Menikmati Kesyahduan Situ Patenggang Ciwidey

10:26 cinta kata 0 Comments


Situ Patenggang adalah sebuah danau di bagian selatan Kabupaten Bandung, terletak di sebuah desa bernama Patengan. Desa ini adalah bagian dari wilayah administratif Kecamatan Rancabali yang lokasinya berada di bawah kaki Gunung Patuha, sebuah Gunung yang sangat erat kaitannya dengan objek wisata Kawah Putih. 

Berada di ketinggian 1600 m di atas permukaan laut, Situ Patenggang, dikelilingi perkebunan teh PTPN VIII Rancabali dan di seberangnya terdapat hutan yang masih alami. Di tempat ini kamu dapat menikmati tenangnya air danau, udara sejuk, serta kabut tipis yang membuat suasana semakin syahdu.



Situ Patenggang menjadi salah satu objek wisata menarik dan populer di Bandung. Awalnya, Situ (danau) ini adalah bagian dari cagar alam atau taman nasional seperti cagar alam lain yang ada di Indonesia. Namun, pada tahun 1981 terjadi sebuah pengembangan yang sangat besar hingga akhirnya menjadi taman wisata alam. 

Nama populer yang digunakan sebagai nama danau ini sebenarnya ada dua, pertama yaitu “Situ Patengan” dan yang kedua adalah “Situ Patenggang”. Kedua nama tersebut memiliki filosofi yang menunjukan identitas situ (danau) dan saling berkaitan. Apabila wisatawan menyebutnya “Situ Patengan” hal ini mengacu kepada nama desa dimana danau ini berada. Nama “Patengan” berasal dari bahasa Sunda “Pateangan” yang artinya saling mencari. Sedangkan nama “Patenggang” sendiri yang juga dari bahasa Sunda yang artinya terpisah dari jarah ataupun waktu. 


Konon, kedua nama di atas menceritakan sebuah kisah sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis. Ki Santang adalah keponakan dari Prabu Siliwangi, seorang raja Padjajaran yang arif dan bijaksana. Sedangkan Dewi Rengganis adalah seorang gadis desa yang hidup di sebuah pegunungan. Keduanya memiliki ikatan kasih yang sangat kuat namun terpisah oleh jarak dan waktu (konon mereka terpisah akibat peperangan yang sangat lama). Perasaan dan kasih sayang yang begitu besar antara keduanya, membuat mereka berupaya untuk saling mencari, hingga pada suatu hari dipertemukan di sebuah batu besar. Batu tersebut dinamakan Batu Cinta. 

Setelah pertemuan itu, singkat cerita Rengganis meminta Ki Santang untuk dibuatkan sebuah danau di mana terdapat pulau kecil di tengahnya. Karena cinta Ki Santang yang begitu mendalam, akhirnya ia mengabulkan permintaan Dewi Rengganis. Sekarang daratan kecil ini bernama pulau Sasuka atau dalam bahasa Indonesia bernama Pulau Asmara.



Jika pengunjung ingin menyusuri danau yang indah tersebut dan melihat Batu Cinta, objek wisata Situ Patenggang juga telah di menyediakan sebuah perahu. Kita bisa menyewa perahu tersebut untuk mengelilingi danau dan mendarat ditengah pulau.

Situ Patenggang buka setiap hari. Pengelola memasang tarif Rp 18.000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 135.000,- untuk wisatawan mancanegara di Hari Senin-Jumat dan masing-masing Rp 20.500,- dan Rp 185.000,- di akhir pekan. Pengunjung juga bisa membeli makanan khas Bandung dan berbagai cinderamata yang dijual di sekeliling lokasi. 

Untuk menuju lokasi Situ Patenggang, dari Stasiun KA Bandung, kita harus naik angkot dengan jurusan Kebon Kelapa, lalu lanjut naik angkot yang melewati Terminal Leuwipanjang.

Saat ini, Situ Patenggang Ciwidey dikelola oleh PTPN VIII, kawasan Bandung Selatan. Pengembangan demi pengembangan termasuk perbaikan sarana transportasi serta fasilitas pendukung wisata seperti penginapan, sarana ibadah, rumah makan, tempat penjualan cinderamata, tempat parkir, gazebo/shelter, perahu, dan lain-lain yang sampai saat ini terus dilengkapi. Untuk kebersihan, seluruh area bebas dari polusi udara dan sampah apalagi limbah kimia. []



0 komentar:

Kasih Sepanjang Jalan vs Sepanjang Penggalan

09:54 cinta kata 0 Comments


Ada seorang ibu yang divonis dokter mengidap kanker payudara. Ia seorang janda yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tidak hanya di satu tempat ia mengais rezeki. Setiap harinya, ia mengayuh sepeda mendatangi beberapa rumah untuk membantu sang tuan membersihkan rumah, mencuci baju, atau sekadar menyetrika baju.

Ia tidak pernah merasa ingin menyerah dengan penyakitnya atau dengan kerasnya hidup yang dijalani. Hingga dua buah hatinya berhasil ia biayai hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia pun rela menunda pengobatannya karena konsekuensi setelah operasi mengharuskan pasien istirahat total. Kedua anaknya masing-masing kini sudah bekerja.

Sel kanker terus berkembang sampai tubuhnya tak mau lagi berkompromi. Ia mencapai titik kanker stadium 4. Ia semakin sering pingsan dan akhirnya memutuskan untuk segera operasi.

Beruntung karena pemerintah memfasilitasinya operasi tanpa biaya. Itupun ia harus berjuang, bolak-balik ke rumah sakit yang berjarak 7 km dengan sepeda. Tubuhnya ringkih dan usianya yang setengah abad membuat ia pingsan kelelahan ketika sampai di Rumah Sakit. 

Hari di mana ia dijadwalkan operasi, sang ibu masih sempat memasak untuk kedua anaknya. Lalu ia berangkat sendiri ke Rumah Sakit, dengan sepeda kesayangannya. Sendirian! Operasi berjalan lancar. Setelah operasi, ia pun tak ditemani anak-anaknya, hanya kerabat dan tetangga yang datang menjenguk.

Anak-anaknya merasa harus tetap bekerja bahkan di hari sang ibu operasi. Untung tidak terjadi apa-apa pada saat operasi. Barangkali mereka beranggapan bahwa sang ibu pasti bisa mengatasinya sendiri, seperti biasanya.

Kini sang ibu harus istirahat total selama beberapa bulan. Jahitan operasi bisa robek ketika ia memaksa bekerja. Ibu itu hanya berharap anak-anaknya mau menanggung hidupnya selama masa pemulihan pasca operasi. Seperti ibu-ibu lain, ia tak mengharap balasan anak-anaknya atas kasih sayang yang diberikan, bahkan sejak dalam kandungan. []

0 komentar: