Kasih Sepanjang Jalan vs Sepanjang Penggalan

09:54 cinta kata 0 Comments


Ada seorang ibu yang divonis dokter mengidap kanker payudara. Ia seorang janda yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tidak hanya di satu tempat ia mengais rezeki. Setiap harinya, ia mengayuh sepeda mendatangi beberapa rumah untuk membantu sang tuan membersihkan rumah, mencuci baju, atau sekadar menyetrika baju.

Ia tidak pernah merasa ingin menyerah dengan penyakitnya atau dengan kerasnya hidup yang dijalani. Hingga dua buah hatinya berhasil ia biayai hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia pun rela menunda pengobatannya karena konsekuensi setelah operasi mengharuskan pasien istirahat total. Kedua anaknya masing-masing kini sudah bekerja.

Sel kanker terus berkembang sampai tubuhnya tak mau lagi berkompromi. Ia mencapai titik kanker stadium 4. Ia semakin sering pingsan dan akhirnya memutuskan untuk segera operasi.

Beruntung karena pemerintah memfasilitasinya operasi tanpa biaya. Itupun ia harus berjuang, bolak-balik ke rumah sakit yang berjarak 7 km dengan sepeda. Tubuhnya ringkih dan usianya yang setengah abad membuat ia pingsan kelelahan ketika sampai di Rumah Sakit. 

Hari di mana ia dijadwalkan operasi, sang ibu masih sempat memasak untuk kedua anaknya. Lalu ia berangkat sendiri ke Rumah Sakit, dengan sepeda kesayangannya. Sendirian! Operasi berjalan lancar. Setelah operasi, ia pun tak ditemani anak-anaknya, hanya kerabat dan tetangga yang datang menjenguk.

Anak-anaknya merasa harus tetap bekerja bahkan di hari sang ibu operasi. Untung tidak terjadi apa-apa pada saat operasi. Barangkali mereka beranggapan bahwa sang ibu pasti bisa mengatasinya sendiri, seperti biasanya.

Kini sang ibu harus istirahat total selama beberapa bulan. Jahitan operasi bisa robek ketika ia memaksa bekerja. Ibu itu hanya berharap anak-anaknya mau menanggung hidupnya selama masa pemulihan pasca operasi. Seperti ibu-ibu lain, ia tak mengharap balasan anak-anaknya atas kasih sayang yang diberikan, bahkan sejak dalam kandungan. []

0 komentar: