Menjemput Ketidaknyamanan

13:25 cinta kata 0 Comments


Tidak sedikit orang yang menyukai berada di zona nyaman. Zona di mana ia merasa santai, tanpa tekanan, fleksibel, bisa bersenang-senang, bebas, dan merasa semuanya mudah dilakukan. Di sisi lain, zona nyaman cenderung mematikan kreativitas, membuat seseorang meremehkan pekerjaannya sendiri, dan membuatnya menjadi close-minded (berpikiran tertutup). Kondisi negatif yang menggelinding bak bola salju, mengakibatkan kondisi mental menjadi berubah. Ia menjadi bosan dengan banyak hal dan tak memiliki minat pada satu bidang pun. Ketika dihadapkan pada tantangan, ia menjadi takut gagal.

Banyak motivator yang kemudian menyerukan kepada audiensnya untuk keluar dari zona nyaman. Bagi saya “keluar” di sini lebih pada keluar dari hal-hal negatif yang mengerak saat berada di zona nyaman. Sesekali kita hanya perlu keluar sejenak dari rutinitas. Salah satunya dengan melakukan perjalanan/ trip/ atau yang lebih populer dengan sebutan traveling. Dengan kata lain kita menjemput ketidaknyamanan dengan traveling. 

Saat seseorang selesai melakukan traveling, alam bawah sadarnya ingin merencanakan traveling berikutnya. Mengapa? Padahal ketika ditilik, lebih banyak hal tak nyaman dan tak terduga saat traveling tapi anehnya kita merasa begitu bahagia. 

Ibarat dua sisi mata uang, traveling dan ketidaknyamanan adalah sepaket yang tak terpisahkan. Dalam banyak ketidaknyamanan saat traveling, kita akan mensyukuri hal-hal kecil yang sebelumnya sering kita abaikan, seperti nikmatnya seteguk air mineral. Saat jauh dari rumah, ketergantungan kepada sang Rabb pun menjadi sangat besar. Traveling juga membutuhkan mental dan fisik yang kuat, serta kemandirian, juga toleransi dan empati saat traveling dalam sebuah rombongan. Soal fisik yang kuat, kita akan sadar pentingnya berolahraga untuk menjaga daya tahan tubuh. 

Saat terakhir kali saya melakukan perjalanan, saya melihat banyak orang-orang Barat dengan usia senja yang masih menyempatkan untuk traveling. Ada juga pasangan muda dengan balitanya yang rela repot-repot membawa segala keperluan baby untuk traveling mereka. Artinya, traveling adalah kebutuhan yang mulai mendarah daging menjadi sebuah gaya hidup yang menyenangkan. Karena momentum ini selalu ditunggu bahkan cenderung direncanakan setiap tahun.

Mengunjungi tempat baru, artinya mempelajari budaya setempat, wawasan bertambah, saling menghargai meningkat, dan pikiran kita akan lebih terbuka dengan banyak hal. Energi negatif dijamin akan terkikis dengan sendirinya. Dan soal bahagia jangan ditanya lagi. []

0 komentar:

Menjadi Tangguh itu Pilihan

12:10 cinta kata 0 Comments


Judul : Jangan Jadi Cewek Cengeng
Penulis : Linda Satibi, dkk.
Penerbit : Indiva
Cetakan I : April 2017
ISBN : 978-602-6334-18-3
Halaman : 204 halaman

Membaca kisah dan menghayati tentang semangat hidup dan sisi terang seseorang merupakan salah satu investasi kita dalam menjaga kesehatan psikologis dan jasmani. Dalam hidup selalu ada keceriaan dan penderitaan. Membuatnya seimbang adalah sebuah pilihan.

Buku ini merupakan kumpulan dua belas kisah inspiratif yang disajikan dengan berbagai gaya kepenulisan masing-masing penulisnya. Seperti judulnya, “Jangan Jadi Cewek Cengeng”, buku ini memang dihadirkan sebagai hadiah untuk kaum hawa.

Dari pada menjadi cewek cengeng dalam artian mudah mengeluh, mudah menyerah, pesimis, dan sederet kata sifat negatif lainnya, lebih baik menjadi cewek yang kuat, ikhlas, pantang menyerah, optimis, dan positif (halaman 10-11).

Buku ini dibagi menjadi empat bagian yang masing-masing bertajuk, Bukan Cewek Cengeng, Aku Tangguh, Girl’s Power, dan Girl’s Rule. Kisah yang disuguhkan mampu menggugah kesadaran pembaca. Tentang beginilah seharusnya seorang wanita menjalani hidupnya.

Salah satunya kisah tentang seorang wanita yang divonis dokter mengidap kanker rahim dan usianya diprediksi tidak lebih dari 30 tahun. Hingga akhirnya kita dibuat belajar untuk menyemai kebaikan-kebaikan yang terus-menerus untuk kemudian kebaikan itu menjadi kebaikan kecil yang menyembuhkan sakitnya. Dituliskan bahwa, Kita boleh kehilangan apa pun di dunia ini, namun tidak boleh kehilangan semangat dan harapan. Karena itu berarti kematian (halaman 99).

Buku ini disajikan dengan gaya penulisan yang populer untuk mendampingi para wanita tangguh dan cocok dibaca oleh kalangan remaja sampai wanita dewasa sekalipun. Setiap asam garam yang dilalui ia akan bermuara pada akhir yang indah. Seperti kutipan dari HAMKA, “Air mata berasa asin itu karena air mata adalah garam kehidupan.”

0 komentar: