Hidup Satu Kali (Lagi)
Hidup satu kali (lagi) bisa jadi perwakilan kata untuk menandai
transformasi blog ini guys. Tagline “Cinta Kata” adalah nafas yang akan dibawa
dalam postingan-postingan ke depan. So…hibernasi selama sepuluh bulan aku rasa
cukup lah yaa (padahal berasa satu abad aja ninggalin ini blog….hihihi).
Selama sepuluh bulan ke belakang, bisa dibilang aku
sedang mencari idealisme dalam berkarya. Maka keinginan terkuat kala itu adalah
mampu mewarnai Cerita Anak (CerNak) di dunia kepenulisan nusantara. Alasannya
karena dunia anak adalah dunia tanpa beban yang begitu tulus dalam segala
aspeknya. Ketika banyak anak-anak yang telah kehilangan dunia mereka karena
gawai (red. gadget) yang semakin canggih, ada keinginan dalam diri untuk
menyuguhkan keasyikan dunia mereka dalam sebuah tulisan.
Cerita anak selalu mengajak anak untuk belajar memahami
dunia dengan cara sederhana. Menyuguhkan sesuatu yang dicintai anak adalah
sebuah impian tersendiri agar anak-anak tetap mampu tumbuh sesuai usianya. Dari
keinginan tersebut, mulailah aku sambangi toko buku loakan (buku bekas) dan
kubelilah berpuluh-puluh majalah anak untuk kubaca dalam rangka belajar. Majalah-majalah
anak yang baru pun tak lupa kupelajari juga.
Kebanyakan penulis cerita anak yang saat ini sudah punya
nama besar, tentunya mewarnai masa kecil mereka dengan membaca majalah-majalah
anak, seperti Bobo yang memang merajai majalah anak sampai sekarang. Usia Bobo
sendiri sudah 42 tahun dengan eksistensi yang luar biasa. So, balik lagi ke
masa kecil, secara pribadi membaca majalah anak bahkan sesuatu yang langka
buatku. Paling banter aku membaca buku-buku di perpustakaan sekolah saat SD,
itupun tidak sering.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Walaupun
sedikit terlambat, kecintaan untuk membaca dan melahap buku hadir saat aku di
bangku SMP, guys. Perpustakaan menjadi tempat yang paling sering kukunjungi
selain kantin, hehe. Seperti kebanyakan pelajar, fiksi menjadi pilihan terbaik
untuk jenis bacaan favorit.
Novel Totto Chan karya Tetsuko Kuroyanagi, menjadi buku favorit yang begitu menginspirasi kala itu. Totto Chan
menghadirkan bahasa yang sederhana tetapi sangat padat nilai moral. Diceritakan
bahwa Totto Chan mampu melejit di sekolah barunya. Sekolah yang berlokasi di
bekas gerbong kereta dengan Kepala Sekolah yang luar biasa mampu melihat dan
menghargai setiap potensi anak. Sampai kemudian bertambah judul-judul novel
inspiratif lain yang kubaca.
Dari sana muncullah kesadaran bahwa banyak wawasan yang bisa kita dapat
dari sekadar membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang saling
berkolerasi. Semua orang pasti sepakat dengan itu. Ibarat sebuah teko ketika ia
kosong, ia tak mampu menumpahkan apapun. So, background knowledge atau
pengetahuan apapun dalam kepala adalah primer bagi seorang penulis.
Keinginan untuk melangkah ke dunia CerNak berarti pula keharusan untuk
mau tercebur total dalam dunia anak. Caranya adalah melahap segala jenis
CerNak, banyak berkomunikasi dengan anak-anak, dan banyak bergaul dengan para
penulis.
Mestakung (seMesta menduKung),
keadaan yang sering datang untuk memuluskan hajat (keinginan) kita. Kuncinya ketika
seseorang melangkah, ia akan melihat jalan keluar. Kedua kunci ketekunan, man
jadda wa jadda.
Qadarullah, aku pun
dipertemukan dengan penulis-penulis hebat serta orang-orang yang punya passion
yang sama. Energy itu semakin menular hingga sebuah kesempatan lain hadir. Aku berkesempatan
ikut dalam Kelas Merah Jambu Anak yang digawangi Mbak Nurhayati Pujiastuti
sebagai ibu guru bagi kami.
Keefektifan berjama’ah, berkumpul dalam satu grup selama dua bulan full dan kami berkomitmen untuk menulis setiap hari. Ternyata kelas menulis bekerja dengan baik untuk menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri. Mungkin di lain kesempatan akan kuulas khusus tentang banyak inspirasi di Kelas Merah Jambu Anak (KMJA).
Kini dua karya CerNak-ku sudah
nampang di Koran Berani. Dua karya hasil belajar di KMJA. Dua CerNak tersebut
nanti akan aku posting juga di sini (tunggu yaa…). Maka pembuktian selanjutnya,
menulis secara mandiri untuk kemudian eksis adalah langkah lain yang harus
kuraih.
Semoga pula naskah-naskah CerNak
yang sudah terkirim ke berbagai media tidak mengalami masa tunggu yang terlalu
lama atau bahkan mengalami penolakan. Kirim dan lupakan adalah formula terjitu
agar kita terus menulis, menulis, dan menulis. Salam produktif dan kreatif. []



0 komentar: