Senyum Matahari
Bulir keringat jatuh satu-satu dari
kening, punggung, dan leher kami.
Setiap
hari kutemani Matahariku menjemput surya kala ia terbit. Hingga kami jemput
peluh dan vitamin D, menguatkan Matahariku. Kubelai lembut kepala Matahari yang
tak berambut lalu ingatanku terlempar pada dialog tiga tahun lalu di ruangan
serba putih itu.
“Rambutnya akan mulai rontok dan menipis
hingga tak ada lagi rambut yang tumbuh di kepalanya. Kulitnya akan cepat mengeriput,
tulangnya akan cepat mengeropos, gigi yang tanggal dengan cepat, dan hal-hal
yang dialami orang usia lanjut,” jelas Dokter Faras dikunjungan kami yang
ketiga.
Sekokoh apapun dinding seorang Ibu, ia
akan tetap terguncang dengan kabar serupa petir itu. Kala itu Matahari belum
genap dua tahun. Tahun pertamanya memang tak secemerlang pertumbuhan anak-anak
di usianya. “Setiap anak kan beda Mas, ia akan tumbuh dengan kemampuan
masing-masing,” tuturku kepada Mas Dayat ketika Matahari belum juga tengkurap
di usianya yang sudah lima bulan.
Giginya juga lambat tumbuh, berjalan pun
ia masih tertatih, dan berat badan Matahari perlahan menyusut sejak ia
menginjak 22 bulan. Dokter Faras lalu melakukan observasi dan dikunjungan kami
ketiga kabar yang bagai sambaran petir itu mengoyak kekokohan jiwaku dan tak ku
nyana mengguncang Mas Dayat lebih dahsyat.
Kami namai ia Matahari Adyatma, yang
berarti Matahari sebagai anugerah terindah. Bagi Mas Dayat itu bermakna
sebaliknya kini.
“Anak dengan vonis progeria kebanyakan
hanya bertahan di usia remaja mereka.” Perkataan Dokter Faras terus terngiang
jelas.
“Dari dua juta anak, Matahariku yang
dipilih Tuhan. Seberapa istimewa kami sehingga Tuhan menguji kami seperti ini?”
batinku mulai menghujat. Dan dari ketidakterimaan itu, justru guncangan yang
diterima Mas Dayat tak kunjung surut hingga progeria menemani Matahari di
usianya yang kelima.
“Mas
berangkat dulu.” Kukecup punggung tangannya. Mata Mas Dayat lalu lurus
memandang detak jarum jam di tangan kirinya. Tak sedikit pun Mas Dayat
mengindahkan kehadiran Matahari yang sedang terlelap.
Mas Dayat menjadikan kerja sebagai
pelarian. Mas Dayat memutuskan meneruskan bisnis keluarga. Jarak tempat kerja
dan tempat tinggal kami terpisah ratusan kilometer. Itu yang membuat Mas Dayat
pulang sepekan atau dua pekan sekali. Ada yang Mas Dayat hindari.
Padahal Matahari hadir tidak untuk dicap
lemah. Meski bertumbuh dengan lambat dan cepat melemah, Matahari selalu
tersenyum bagai matahari pagi yang hangat. Matahari yang gemar membaca,
Matahari yang gemar bercerita, Matahari yang hangat menyapa setiap tetangga,
dan Matahari yang ringan berbagi.
“Maaah...Matahari sudah selesai.” Suara
melengking Matahari mengagetkanku. Ia sodorkan buku dongeng terbaru hadiah
ulang tahunnya yang kelima. Kuterima dengan senyum terindah dan kutagih padanya
isi dongeng yang baru saja dilahapnya.
“Seandainya kau mau meminjamkan telingamu dan ragamu barang sejenak, Mas.
Tuntutan dan tekanan yang
coba kau hindari selama ini bisa kau tepis dengan kebahagiaan
melihat senyum Matahari,” batinku getir.
“Apakah Rosi tak bisa hamil lagi?”
Pertanyaan itu kudengar saat kami berkunjung ke rumah orang tua Mas Dayat.
Di balik pintu kulihat Mas Dayat
menggeleng. “Kehamilan di atas usia empat puluh tahun terlalu beresiko, Pah.”
Matahari
berusia tiga tahun kala itu dan aku sudah 41 tahun. Menikah di usia yang
terlampau matang, yakni di usia 37 begitu rawan bagi kaum hawa. Maka saat
Matahari hadir di tahun pertama kami menikah itu betul-betul anugerah
besar.
***
Bumi berputar begitu juga dengan waktu. Kehidupan
berputar begitu juga dengan titipan kemegahan.
“Bismillahir rahmaanir rahiim.....alhamdulillahi
rabbil ‘aalamiin.....arrahmaanir rahiim...”
Aku urung masuk saat mendengar suara melengking Matahari memenuhi ruangan
serba putih dengan selang infus
yang menghiasi sisi ranjang kelas VIP itu.
Matahari
tak sakit apalagi terbaring dengan selang infus yang menempel. Ia hanya
mengulang hafalannya untuk lelaki yang ia panggil Opa. Lelaki yang tak lain
ayah Mas Dayat yang oleh Tuhan baru saja dilepas titipan kemegahannya. Syok
membuat Ayah mertuaku ambruk dan dua pekan ini dirawat. Stroke berhasil
melumpuhkan motorik sebelah kanan dari tubuh Ayah.
Tuhan memutuskan bisnis keluarga
surut seketika. Bisnis yang sudah dibangun puluhan tahun harus kandas. Bisnis yang digadang-gadang harus memiliki penerus.
Penerus trah yang dituntut dari seorang
anak tunggal bernama Dayat. Tuntutan yang begitu Mas Dayat hindari yang
kemudian membuatnya menghindari Matahariku.
“Kriieeet...” Tiga pasang mata menoleh
saat kudorong pintu, kecuali pandang ayah mertuaku.
Dengan kedua mata berkaca-kaca ia
mengisyaratkan Matahari untuk melanjutkan bacaan Al-Fatihah yang sempat
terhenti kala aku masuk tadi. Kulihat Mas Dayat balik badan, dan mendongakkan
kepala dengan tangis tertahan.
***
Tangan hangat nan kokoh itu mulai
menggenggam tangan Matahari. Mereka saling bertukar senyum lalu dalam hitungan
detik yang sama menoleh tepat di inti mataku. Aku mengangguk tapi tak bergerak
dari posisi, bergeming. Kuhitung dan kupindai setiap inchi paras Matahari.
Aku nikmati surya yang mulai menghangat
di wajahnya, seperti juga kedua mataku yang mulai menelaga. Detik selanjutnya
punggung tanganku berhasil menepis tumpahnya air bening dari telaga di mataku.
Tiga pasang kaki kami kini berjalan
beriringan tentu saja dengan Matahari berada di tengah. Tangan kanan Matahari
kugenggam erat sekaligus lembut. Kurasai kulitnya yang lebih keriput dari
kulitku. Dan langkah pelan Matahari yang harus kami sejajari dengan irama yang
sama.
Sambil berjalan, Matahari mulai
mendongeng tentang Pangeran Kecil dan lebah madu. Gigi yang tidak lengkap
membuat Matahari begitu menggemaskan saat tertawa lepas. Kuamati kerut di
wajahnya yang bertambah saat ia melengkungkan bibir dan kedua matanya.
“Auuw,” kurasai sesuatu yang mungil
tengah menendang-nendang dalam perut.
“Kau tak apa?” Wajah Mas Dayat sedikit
pias.
Aku tersenyum sambil menggeleng.
“Seperti kata dokter kemarin, aku dan si adek baik-baik saja Mas. Mungkin ia
terlalu antusias mendengar cerita kakaknya.”



0 komentar: