Bahasa Cinta
Seorang mahasiswa Oxford University asal Indonesia berkesempatan menjadi panelis di sebuah seminar di Maroko. Sesampainya di Maroko, dia baru tahu bahwa paper harus dipresentasikan dalam Bahasa Arab. Semua peserta yang datang dari berbagai negara berbicara dan menulis dalam Bahasa Arab.
Mahasiswa tersebut lalu menawar penyelenggara agar dia bisa menyampaikan presentasi dalam Bahasa Inggris. Dirinya memang tidak bisa berbahasa Arab. Atas kemurahhatian penyelenggara, ia pun diperbolehkan presentasi dalam Bahasa Inggris dengan didampingi seorang translator.
Maroko jelas tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Maka, mereka pun heran ketika ada mahasiswa asal Indonesia tapi tidak bisa berbahasa Arab. Mereka bertanya kepada pemuda asal Indonesia tersebut, “Anda berasal dari negeri mayoritas muslim. Mengapa Anda tidak menguasai bahasa agamamu?”
Mendengar pertanyaan semacam itu kita atau mahasiswa tersebut pasti tertampar. Bahasa Arab jelas istimewa. Allah memilih Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Allah berbicara kepada kita lewat firman-firmannya yang berbahasa Arab. Lalu seberapa besar kita menguasainya?
Kita yang beruntung mengenyam pendidikan di sekolah Islam sedikit banyak mengenal Bahasa Arab. Sebagian orang tua pun mengarahkan anaknya untuk menuntut ilmu di pondok pesantren (boarding school). Di mana peguasaan Bahasa Arab menjadi salah satu kompetensi yang harus dikuasai. Kenyataannya itu hanyalah sebagian kecil dari kita.
Agaknya kita belum benar-benar mengupayakan untuk menguasai Bahasa Arab. Bahasa Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup kaum muslimin ini dituturkan sekitar 300 juta orang dan terbesar kelima di dunia. Maka sudah selayaknya kita sebagai muslim lebih membumikan Bahasa Arab. Bahasa Cinta yang dipilih Allah untuk memberi petunjuk umat manusia menuju jalan-Nya yang lurus. []


0 komentar: