Senyum Matahari

13:07 cinta kata 0 Comments

Bulir keringat jatuh satu-satu dari kening, punggung, dan leher kami. Setiap hari kutemani Matahariku menjemput surya kala ia terbit. Hingga kami jemput peluh dan vitamin D, menguatkan Matahariku. Kubelai lembut kepala Matahari yang tak berambut lalu ingatanku terlempar pada dialog tiga tahun lalu di ruangan serba putih itu.
“Rambutnya akan mulai rontok dan menipis hingga tak ada lagi rambut yang tumbuh di kepalanya. Kulitnya akan cepat mengeriput, tulangnya akan cepat mengeropos, gigi yang tanggal dengan cepat, dan hal-hal yang dialami orang usia lanjut,” jelas Dokter Faras dikunjungan kami yang ketiga.
Sekokoh apapun dinding seorang Ibu, ia akan tetap terguncang dengan kabar serupa petir itu. Kala itu Matahari belum genap dua tahun. Tahun pertamanya memang tak secemerlang pertumbuhan anak-anak di usianya. “Setiap anak kan beda Mas, ia akan tumbuh dengan kemampuan masing-masing,” tuturku kepada Mas Dayat ketika Matahari belum juga tengkurap di usianya yang sudah lima bulan.
Giginya juga lambat tumbuh, berjalan pun ia masih tertatih, dan berat badan Matahari perlahan menyusut sejak ia menginjak 22 bulan. Dokter Faras lalu melakukan observasi dan dikunjungan kami ketiga kabar yang bagai sambaran petir itu mengoyak kekokohan jiwaku dan tak ku nyana mengguncang Mas Dayat lebih dahsyat.
Kami namai ia Matahari Adyatma, yang berarti Matahari sebagai anugerah terindah. Bagi Mas Dayat itu bermakna sebaliknya kini.
“Anak dengan vonis progeria kebanyakan hanya bertahan di usia remaja mereka.” Perkataan Dokter Faras terus terngiang jelas.
“Dari dua juta anak, Matahariku yang dipilih Tuhan. Seberapa istimewa kami sehingga Tuhan menguji kami seperti ini?” batinku mulai menghujat. Dan dari ketidakterimaan itu, justru guncangan yang diterima Mas Dayat tak kunjung surut hingga progeria menemani Matahari di usianya yang kelima.
 “Mas berangkat dulu.” Kukecup punggung tangannya. Mata Mas Dayat lalu lurus memandang detak jarum jam di tangan kirinya. Tak sedikit pun Mas Dayat mengindahkan kehadiran Matahari yang sedang terlelap.
Mas Dayat menjadikan kerja sebagai pelarian. Mas Dayat memutuskan meneruskan bisnis keluarga. Jarak tempat kerja dan tempat tinggal kami terpisah ratusan kilometer. Itu yang membuat Mas Dayat pulang sepekan atau dua pekan sekali. Ada yang Mas Dayat hindari.
Padahal Matahari hadir tidak untuk dicap lemah. Meski bertumbuh dengan lambat dan cepat melemah, Matahari selalu tersenyum bagai matahari pagi yang hangat. Matahari yang gemar membaca, Matahari yang gemar bercerita, Matahari yang hangat menyapa setiap tetangga, dan Matahari yang ringan berbagi.
“Maaah...Matahari sudah selesai.” Suara melengking Matahari mengagetkanku. Ia sodorkan buku dongeng terbaru hadiah ulang tahunnya yang kelima. Kuterima dengan senyum terindah dan kutagih padanya isi dongeng yang baru saja dilahapnya.
 “Seandainya kau mau meminjamkan telingamu dan ragamu barang sejenak, Mas. Tuntutan dan tekanan yang coba kau hindari selama ini bisa kau tepis dengan kebahagiaan melihat senyum Matahari,” batinku getir.
“Apakah Rosi tak bisa hamil lagi?” Pertanyaan itu kudengar saat kami berkunjung ke rumah orang tua Mas Dayat.
Di balik pintu kulihat Mas Dayat menggeleng. “Kehamilan di atas usia empat puluh tahun terlalu beresiko, Pah.”
 Matahari berusia tiga tahun kala itu dan aku sudah 41 tahun. Menikah di usia yang terlampau matang, yakni di usia 37 begitu rawan bagi kaum hawa. Maka saat Matahari hadir di tahun pertama kami menikah itu betul-betul anugerah besar. 
***
            Bumi berputar begitu juga dengan waktu. Kehidupan berputar begitu juga dengan titipan kemegahan.
“Bismillahir rahmaanir rahiim.....alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.....arrahmaanir rahiim...Aku urung masuk saat mendengar suara melengking Matahari memenuhi ruangan serba putih dengan selang infus yang menghiasi sisi ranjang kelas VIP itu.
Matahari tak sakit apalagi terbaring dengan selang infus yang menempel. Ia hanya mengulang hafalannya untuk lelaki yang ia panggil Opa. Lelaki yang tak lain ayah Mas Dayat yang oleh Tuhan baru saja dilepas titipan kemegahannya. Syok membuat Ayah mertuaku ambruk dan dua pekan ini dirawat. Stroke berhasil melumpuhkan motorik sebelah kanan dari tubuh Ayah.
            Tuhan memutuskan bisnis keluarga surut seketika. Bisnis yang sudah dibangun puluhan tahun harus kandas. Bisnis yang digadang-gadang harus memiliki penerus. Penerus  trah yang dituntut dari seorang anak tunggal bernama Dayat. Tuntutan yang begitu Mas Dayat hindari yang kemudian membuatnya menghindari Matahariku.
“Kriieeet...” Tiga pasang mata menoleh saat kudorong pintu, kecuali pandang ayah mertuaku.
            Dengan kedua mata berkaca-kaca ia mengisyaratkan Matahari untuk melanjutkan bacaan Al-Fatihah yang sempat terhenti kala aku masuk tadi. Kulihat Mas Dayat balik badan, dan mendongakkan kepala dengan tangis tertahan.
***
Tangan hangat nan kokoh itu mulai menggenggam tangan Matahari. Mereka saling bertukar senyum lalu dalam hitungan detik yang sama menoleh tepat di inti mataku. Aku mengangguk tapi tak bergerak dari posisi, bergeming. Kuhitung dan kupindai setiap inchi paras Matahari.
Aku nikmati surya yang mulai menghangat di wajahnya, seperti juga kedua mataku yang mulai menelaga. Detik selanjutnya punggung tanganku berhasil menepis tumpahnya air bening dari telaga di mataku.
Tiga pasang kaki kami kini berjalan beriringan tentu saja dengan Matahari berada di tengah. Tangan kanan Matahari kugenggam erat sekaligus lembut. Kurasai kulitnya yang lebih keriput dari kulitku. Dan langkah pelan Matahari yang harus kami sejajari dengan irama yang sama.
Sambil berjalan, Matahari mulai mendongeng tentang Pangeran Kecil dan lebah madu. Gigi yang tidak lengkap membuat Matahari begitu menggemaskan saat tertawa lepas. Kuamati kerut di wajahnya yang bertambah saat ia melengkungkan bibir dan kedua matanya.
“Auuw,” kurasai sesuatu yang mungil tengah menendang-nendang dalam perut.
“Kau tak apa?” Wajah Mas Dayat sedikit pias.
Aku tersenyum sambil menggeleng. “Seperti kata dokter kemarin, aku dan si adek baik-baik saja Mas. Mungkin ia terlalu antusias mendengar cerita kakaknya.”
Matahariku lalu tersenyum indah sekali. [] 

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Dimuat dalam Majalah Nur Hidayah Edisi 116/ Mei 2017



0 komentar: