Kasih Sepanjang Jalan vs Sepanjang Penggalan
Ada seorang ibu yang divonis dokter
mengidap kanker payudara. Ia seorang janda yang bekerja sebagai asisten rumah
tangga. Tidak hanya di satu tempat ia mengais rezeki. Setiap harinya, ia
mengayuh sepeda mendatangi beberapa rumah untuk membantu sang tuan membersihkan
rumah, mencuci baju, atau sekadar menyetrika baju.
Ia tidak pernah merasa ingin menyerah
dengan penyakitnya atau dengan kerasnya hidup yang dijalani. Hingga dua buah hatinya
berhasil ia biayai hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia pun rela
menunda pengobatannya karena konsekuensi setelah operasi mengharuskan pasien
istirahat total. Kedua anaknya masing-masing kini sudah bekerja.
Sel kanker terus berkembang sampai tubuhnya
tak mau lagi berkompromi. Ia mencapai titik kanker stadium 4. Ia semakin sering
pingsan dan akhirnya memutuskan untuk segera operasi.
Beruntung karena pemerintah
memfasilitasinya operasi tanpa biaya. Itupun ia harus berjuang, bolak-balik ke
rumah sakit yang berjarak 7 km dengan sepeda. Tubuhnya ringkih dan usianya yang
setengah abad membuat ia pingsan kelelahan ketika sampai di Rumah Sakit.
Hari di mana ia dijadwalkan operasi,
sang ibu masih sempat memasak untuk kedua anaknya. Lalu ia berangkat sendiri ke
Rumah Sakit, dengan sepeda kesayangannya. Sendirian! Operasi berjalan lancar. Setelah
operasi, ia pun tak ditemani anak-anaknya, hanya kerabat dan tetangga yang
datang menjenguk.
Anak-anaknya merasa harus tetap bekerja bahkan
di hari sang ibu operasi. Untung tidak terjadi apa-apa pada saat operasi. Barangkali
mereka beranggapan bahwa sang ibu pasti bisa mengatasinya sendiri, seperti
biasanya.
Kini
sang ibu harus istirahat total selama beberapa bulan. Jahitan operasi bisa
robek ketika ia memaksa bekerja. Ibu itu hanya berharap anak-anaknya mau
menanggung hidupnya selama masa pemulihan pasca operasi. Seperti ibu-ibu lain,
ia tak mengharap balasan anak-anaknya atas kasih sayang yang diberikan, bahkan
sejak dalam kandungan. []


0 komentar: