Berhenti Sejenak

14:55 cinta kata 0 Comments





Ada seorang kenalan yang berprofesi sebagai psikolog. Ia mengaku setiap pagi ada sebuah aktivitas rutin yang  dilakukan saat datang di kantor. Ia akan datang lebih pagi dari yang lain, melaksanakan shalat dhuha, tilawah beberapa lembar, dan berdiam diri lama sekali. Setelah itu ia siap untuk memasang senyum sepanjang hari dan mendengarkan segala keluh kesah klien. Dari luar, ia seakan selalu ceria dan bebas masalah. 

Pernahkah membayangkan pekerjaan psikolog yang melayani konseling puluhan orang setiap harinya? Segala permasalahan, keluh kesah, dan berbagai energi negatif ia terima. Sebaliknya, ia harus membalas dengan menyalurkan energi positif agar klien bangkit atau setidaknya merasa lebih baik.

Paparan di awal tentang me time yang sifatnya relaksasi berupa shalat dan dzikir adalah kebutuhan manusiawi. Sangat indah ketika Islam memerintahkan pemeluknya untuk melaksanakan shalat minimal lima kali sehari, atau menjamin keberkahan waktu bagi siapa saja yang membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya. 

Islam menganjurkan pemeluknya untuk shalat dengan tuma’ninah (khusyuk), karena ada hikmah besar dibaliknya. Dalam ilmu psikologi, meditasi adalah cara relaksasi untuk menghindari stres. Misalnya, melakukan meditasi sambil berjalan (berjalan perlahan dengan perhatian tertuju pada otot dan tulang yang ikut bergerak pada saat berjalan. Maka, shalat menjadi meditasi terbaik karena pikiran akan lebih fresh, konsentrasi meningkat, dan masalah akan nampak begitu kecil karena ada unsur berserah diri pada Rabb.

Saat kita merasa semakin tertekan/ stress, bisa jadi kita jarang untuk berhenti sejenak atau lupa untuk sekadar menarik napas dalam-dalam. Terkadang seseorang butuh hening setelah setiap harinya bergelut dengan hidup yang penuh kebisingan. Hening dalam sujud-sujud panjangnya, dalam kebasahan lisan akan dzikir, dan lembaran-lembaran tilawah. 

0 komentar: