Aya Terlambat Lagi
Aya tidak bisa tidur semalam. Kini ia harus
mengayuh sepeda sekuat tenaga agar tidak terlambat.
“Teeeeeeeeetttt,” terdengar bunyi bel tanda
masuk saat Aya berjarak tiga meter dari pagar sekolah.
“Huft.” Aya menekuk wajahnya sambil cemberut.
Ia harus siap-siap bertemu Bu Ikke.
“Baiklah sekarang Aya masuk ke kelas dan besok
jangan terlambat lagi ya.” Bu Ikke ternyata tidak marah, tapi Aya sangat malu
karena ini kali pertama Aya terlambat.
“Ternyata tidak bisa tidur itu tidak enak ya,
badanku lemas sekarang,” ungkap Aya ke Melati yang duduk di sampingnya.
“Biar enggak lemas, yuk, kita jajan ke kantin,”
ajak Melati sambil menggamit lengan Aya.
Aya menjadi sedikit bersemangat ketika
membahas makanan. Aya sudah kelas 5 dan di masa pertumbuhannya ia jadi doyan
makan. Selain suka makan, Aya juga suka membantu ibunya memasak. Aya juga suka
makan camilan dan jajan.
Keesokan harinya…
“Ayaaa…ini sudah jam berapa, Nak?” Panggilan
Bunda yang kesekian kali akhirnya berhasil membangunkan Aya.
Pandangan Aya langsung beralih ke jam dinding
di kamarnya. Jarum jam sudah mengarah ke angka 6.30.
“Gimana ini, aku bisa-bisa terlambat lagi hari
ini.” Aya segera siap-siap berangkat sekolah tanpa sarapan.
“Bunda, Aya berangkat.” Aya mencium tangan
Bunda secepat kilat.
Aya mengelap peluh dikeringatnya. Karena
terlambat untuk kedua kali, Aya dihadiahi Bu Ikke merapikan buku
diperpustakaan.
“Sudah
selesai kah merapikan bukunya?” Bu Ikke tiba-tiba muncul dari belakang.
“Sudah, Bu. Apakah saya bisa pinjam buku ini?”
Bu Ikke mengangguk dan Aya kembali ke kelas
dengan buku ditangannya.
“Kamu bawa buku apa, Ay?”
“Mel, sepertinya sekarang aku paham mengapa
aku tidak bisa tidur kemarin?”
Aya mengingat malam sebelum dia terlambat
sekolah untuk pertama kali, minggu lalu. Malam itu Bunda secara khusus memasak
Sup Iga Sapi kesukaan Aya. Ia makan malam sangat lahap, bahkan sampai nambah
dua kali. Dan malam itu Aya baru bisa tertidur pukul 03.00.
“Sepertinya aku tidak bisa tidur karena makan
terlalu banyak. Aku membacanya dari sini,” Aya menunjuk buku yang dibawanya.
“Kok
bisa?” Melati pun jadi penasaran.
“Kamu baca ini
deh, Mel.”
Melati mengikuti
jari telunjuk Aya. Di sana tertulis bahwa tubuh memerlukan waktu untuk mencerna
makanan. Aya tidak bisa tidur karena makan banyak dan makan terlalu dekat
dengan waktu tidurnya.
“Bahaya lainnya
aku bisa kelebihan berat badan kalau terus makan, aku nggak mau gemuk.”
“Iya gemuk itu
nggak enak,” Melati pun sepakat dengan sahabatnya.
Keduanya kini
mendapat satu ilmu baru. Sekarang Aya akan makan ketika lapar dan makan
secukupnya.
-TAMAT-
(Dimuat di Koran Berani, 14-20 September 2015/Tahun IX/No.28)


nice
ReplyDeleteterima kasih ^^
ReplyDelete