Hidup Satu Kali (Lagi)

15:05 cinta kata 0 Comments

Hidup satu kali (lagi) bisa jadi perwakilan kata untuk menandai transformasi blog ini guys. Tagline “Cinta Kata” adalah nafas yang akan dibawa dalam postingan-postingan ke depan. So…hibernasi selama sepuluh bulan aku rasa cukup lah yaa (padahal berasa satu abad aja ninggalin ini blog….hihihi).  

Selama sepuluh bulan ke belakang, bisa dibilang aku sedang mencari idealisme dalam berkarya. Maka keinginan terkuat kala itu adalah mampu mewarnai Cerita Anak (CerNak) di dunia kepenulisan nusantara. Alasannya karena dunia anak adalah dunia tanpa beban yang begitu tulus dalam segala aspeknya. Ketika banyak anak-anak yang telah kehilangan dunia mereka karena gawai (red. gadget) yang semakin canggih, ada keinginan dalam diri untuk menyuguhkan keasyikan dunia mereka dalam sebuah tulisan.

Cerita anak selalu mengajak anak untuk belajar memahami dunia dengan cara sederhana. Menyuguhkan sesuatu yang dicintai anak adalah sebuah impian tersendiri agar anak-anak tetap mampu tumbuh sesuai usianya. Dari keinginan tersebut, mulailah aku sambangi toko buku loakan (buku bekas) dan kubelilah berpuluh-puluh majalah anak untuk kubaca dalam rangka belajar. Majalah-majalah anak yang baru pun tak lupa kupelajari juga.

Kebanyakan penulis cerita anak yang saat ini sudah punya nama besar, tentunya mewarnai masa kecil mereka dengan membaca majalah-majalah anak, seperti Bobo yang memang merajai majalah anak sampai sekarang. Usia Bobo sendiri sudah 42 tahun dengan eksistensi yang luar biasa. So, balik lagi ke masa kecil, secara pribadi membaca majalah anak bahkan sesuatu yang langka buatku. Paling banter aku membaca buku-buku di perpustakaan sekolah saat SD, itupun tidak sering.


Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Walaupun sedikit terlambat, kecintaan untuk membaca dan melahap buku hadir saat aku di bangku SMP, guys. Perpustakaan menjadi tempat yang paling sering kukunjungi selain kantin, hehe. Seperti kebanyakan pelajar, fiksi menjadi pilihan terbaik untuk jenis bacaan favorit.

Novel Totto Chan karya Tetsuko Kuroyanagimenjadi buku favorit yang begitu menginspirasi kala itu. Totto Chan menghadirkan bahasa yang sederhana tetapi sangat padat nilai moral. Diceritakan bahwa Totto Chan mampu melejit di sekolah barunya. Sekolah yang berlokasi di bekas gerbong kereta dengan Kepala Sekolah yang luar biasa mampu melihat dan menghargai setiap potensi anak. Sampai kemudian bertambah judul-judul novel inspiratif lain yang kubaca.


Dari sana muncullah kesadaran bahwa banyak wawasan yang bisa kita dapat dari sekadar membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang saling berkolerasi. Semua orang pasti sepakat dengan itu. Ibarat sebuah teko ketika ia kosong, ia tak mampu menumpahkan apapun. So, background knowledge atau pengetahuan apapun dalam kepala adalah primer bagi seorang penulis.

Keinginan untuk melangkah ke dunia CerNak berarti pula keharusan untuk mau tercebur total dalam dunia anak. Caranya adalah melahap segala jenis CerNak, banyak berkomunikasi dengan anak-anak, dan banyak bergaul dengan para penulis.

Mestakung (seMesta menduKung), keadaan yang sering datang untuk memuluskan hajat (keinginan) kita. Kuncinya ketika seseorang melangkah, ia akan melihat jalan keluar. Kedua kunci ketekunan, man jadda wa jadda.

Qadarullah, aku pun dipertemukan dengan penulis-penulis hebat serta orang-orang yang punya passion yang sama. Energy itu semakin menular hingga sebuah kesempatan lain hadir. Aku berkesempatan ikut dalam Kelas Merah Jambu Anak yang digawangi Mbak Nurhayati Pujiastuti sebagai ibu guru bagi kami.

Keefektifan berjama’ah, berkumpul dalam satu grup selama dua bulan full dan kami berkomitmen untuk menulis setiap hari. Ternyata kelas menulis bekerja dengan baik untuk menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri. Mungkin di lain kesempatan akan kuulas khusus tentang banyak inspirasi di Kelas Merah Jambu Anak (KMJA).

Kini dua karya CerNak-ku sudah nampang di Koran Berani. Dua karya hasil belajar di KMJA. Dua CerNak tersebut nanti akan aku posting juga di sini (tunggu yaa…). Maka pembuktian selanjutnya, menulis secara mandiri untuk kemudian eksis adalah langkah lain yang harus kuraih.

Semoga pula naskah-naskah CerNak yang sudah terkirim ke berbagai media tidak mengalami masa tunggu yang terlalu lama atau bahkan mengalami penolakan. Kirim dan lupakan adalah formula terjitu agar kita terus menulis, menulis, dan menulis. Salam produktif dan kreatif. []

0 komentar: