Kualitas Hidup
Sepulang dari kajian beberapa waktu yang lalu ban motor saya bocor. Kebetulan saya tidak sendiri, seorang teman meminta pulang bareng karena rumah kami memang satu arah. Dalam hati merasa bersyukur tidak menuntun motor sendirian sementara belum jelas di mana letak jasa tambal ban yang masih buka.
Waktu itu selepas maghrib. Kami pun berhenti di masjid. Kami bertanya kepada salah satu jama’ah letak jasa tambal ban terdekat. Darinya kami diberi tahu tempat yang tidak terlalu jauh, kami cukup menuntun motor kurang lebih 200 m. Gerimis pun ikut menemani pencarian kami.
Kami sudah sampai di ujung gang, hanya ada kebun pisang di sana dan rumah yang terlihat suwung. Setelah bertanya lagi kepada salah satu warga, kami pun menemukan tempat yang dimaksud. Si ibu yang kami tanyai bahkan mengantarkan sampai depan rumah pemilik jasa tambal ban, rumah suwung yang kami kira tidak berpenghuni tadi.
Kami menyisir sekeliling rumah, tak ada tanda-tanda bengkel di sana. Seorang laki-laki paruh baya lalu keluar dan mendengarkan maksud kedatangan kami. Kalimat berikutnya membuat semangat kami luruh. “Maaf mbak, tapi saya sudah lama tidak buka jasa tambal ban,” ujar si Bapak.
Kami sudah membayangkan akan berjalan menuntun motor tanpa tahu di mana letak jasa tambal ban terdekat. Kami sudah menuntun mundur motor. Lalu suara si bapak menghentikan kami. “Rumah mbaknya di mana?”
Setelah saya menyebutkan daerah rumah kami. Adegan berikutnya si bapak mau membantu menambal ban kami. Dari dalam rumah si bapak mengeluarkan beberapa peralatan. Hujan semakin menderas. Ban dalam yang bocor ternyata pas mengenai dop, artinya ban dalam harus di ganti. Saya dan teman saya saling berpandangan.
“Saya belikan ban dulu ya mb, nggak jauh kok,” ujar si Bapak. Di tengah guyuran hujan si bapak pergi mengenakan mantol dengan motornya. Tak berselang lama si bapak datang dan dengan cepat mengganti ban motor saya. Bermaksud menghargai kemurahhatiannya, saya kasih ongkos lebih banyak dari seharusnya, tapi si bapak menolak dengan sangat halus. Raut mukanya terlihat sangat tulus. Ketulusan yang membuat hati kami menggerimis.
Kita senang dengan segala hal yang berkualitas. Makanan yang enak dan lezat itu makanan yang berkualitas. Kita senang dengan pakaian yang berkualitas, nyaman dipakai. Kita pun senang saat shalat berjamaah dipimpin oleh imam yang bacaannya berkualitas, menambah kekhusyuan kita. Kita pun senang berbelanja di tempat yang berkualitas, tidak hanya barang yang dijualnya memiliki kualitas yang baik, namun juga pelayanannya berkualitas. Tapi sudahkah hidup kita berkualitas dengan membuatnya menjadi sebaik-baik manfaat dan membuatnya ringan untuk menolong kesulitan orang lain?


This comment has been removed by the author.
ReplyDelete