Traveling ke Luar Negeri Terus Nih, tapi Kapan Umroh?
Jika ditanya, sudah ke negara mana aja? Cuma bisa ngejawab dua aja sih, Malaysia dan Thailand. Dan dua belum bisa dikatakan banyak kan? Jadi kata “terus” dalam judul di atas hanya pemanis aja kok. Tiga kata terakhir dalam judul yang lebih kita soroti. Kalimat tanya yang dilontarkan beberapa kawan padaku saat tahu rencanaku ke Thailand awal Oktober lalu.
Hidup adalah pilihan, kita semua pasti sepakat dan sepaket dengan itu. Bahkan tidak melulu ketika kita memilih pilihan A, lantas ada yang salah dan benar di antara pilihan A, B, atau C. Semua ada waktunya, semua ada ikhtiarnya, dan semua ada konsekuensinya.
Bagiku, traveling adalah kegiatan positif yang membuat pikiran kita lebih terbuka, membuat kita kaya, membuat kita belajar tentang budaya dan habit orang lain, dan membuat bahagia tentunya. Travel: the only thing you buy that makes you richer. So, merencanakan sebuah perjalanan selalu menyenangkan dan membuat hidup lebih bergairah. Tahun kemarin, bersama lima kawan, aku berkesempatan menginjakkan kaki di Negeri Jiran. Stempel negeri jiran pun menjadi stempel pertama yang menghuni buku hijau, pasporku.
Lalu awal tahun 2018, kami yang menamai grup whatsapp kami dengan “Overseas” kembali merencanakan next destination. Maka Bangkok menjadi tujuan mufakat overseas selanjutnya. Negeri yang bagi kami lebih menantang dari Malaysia. Dari segi budaya, agama, dan bahasa.
Kok ke luar negeri terus sih? Nggak sayang ya sama duitnya? Kenapa nggak milih pergi umroh aja sih? Iya sih, kalau punya duit sih enak. Kok enak liburan terus, nggak kerja ya?
Hehehe.... begitulah salah satu hobi manusia Indonesia, bertanya dan berargumen sesuka mereka. Sebenarnya alasan memilih destinasi ke luar negeri banyak poinnya, Gaess. Yuk kita urai satu-satu yak! Pertama, kami memilih negeri-negeri ASEAN karena kami tidak perlu membayar visa saat pergi ke sana. Kedua, kalau kita tekun hunting tiket promo pasti bakalan dapet. Cuman perlu digarisbawahi sih kalau tiket promo itu selalu gentayangan hanya di awal tahun. So, tekunlah maka pasti mujur. Kemarin sih kami dapet tiket PP Jakarta—Bangkok, 1.350k. Waktu ke Kuala Lumpur tahun lalu, kami dapet tiket PP Jakarta—KL, 780k. Keduanya via Air Asia (terima kasih Air Asia^^). Jadi keluar negeri pun bisa dengan budget minim dan akomodasi di sana pun bisa disesuaikan dengan budget masing-masing. Ketiga, kami ingin melihat bentang dunia yang lebih luas. Dan perjalanan selalu membuat kita belajar bahwa apa yang kita ketahui dibanding ilmu-Nya sangatlah sedikit. Pengen mencicip untuk keluar dari dunia homogen kita, agar nggak ignorant dan gampang skeptis sama orang lain. Keempat, tahun ini kami ke Thailand berdelapan dan momen liburan selalu menjadi momen reuni tahunan kami. Traveling mengajarkan untuk tidak egois, harus mementingkan kepentingan satu sama lain, dan bagaimana bersama-sama bertahan hidup (survive) di negeri orang. Kelima, liburan ke luar negeri membuat kita eksplor bahasa lain, termasuk bahasa isyarat..haha. Minimal kita jadi termotivasi untuk belajar bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Keenam, secara pribadi kami pengen mengisi masa muda dengan hal-hal yang positif, salah satunya ya jalan untuk jalan-jalan. Belum menikah di usia 25-an tidak membuat kami lantas galau dan gabut. Kami justru melihat itu sebagai kesempatan untuk mengeksplor masa muda. Secara finansial kami mandiri dengan pekerjaan masing-masing, secara kedewasaan jangan ditanya lagi, gaess. So daripada menghabiskan fulus untuk nongkrong dari cafe ke cafe atau untuk membeli gombal (a.k.a baju/ fashion) kami memilih menabung, gaess. Untuk mewujudkan liburan impian, kami bahkan mengerem untuk tidak membeli atau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sifatnya sekunder apalagi tersier. Ketujuh, mengapa nggak eksplore negeri sendiri dulu? Jawabannya adalah karena destinasi di luar Jawa bisa memakan budget yang lebih tinggi dari negara tetangga. Harapan untuk keliling Indonesia jelas ada dong. Tapi cari sponsor atau cari duit yang banyak dulu. Kerja keras bagai kuda pun boleh. (hihihi...). Maka memilihlah berjalan ke manapun kau inginkan untuk menemukan siapa dirimu sebenarnya.
So, balik lagi ke pertanyaan, kapan pergi umroh? Menurutku pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Allah Yang Maha Kuasa. Karena dipanggil untuk ke tanah suci merupakan keistimewaan yang ketika Allah sudah menghendakinya sangat mudah untuk kita terbang ke sana, Kun Fayakun!
Soal niat, ikhtiar, dan azzam itu adalah masalah privasi. Masing-masing muslim jelas mendambakan untuk umroh bahkan Haji, sebagai penggenap rukun Islam. Aku sendiri berazzam ingin berangkat umroh atau haji sebelum usia 35 tahun (semoga Allah ijabah). Dan tidak semua mimpi perlu dipublikasikan, bukan? Bahkan lebih baik kita bekerja keras dan berikhtiar dalam diam dan ketika apa yang kita cita-citakan terwujud kita pun bebas untuk mempublikasikannya sebagai motivasi buat orang lain atau tetap stay cool menikmati kebahagiaan di lingkup kecil hidup kita. Kalau ada yang terlalu kepo tanya ini tanya itu soal pandangan hidup yang menurut dia salah, yaa senyumin ajaa. Toh, hidup tidak sekadar untuk menjawab pertanyaan orang-orang.
Memilih untuk sibuk meng-upgrade diri, meningkatkan kualitas diri, dan mengisi hidup dengan banyak pengalaman positif kurasa lebih penting dari sekadar menyibukkan diri dengan hidup orang lain. Life is choice! []




4 komentar: