cagar alam atau taman nasional seperti cagar alam lain yang ada di Indonesia. Namun, pada tahun 1981 terjadi sebuah pengembangan yang sangat besar hingga akhirnya menjadi taman wisata alam. 

Nama populer yang digunakan sebagai nama danau ini sebenarnya ada dua, pertama yaitu “Situ Patengan” dan yang kedua adalah “Situ Patenggang”. Kedua nama tersebut memiliki filosofi yang menunjukan identitas situ (danau) dan saling berkaitan. Apabila wisatawan menyebutnya “Situ Patengan” hal ini mengacu kepada nama desa dimana danau ini berada. Nama “Patengan” berasal dari bahasa Sunda “Pateangan” yang artinya saling mencari. Sedangkan nama “Patenggang” sendiri yang juga dari bahasa Sunda yang artinya terpisah dari jarah ataupun waktu. 


Konon, kedua nama di atas menceritakan sebuah kisah sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis. Ki Santang adalah keponakan dari Prabu Siliwangi, seorang raja Padjajaran yang arif dan bijaksana. Sedangkan Dewi Rengganis adalah seorang gadis desa yang hidup di sebuah pegunungan. Keduanya memiliki ikatan kasih yang sangat kuat namun terpisah oleh jarak dan waktu (konon mereka terpisah akibat peperangan yang sangat lama). Perasaan dan kasih sayang yang begitu besar antara keduanya, membuat mereka berupaya untuk saling mencari, hingga pada suatu hari dipertemukan di sebuah batu besar. Batu tersebut dinamakan Batu Cinta. 

Setelah pertemuan itu, singkat cerita Rengganis meminta Ki Santang untuk dibuatkan sebuah danau di mana terdapat pulau kecil di tengahnya. Karena cinta Ki Santang yang begitu mendalam, akhirnya ia mengabulkan permintaan Dewi Rengganis. Sekarang daratan kecil ini bernama pulau Sasuka atau dalam bahasa Indonesia bernama Pulau Asmara.



Jika pengunjung ingin menyusuri danau yang indah tersebut dan melihat Batu Cinta, objek wisata Situ Patenggang juga telah di menyediakan sebuah perahu. Kita bisa menyewa perahu tersebut untuk mengelilingi danau dan mendarat ditengah pulau.

Situ Patenggang buka setiap hari. Pengelola memasang tarif Rp 18.000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 135.000,- untuk wisatawan mancanegara di Hari Senin-Jumat dan masing-masing Rp 20.500,- dan Rp 185.000,- di akhir pekan. Pengunjung juga bisa membeli makanan khas Bandung dan berbagai cinderamata yang dijual di sekeliling lokasi. 

Untuk menuju lokasi Situ Patenggang, dari Stasiun KA Bandung, kita harus naik angkot dengan jurusan Kebon Kelapa, lalu lanjut naik angkot yang melewati Terminal Leuwipanjang.

Saat ini, Situ Patenggang Ciwidey dikelola oleh PTPN VIII, kawasan Bandung Selatan. Pengembangan demi pengembangan termasuk perbaikan sarana transportasi serta fasilitas pendukung wisata seperti penginapan, sarana ibadah, rumah makan, tempat penjualan cinderamata, tempat parkir, gazebo/shelter, perahu, dan lain-lain yang sampai saat ini terus dilengkapi. Untuk kebersihan, seluruh area bebas dari polusi udara dan sampah apalagi limbah kimia. []



0 komentar:

Kasih Sepanjang Jalan vs Sepanjang Penggalan

09:54 cinta kata 0 Comments


Ada seorang ibu yang divonis dokter mengidap kanker payudara. Ia seorang janda yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tidak hanya di satu tempat ia mengais rezeki. Setiap harinya, ia mengayuh sepeda mendatangi beberapa rumah untuk membantu sang tuan membersihkan rumah, mencuci baju, atau sekadar menyetrika baju.

Ia tidak pernah merasa ingin menyerah dengan penyakitnya atau dengan kerasnya hidup yang dijalani. Hingga dua buah hatinya berhasil ia biayai hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia pun rela menunda pengobatannya karena konsekuensi setelah operasi mengharuskan pasien istirahat total. Kedua anaknya masing-masing kini sudah bekerja.

Sel kanker terus berkembang sampai tubuhnya tak mau lagi berkompromi. Ia mencapai titik kanker stadium 4. Ia semakin sering pingsan dan akhirnya memutuskan untuk segera operasi.

Beruntung karena pemerintah memfasilitasinya operasi tanpa biaya. Itupun ia harus berjuang, bolak-balik ke rumah sakit yang berjarak 7 km dengan sepeda. Tubuhnya ringkih dan usianya yang setengah abad membuat ia pingsan kelelahan ketika sampai di Rumah Sakit. 

Hari di mana ia dijadwalkan operasi, sang ibu masih sempat memasak untuk kedua anaknya. Lalu ia berangkat sendiri ke Rumah Sakit, dengan sepeda kesayangannya. Sendirian! Operasi berjalan lancar. Setelah operasi, ia pun tak ditemani anak-anaknya, hanya kerabat dan tetangga yang datang menjenguk.

Anak-anaknya merasa harus tetap bekerja bahkan di hari sang ibu operasi. Untung tidak terjadi apa-apa pada saat operasi. Barangkali mereka beranggapan bahwa sang ibu pasti bisa mengatasinya sendiri, seperti biasanya.

Kini sang ibu harus istirahat total selama beberapa bulan. Jahitan operasi bisa robek ketika ia memaksa bekerja. Ibu itu hanya berharap anak-anaknya mau menanggung hidupnya selama masa pemulihan pasca operasi. Seperti ibu-ibu lain, ia tak mengharap balasan anak-anaknya atas kasih sayang yang diberikan, bahkan sejak dalam kandungan. []

0 komentar:

Menilik “Robohnya Surau Kami”

13:13 cinta kata 0 Comments


Tersebutlah tokoh bernama Haji Saleh. Di akhirat Tuhan memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Haji Saleh tersenyum percaya diri. Ia yakin masuk surga lantaran merasa amalan yang dibawanya sangat banyak. Ketika ditanya oleh Tuhan, Haji Saleh menjawab bahwa pekerjaannya di dunia adalah beribadah menyembah-Nya, setiap hari, setiap malam, dan setiap masa. 

Oleh Tuhan, malaikat diperintahkan untuk memasukkan Haji Saleh ke neraka. Alangkah tercengang Haji Saleh karena semua orang yang dilihatnya tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Bahkan ada seorang yang sudah 14x ke Makkah dan bergelar syekh pula.

Singkat cerita Haji Saleh dan teman-temannya menghadap Tuhan, berharap Tuhan memang salah atas keputusan-Nya. Haji Saleh lalu menceritakan bahwa mereka berasal dari sebuah negeri bernama Indonesia. Negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa disiram. Negeri subur yang justru penduduknya sendiri melarat dan lama diperbudak orang lain.

“Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala,” terang Haji Saleh.

Lalu Tuhan menimpali dengan murka, “Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya bukan? Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Kau lebih suka beribadah saja, karena beribadah tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah, hingga kerjamu memuji-muji dan menyembahku saja!” Oleh malaikat mereka pun dilempar kembali ke neraka. (Robohnya Surau Kami, A.A. Navis)

Kita belajar bahwa menjadi shalih saja tidak cukup. Ber-amar ma’ruf nahi munkar, bermuamalah, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan di dunia itu yang terpenting. Menjadi orang sholih yang men-sholihkan.[]



0 komentar:

Pesona Pantai Wediombo

16:08 cinta kata 0 Comments



Gunungkidul mempunyai pesona tersendiri bagi semua pelancong yang haus akan keindahan alam pantai. Berada di tenggara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kabupaten Gunungkidul menyimpan gugusan pantai yang jumlahnya mencapai 69 pantai. Gugusan pantai itu tersebar dari ujung timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan ujung barat berbatasan dengan Kabupaten Bantul.

Pantai Wediombo adalah salah satu di antaranya. Dengan hamparan pasir putih dengan bibir pantai yang cukup luas ditambah adanya kolam alami atau laguna, rasanya sulit untuk tidak tertarik mendatanginya. Laguna di Pantai Wediombo terbentuk secara alami dari susuan batu karang yang membentuk sebuah kolam dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Laguna ini menjadi salah satu alternatif yang aman bagi pengunjung yang ingin sekali mandi di air laut.

Terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, nama Wediombo sendiri diambil dari bahasa jawa yang memiliki arti pasir (wedi) luas (ombo). Bentuk Pantai Wediombo menyerupai teluk yang lebar. Batu karang besar mengapit di sisi kanan dan kiri dan air lautnya menjorok ke daratan.

Selain memiliki kolam yang unik, Pantai Wediombo menjadi spot menarik untuk mengabadikan momen sunset. Dengan posisi pantai yang hampir sempurna menghadap ke barat, dengan sebuah tebing karang menjulang agak menjorok ke laut, membuat sunset di Pantai Wediombo kian indah. Deretan bebatuan vulkanis membentuk gugusan karang nan kokoh di hampir sepanjang bibir Pantai Wediombo. Anda akan menemukan surga dunia bernilai eksotis yang tersembunyi di sini. Berbagai sudut angle foto yang Anda ambil dapat dipastikan akan nampak bagus.

Bisa Snorkling dan Surfing
Pengunjung dapat memilih menikmati mandi dengan aman di laguna atau menyelam. Di sini Anda dapat menemukan fasilitas untuk menyelam (snorkling) atau berselancar (surfing) dengan bantuan pemandu. Pantai Wediombo sebagaimana ciri khas laut selatan mempunyai ombak yang besar dan tingginya mencapai 4 meter.

Untuk diketahui, Pantai Wediombo ini berada di bawah permukaan rata-rata tanah. Pengunjung harus menuruni puluhan anak tangga untuk mencapai lokasi pantai. Dan di akhir turunan Anda akan dimanjakan oleh pesona keindahan Pantai Wediombo. Panorama ini dapat dinikmati dengan leluasa begitu Anda menginjakkan kaki di hamparan pasir putih. Bagi Anda yang hobi memancing, berkunjung ke pantai ini bisa memenuhi kepuasan Anda mancing sekaligus menikmati deburan ombak bersama keluarga atau teman-teman.

Lokasi Pantai Wediombo yang berjarak sekitar 75 km dari pusat kota Yogyakarta, dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan. Dari kota Yogyakarta Anda bisa mengambil jalan ke arah Wonosari. Setelah melewati pasar Wonosari. Hingga bertemu pertigaan pasar Jepitu, dari situ Anda sudah bisa menemui petunjuk arah ke Pantai Wediombo.

Tips bagi pengunjung di pantai ini sebaiknya tidak menggunakan sandal jepit, jalan yang tidak rata serta berbatu menjadi alasan utama. Harga tiket masuk ke pantai Wediombo cukup murah, hanya Rp 5.000. Menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewa sangat disarankan bagi para pengunjung. Selain lebih efisien, kendaraan umum/angkot di sana hanya bisa mengantar Anda sampai Tepus, masih cukup jauh untuk berjalan ke arah pantai.

Fasilitas di pantai ini lumayan baik. Toilet dan kamar mandi yang tersedia bersih dan terawat. Bagi muslim juga disediakan mushola dan juga perlengkapan shalat oleh pengelola. Di sana juga banyak warung makan yang menyajikan beraneka menu dan masakan ikan laut. Anda bisa mencicipi makanan khas Gunung Kidul seperti tiwul dan belalang goreng karena di sana juga tersedia.

Jika Anda ingin bersantai menghabiskan beberapa hari di pantai Wedi Ombo ini sudah tersedia penginapan. Atau jika ingin menikmati pengalaman yang berbeda bisa juga camping di area Pantai Wediombo. Ada persewaan untuk camping di akhir pekan. Selamat jalan-jalan, selamat menikmati anugerah Allah terindah.










0 komentar: