Menilik “Robohnya Surau Kami”
Tersebutlah tokoh bernama Haji Saleh. Di
akhirat Tuhan memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Haji Saleh tersenyum
percaya diri. Ia yakin masuk surga lantaran merasa amalan yang dibawanya sangat
banyak. Ketika ditanya oleh Tuhan, Haji Saleh menjawab bahwa pekerjaannya di
dunia adalah beribadah menyembah-Nya, setiap hari, setiap malam, dan setiap
masa.
Oleh Tuhan, malaikat diperintahkan untuk
memasukkan Haji Saleh ke neraka. Alangkah tercengang Haji Saleh karena semua
orang yang dilihatnya tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Bahkan ada seorang
yang sudah 14x ke Makkah dan bergelar syekh pula.
Singkat cerita Haji Saleh dan
teman-temannya menghadap Tuhan, berharap Tuhan memang salah atas keputusan-Nya.
Haji Saleh lalu menceritakan bahwa mereka berasal dari sebuah negeri bernama
Indonesia. Negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa
disiram. Negeri subur yang justru penduduknya sendiri melarat dan lama
diperbudak orang lain.
“Sungguhpun anak cucu kami itu melarat,
tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala,” terang
Haji Saleh.
Lalu Tuhan menimpali dengan murka, “Tapi
seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya bukan? Kalau
ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua.
Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka.
Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling
memeras. Kau lebih suka beribadah saja, karena beribadah tidak mengeluarkan
peluh, tidak membanting tulang. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk
disembah, hingga kerjamu memuji-muji dan menyembahku saja!” Oleh malaikat
mereka pun dilempar kembali ke neraka. (Robohnya Surau Kami, A.A. Navis)
Kita belajar bahwa menjadi shalih saja
tidak cukup. Ber-amar ma’ruf nahi munkar, bermuamalah, dan mengamalkan
nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan di dunia itu yang terpenting. Menjadi
orang sholih yang men-sholihkan.[]


0 komentar: