Tantangan, Ketulusan, dan Kebahagiaan Sukarelawan

15:40 cinta kata 0 Comments


Dunia kesukarelawanan sosial (volunteers) adalah kegiatan positif yang menarik bagi individu-individu yang “terpanggil”. Dunia sosial ini bisa membawa seseorang pada pengalaman luar biasa, jejaring pertemanan, ilmu-ilmu baru di luar bidang yang selama ini ditekuni, dan tentu saja kebahagiaan. Semangat kesukarelawanan sosial dewasa ini membawa seseorang atau sekelompok orang untuk membuat komunitas atau gerakan sosial yang berdampak positif. Tidak serta merta mengubah dunia secara luas tapi setidaknya ia mau bergerak untuk mengubah secuil dunia menjadi lebih baik.
Indonesia memiliki populasi penduduk di urutan keempat dunia dengan jumlah penduduk 255.993.674 jiwa atau sekitar 3,5% dari keseluruhan Jumlah Penduduk Dunia (data CIA World Factbook Tahun 2015). Pendidikan untuk bangsa sebesar Indonesia menjadi sesuatu yang mendesak untuk dibangun, karena urgensinya sebagai modal pembangunan bangsa.
Berbicara tentang volunteers dalam dunia pendidikan Indonesia salah satu yang cukup dikenal masyarakat adalah Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). GIM dimulai sejak 2010 dan mengajak pemuda-pemuda terbaik negeri ini untuk mau menjadi pengajar muda di pelosok Indonesia. Praktis kegiatan ini akan sepaket dengan ketidakenakan dan ketidaknyamanan di daerah yang dituju. Tapi bagi orang-orang yang terpanggil, justru menjadi tantangan tersendiri, dalam ketidaknyamanan ada kebahagiaan. Menjadi orang yang bermanfaat adalah kebahagiaan yang mereka kejar.
Sebut saja Scott Neeson, jabatan sebagai presiden 20th Century Fox International rela dilepasnya untuk melakukan kegiatan sukarelawan dengan membantu warga miskin di Kamboja. Nesson melepas karir menjanjikannya dan gaji sebesar 1 milliar USD per tahun. Dia lalu menjual seluruh hartanya di Australia untuk pindah ke Kamboja. Neeson tergerak untuk mengabdikan hidupnya membantu anak-anak miskin di Phnom Penh setelah melakukan kunjungan pada 2003. Dan tahun 2014 saja, dia berhasil membantu 2.400 anak-anak miskin di Phnom Penh dengan dana Rp 120 miliar lewat Cambodian Children’s Fund yang digawanginya. “Momen saat aku menginjakkan kakiku di sana adalah momen yang paling berpengaruh dalam hidupku,” ucap Scott Neeson.

Salah satu siswa Kelas 5 belajar memotret (kebahagiaan) dalam Kelas Inspirasi Boyolali (KIBoy)_10 Sept 2016

Kami melingkar dengan Merapi sebagai Latar

Momen perpisahan dengan para siswa SDN 2 Genting di KIBoy

Berpose di halaman SDN 2 Genting Boyolali dengan berlatar Merapi
Membantu anak-anak Indonesia membungkus mimpi
Menjemput bahagia

Gerakan volunteers lain yang juga berasal dari rahim GIM adalah Kelas Inspirasi (KI). Sasaran gerakan ini adalah para profesional yang menjadi guru sehari di SD-SD marginal. Merelakan satu hari kerja untuk cuti dan membangun mimpi-mimpi anak-anak SD. Menjelaskan tentang apa profesi mereka sehingga akan memberikan gambaran referensi bagi pondasi cita-cita anak-anak Indonesia.
Ada sekitar 50 juta siswa di Indonesia. Sebagian di antara mereka terancam putus sekolah, bahkan tak pernah menyelesaikan jenjang pendidikan menengah apalagi pendidikan tinggi. Maka mimpi dan cita-cita adalah salah satu faktor yang membedakan antara memutuskan berhenti atau tetap bersekolah.
Kebaikan yang bergetar dari hati akan diterima dengan mudah oleh hati lainnya. KI terus tumbuh dan kian meluas. Kontribusi dari kaum profesional dalam andil meningkatkan kualitas pendidikan menjadi output yang diharapkan. Banyak di antara relawan KI yang terus terlibat mengikuti KI di daerah manapun dan meninggalkan jejak inspirasi. Walaupun dalam dunia kesukarelawanan ini tetap ada seleksi.

Tidak berlebihan ketika Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif GIM pernah mengatakan bahwa ketika seseorang memilih bergabung dalam sebuah gerakan sosial pastilah akan ada tantangan ketulusan, akan ada yang mundur, mundur, dan itu sudah biasa terjadi. Mereka yang memiliki ketulusan yang kuat sajalah yang akan bertahan lama. Ketulusan itu dari hati, dan itu tidak bisa dipaksakan. []

[Dimuat dalam Majalah Nur Hidayah/edisi110/November 2016]

0 komentar:

Maryam, Teladan Kasih Sayang, Keteguhan, dan Kesabaran

16:23 cinta kata 0 Comments


Maryam, sosok wanita suci yang penuh kasih sayang, di mana kelebihan Maryam adalah kesabaran serta keteguhannya dalam melaksanakan perintah Allah Swt. Sibel Eraslan, novelis terkemuka asal Turki, berhasil menggambarkan sosok Maryam dengan begitu apik. Novel ini merupakan satu dari empat novel serial 4 wanita penghuni Surga. Tiga novel lainnya berkisah tentang Khadijah, Fatimah, dan Asiyah.

Novel Maryam beralur flashback. Kehidupan Maryam dan putranya dikisahkan oleh tokoh fiktif bernama Merzangus. Kejadian dibuka dengan kisah yang menggambarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat peristiwa penyaliban pemuda yang disangka Nabi Isa. Merzangus yang menyaksikan peristiwa itu kemudian mengisahkan kehidupan Bunda Maryam dan Nabi Isa as. kepada istri Pilatus, wali Romawi yang memimpin sidang penyaliban.

Baitul Maqdis di Al-Quds, sebagai tempat yang selalu istimewa sepanjang sejarah, menjadi lingkungan tempat Maryam dilahirkan. Maryam dilahirkan dari rahim Hanna, wanita Al-Quds keturunan Bani Fakuz yang paling baik akhlak, pendidikan, dan rupanya. Hanna dan saudara perempuannya bernama Al-Isya menikah dengan orang-orang alim keturunan Nabi Harun as. yang diberi kehormatan sebagai pengasuh Baitul Maqdis. Hanna menikah dengan Imran dari Bani Masan, sementara Al-Isya menikah dengan Nabi Zakaria as. yang keturunannya segaris dengan Nabi Daud as. (Halaman 65)

Maryam sudah menjadi yatim saat ia masih dalam kandungan Hanna. Imran, sang Ayah, sudah terlebih dahulu menghadap Sang Khaliq. Tak berapa lama setelah melahirkan Maryam, Hanna juga menyusul Imran meninggalkan Maryam sebagai seorang yatim piatu. Maka Nabi Zakaria dan istrinya memegang peranan yang sangat penting sebagai pengasuh Maryam. 

Oleh Hanna, Maryam diikrarkan sebagai anak yang akan dikorbankan di jalan Allah dengan kata lain akan mengabdi di Baitul Maqdis. Pada saat Maryam diserahkan di Baitul Maqdis sudah ada empat ribu anak yang sama seperti dirinya. Mereka semua diserahkan untuk mengabdi di jalan Allah, seluruhnya laki-laki. Setelah mulai dapat berbicara, mereka diserahkan untuk disertakan dalam pendidikan di masjid. Maryam membutuhkan wali untuk mengasuhnya sebelum dapat memulai pelajaran dan pendidikan di masjid. Nabi Zakarialah yang hadir sebagai wali Maryam.


Maryam tinggal di dalam mihrab yang dibuatkan Nabi Zakaria as. Mihrab yang mempunyai tujuh lapis pintu di mana Nabi Zakaria as. sebagai pemegang kunci dari pintu-pintu tersebut. Setiap membuka Baitul Maqdis pada waktu pagi dan menutupnya di waktu malam, Nabi Zakaria as. mendapati Maryam sudah selesai menghafalkan semua pelajaran yang diajarkan kepadanya. Bahkan Maryam juga telah hafal beberapa doa yang belum pernah diajarkan sekalipun. Nabi Zakaria mendapati Maryam selalu berteman dengan para Malaikat.

Ketika Maryam sudah menginjak usia 17, kota Al-Quds dilanda paceklik dan wabah penyakit. Suatu hari Nabi Zakaria as. mengunjungi Maryam di Mihrab, ia dikagetkan dengan nampan berisi buah-buahan yang masih ditutupi kain putih. Nabi Zakaria semakin heran ketika melihat buah-buahan musim dingin berada di situ. Bahkan, buah-buahn yang namanya belum pernah diketahuinya pun ada dalam nampan. Baunya sangat harum, berwarna cerah, dan segar. Dalam usianya yang masih sangat muda, Maryam telah mampu berkata penuh hikmah kepada Zakaria yang sudah berusia lanjut.

Novel ini membuat kita jatuh cinta kepada sosok Maryam. Maryam sebagai seorang hamba, Maryam sebagai seorang wanita, dan Maryam sebagai seorang ibu dari laki-laki mulia yang tak lain adalah Nabi Isa as. Maryam adalah pendukung utama sang putra dalam mengemban amanah dakwah. Digambarkan bagaimana tegar dan kuatnya Maryam mulai dari mengandung sampai kepayahan dan perjuangan Maryam melahirkan Isa.

Nabi Isa as. lahir di tengah kondisi Bani Israil yang sudah jauh dari ajaran Taurat dan mulai meninggalkan 10 perintah yang dibawa Nabi Musa as. Para pemuka agama di Baitul Maqdis pun lebih tertarik untuk menjual agama dengan dunia. Dalam novel ini digambarkan bagaimana perjuangan Nabi Isa as. bersama 12 hawari (sebutan untuk pengikut nabi Isa--red) dalam berdakwah. Hingga akhirnya satu dari hawari tersebut, yang bernama Yahuda Iskariot berkhianat dengan menjual berita kepada penguasa Romawi. Yahuda adalah sosok yang disangka Nabi Isa as. sehingga menerima hukuman mati. Sementara Nabi Isa as. dengan seizin Allah diangkat ke langit.

Bab yang sangat berkesan dan menggetarkan adalah Bab Maryam dan Para Wanita ahli surga. Dikisahkan, Maryam dalam mimpinya dipertemukan dengan para wanita penghuni surga. Ada Asiyah putri Muzahim yang telah membesarkan Nabi Musa as, yakni sosok di mana para malaikat akan berucap takbir ketika ia lewat. Kemudian sosok wanita tercantik yang sampai-sampai malaikat bisa pingsan karena kecantikannya adalah Khadijah binti Khuwailid istri Nabi Muhammad saw. yang juga ditunjukkan sebagai salah satu ratu para wanita ahli surga. Dan seorang wanita yang bahkan malaikat bisa buta karena pancaran cahaya darinya, ia adalah Fatimah Az-Zahra putri Muhammad Al-Musthafa. Diceritakan bahwa sososk Fatimah begitu mirip dengan sosok Maryam, sehingga ketika mereka berdua bertatap muka seakan-akan keduanya sedang bercermin saru sama lain.

Membaca novel ini akan membawa kita untuk jatuh cinta berkali-kali dengan sosok Maryam. Kemudian kita juga akan semakin mencintai Nabi Isa, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan para nabi lain yang begitu gigih memperjuangkan risalah ini. Diceritakan pula nabi-nabi terdahulu juga sudah melaksanakan shalat dan zakat serta mengimani akan hadirnya nabi terakhir, Muhammad saw.

Selesai membaca novel ini akan membuat kita bercermin dan bersegera untuk memantaskan diri untuk kemudian menjadi wanita yang istimewa dihadapan Allah. Semoga kelak Allah perkenankan untuk bertemu dan berucap salam kepada para wanita penghuni surga. Aamiin.

Judul Buku : Maryam, Bunda Suci Sang Nabi
Tahun terbit : 2014
Penulis : Sibel Eraslan
Penerjemah : Aminahyu Fitri
Penerbit : Kaysa Media
Jumlah Halaman : 464 hal.

0 komentar:

Faith

14:44 cinta kata 0 Comments


“Apa??? Lamaran dari cowok sebaik Bayu kau tolak Sar?” teriak Rani yang duduk di sebelah Sarah di sebuah sudut café milik Sarah.
“Iya, gak usah heboh gitu dong. Kalau jodoh juga gak ke mana. Kamu kan tahu, Ran, aku gak mungkin mendahului Kak Lana untuk menikah duluan. Aku gak ingin Kakakku satu-satunya itu merasa tersinggung.”
“Aku mau mengecek pembukuan hari ini. Kamu enak-enakin dulu kopi dan baca buku favoritmu itu ya temanku yang paling cantiik.” Sarah pun berlalu dan beralih di belakang meja kerjanya di salah satu ruangan café.
Sarah sebenarnya tidak benar-benar sedang mengecek pembukuan cafénya. Ia hanya ingin sendiri untuk beberapa saat. Sarah sadar bahwa dirinya baru saja menolak lamaran seorang Bayu yang juga sangat dicintainya. Ia pun terisak sendirian di ruang kerjanya.
            “Maafkan aku Bay, aku tidak bisa menerima lamaranmu sekarang. Aku tidak ingin menikah mendahului kakakku, kau kan tahu itu Bay?”
“Tapi sampai berapa lama lagi Sar aku harus menunggu untuk menyuntingmu? Apa di zaman modern ini kamu juga percaya dengan mitos bahwa kakakmu akan menjadi perawan tua kalau kau dahului? Jodoh setiap orang itu sudah ada garisnya.”
“Aku tidak sepenuhnya percaya itu. Aku hanya ingin menghormati perasaan Kak Lana. Itu saja.”
***
Di usianya yang ke-26, Sarah sudah terhitung sebagai pengusaha muda yang cukup sukses. Ia adalah owner sebuah café library. Sebuah tempat nongkrong sekaligus persewaan buku, di mana keduanya berada di satu tempat yang cozy. Hobi membaca yang dimilikinya ingin ia tularkan kepada masyarakat luas khususnya anak muda. Café JJ mulai dirintis Sarah sejak ia duduk di semester 3 jurusan manajemen. JJ adalah singkatan dari Journal of Journey, karena Sarah ingin menjadikan café JJ tempat singgah banyak orang.
Di Café JJ pula tempat pertemuan Sarah dengan Bayu. Saat itu hujan sangat lebat dan café menjadi tempat persinggahan yang tepat untuk berteduh. Saat itu pegawai Sarah belum sebanyak sekarang. Pengunjung yang membludak membuat Sarah cukup repot. Padahal kondisi tubuhnya kurang fit hari itu. Tiba-tiba saat selesai meletakkan pesanan di atas salah satu meja, Sarah jatuh pingsan.
Saat tersadar dari pingsannya, Sarah melihat sosok pangeran yang tengah memeriksa nadinya. Pangeran itu ternyata seorang dokter muda bernama Bayu. Sarah langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Setelah diperiksa ternyata tekanan darah Sarah drop. Berawal dari ucapan terima kasih kemudian tanya terkait resep obat, hubungan mereka kian dekat dan berkembang menjadi lebih dari teman.
Tidak ada prosesi tembak-menembak di antara mereka. Hubungan yang terjalin terus mengalir dan masing-masing dari mereka cukup tahu bahwa mereka saling mencintai dan mampu saling mengisi. Bayu adalah sosok cerdas yang mampu mengimbangi apapun topik diskusi yang diangkat Sarah. Keduanya sama-sama book addict dan pecinta traveling. Jadilah mereka sangat klop walaupun bukan dari background pendidikan yang sama.
Kini sudah tiga tahun Sarah mengenal Bayu. Ketika Bayu sudah lulus spesialis dan Sarah sudah begitu matang sebagai wanita, Bayu ingin segera meresmikan hubungan mereka. Ujungnya justru penolakan dari Sarah yang terjadi.
***
Sebenarnya Bayu sudah tahu kalau ujungnya akan seperti ini. Pernah ia mengobrol dengan ayah Sarah mengenai rencananya ini. Dengan tegas Bapak Subroto Aji, ayah Sarah, tidak menghendaki putri keduanya menikah mendahului putri pertamanya.  Keluarga Sarah adalah keluarga Jawa yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang. Dalam mitos yang beredar di masyarakat Jawa seorang adik perempuan tidak boleh menikah terlebih dahulu melangkahi kakak perempuannya. Jika itu dilanggar maka sang kakak akan menjadi perawan tua yang tak kunjung bertemu jodohnya.
Saat itu tidak sengaja Lana mendengar obrolan antara ayahnya dan Bayu. Ia merasa sangat bersalah karena menjadi penghalang pernikahan adik semata wayangnya. Lana adalah wanita Jawa modern yang tidak percaya dengan mitos. Ada alasan tersendiri mengapa ia belum bisa menjalin komitmen pernikahan dengan seorang pria. Di lain sisi meyakinkan orang tua yang sangat kolot sama saja dengan meniupkan udara kedalam balon yang bocor, tidak ada hasilnya.
Sebelumnya Lana adalah gadis yang ceria dan supel. Ia mempunyai banyak teman dan aktif di berbagai organisasi kampus. Ia pun menjadi gadis yang popular karena prestasi dan keaktifannya di organisasi. Sampai suatu ketika ia didekati seorang laki-laki bernama Ringgo.
Ringgo adalah presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampus tempat Lana belajar. Mereka pun akhirnya menjalin hubungan yang lebih dekat hingga masing-masing dari mereka lulus. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah.
Masalah pun datang. Subroto Aji, ayah Lana, menolak pernikahan tersebut. Ringgo adalah anak ketiga dalam keluarganya dan Lana adalah anak pertama di mana anak pertama dan ketiga tidak boleh menikah dalam tradisi Jawa. Jika itu dilaksanakan maka akan menimbulkan kesengsaraan dan kesialan.
Merasa sakit hati dengan tanggapan ayah Lana, Ringgo akhirnya mundur dan meninggalkan Lana begitu saja. Tidak berapa lama, Lana mendengar Ringgo telah menikah dengan gadis yang dijodohkan kedua orang tua Ringgo.
Sejak saat itu Lana memutuskan untuk menutup diri. Pekerjaan yang dilakoni Lana pun tidak banyak berhubungan dengan orang banyak. Ia bekerja sebagai editor lepas di beberapa penerbitan di Jawa. Ia adalah korban mitos yang dijunjung tinggi oleh orang tuanya sendiri. Ia pun tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria pun setelah Ringgo. Bagi Lana itu adalah bentuk protes dirinya kepada orang tuanya.
Tiba-tiba tanpa sadar air mata Lana menetes. Ia menyesalkan bahwa sang adik juga harus menjadi korban mitos karena kakaknya tak kunjung menikah. Dua tahun ini sebenarnya Lana mulai mau membuka diri. Ia mulai aktif dalam sebuah LSM . Pergaulannya pun juga semakin luas. Mau bagaimana lagi, kini usianya sudah 30 tahun dan ia belum mempunyai seorang calon suami yang mau menikahinya. Lana pun tidak bisa berbuat banyak untuk hal yang diluar kendalinya.
***
            “Saya terima nikah dan kawinnya Sarah Natasha binti Subroto Aji dengan seperangkat alat salat dan mas kawin tersebut tunai.”
            “Saaaah…,” ucap para hadirin kompak.
            Baru saja dalam sekali nafas, Bayu mengucapkan ijab qabul dengan sangat lancar. Sarah terlihat merona bahagia di samping Bayu.
            Di belakang pasangan pengantin baru itu, terlihat Lana menyeka air mata di sudut matanya. Lana bahagia melihat adiknya akhirnya bersatu dengan Bayu. Lana lalu menghampiri adiknya dan memeluknya dengan lembut.
            “Selamat ya, Dik! Kak Lana bahagia kok…,” lirih Lana di telinga Sarah.
            Sarah hanya bisa mengangguk diikuti isakan haru yang tiba-tiba tumpah begitu deras.
            Lana percaya bahwa tidak ada yang tertukar atas sebuah ketetapan. Ayah mereka, Subroto Aji, telah terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta setengah tahun lalu. Rokok yang menjadi teman sehari-hari Subroto Aji selama puluhan tahun telah merenggut sebagian besar paru-parunya.
Dulu, Lana terhalang untuk menikah karena dirinya adalah anak pertama yang jika menikah dengan anak ketiga ditakutkan akan membawa sial bagi keluarga. Orang dulu mengatakan bisa jadi kesialan itu dalam wujud meninggalnya anggota keluarga. Saat ini Lana masih gadis. Tidak ada yang tertukar atas sebuah ketetapan.
***
            “Apakah tempat duduk di samping Anda masih kosong,” seulas senyum menyapa Lana dengan hangat. Senyum yang terlalu manis yang pernah dilihat Lana.
            Lana menutup novel yang tengah dibacanya. Ia lalu mengangguk dan mempersilahkan pemilik senyum indah itu untuk duduk.
            Pemilik senyum indah itu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, Rega.”
“Lana.” Tangan kanan Lana menyambut uluran tangan Rega. Lana tersenyum tipis. Ia sedikit merasa asing karena jantungnya mulai berdetak lebih kencang setelah sekian lama tertidur. Desir jantung yang secara halus menyusupkan rasa bahagia yang indah.

***

0 komentar:

The Legend

10:57 cinta kata 0 Comments



         Ini tentang sosok penulis yang melegenda dalam sastra Barat. Tak ada yang menyangka, latar belakangnya adalah seorang dokter, tapi sayang praktiknya tidak laku. Pasien-pasien yang dirawatnya tidak betah. Entah mengapa ia pun tak tahu. Untuk mengobati kekecewaanya akibat tidak lakunya tempat dia praktik, menulislah ia. Kemudian ia mereka-reka tokoh. Terlahirlah sosok fiksi yang melengenda: Sherlock Holmes.

Uniknya, tokoh fiksi itu terinspirasi dari profesornya, John Bell, saat masih kuliah di Eidenburgh. A Study in Scarlet, muncul sebagai karyanya yang pertama. Kemudian menyusul sebagai yang kedua, A Sign of Four. Tapi itu semua tak laku. Tidak menggema dan kurang populer. Hingga akhirnya, dia menciptakan serial pendek The Adventure of Sherlock Holmes. Namanya langsung meledak, berkibar di tiang-tiang hati para pembaca.

Ia langsung menjadi legenda. Ia benar-benar selalu ditunggu. Saking meledaknya, Holmes bahkan lebih terkenal dari namanya sendiri. Bahkan, ada data yang menyebutkan bahwa ia, adalah penulis dengan bayaran tertinggi di dunia pada tahun 1920-an. Dokter yang gagal praktik tapi tersohor setelah menjadi penulis itu bernama Sir Arthur Conan Doyle.

Di Indonesia kita mengenal sosok legenda lain yang memerlukan waktu pengendapan 15 tahun dan 4 tahun untuk menyelesaikan sebuah novel yang melegenda, Ronggeng Dukuh Paruk. Ia sering menyingkat namanya AT, dan kita mengenal sosok penulis yang pernah jadi wartawan itu dengan nama Ahmad Tohari.

Ronggeng Dukuh Paruk bertema ndeso dan kaya akan wejangan kearifan lokal. Karya-karya AT mempunyai ruh humanis yang tinggi dan selalu menyentuh. Banyak kalangan yang jatuh cinta dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Tak tanggung-tanggung novel ini pun telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa, Jepang, Cina, Belanda, Jerman, dan Inggris.

Ide dan Inspirasi
Jika Sir Arthur Conan Doyle melegenda setelah terinspirasi dari profesornya, maka Ahmad Tohari menjadikan penghayatan terhadap lingkungan sebagai refleksi dari tulisannya. Lingkungan terdekat selalu bisa menjadi bank inspirasi. Karya mereka melegenda dan mampu menginspirasi jutaan generasi setelah mereka. Kali ini, kita belajar tentang satu pertanyaan: karya apa yang akan melegendakan kita?

Tersohor itu konsekuensi, tapi ini lebih pada refleksi; seberapa berani kita menantang diri untuk melompat lebih tinggi. Sebuah niat mulia untuk meninggalkan jejak bagi generasi setelah kita. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, maka berkarya dapat menjadi salah satu jalan kemanfaatan.

Seperti ungkapan Helvy Tiana Rosa berikut ini, “Saya ingin menulis untuk mencerahkan diri saya dan syukur-syukur untuk mencerahkan orang lain. Saya ingin menulis hal-hal yang bisa membuat orang bergerak ke arah yang lebih baik. Saya yakin menulis adalah pekerjaan penting sekali, seolah saya sedang memahat di antara abad yang berlari. Saya menulis agar hidup saya berarti, agar ada karya sebagai sejarah keberadaan saya di dunia ini.”

Kita menulis bukan semata untuk diri kita, tetapi juga demi kepentingan generasi berikutnya. Mereka butuh inspirasi, dan inspirasi selalu lebih mengena dan mereka percayai jika datang dari generasi sebelum mereka. Mereka butuh belajar banyak hal dari masa-masa yang berbeda dengan mereka. Kemudian mereka timang, bandingkan, kemudian mereka bagi lagi. Begitu seterusnya. Bukan hanya berbagi inspirasi, tapi kita juga menuai pahala, yang tak kenal henti, dari karya kita.


*)Dimuat di Majalah Nur Hidayah Edisi 102/Maret 2016/Jumadil Awal 1437 dalam rubrik Dunia Literasi. Semoga Bermanfaat!

0 komentar: