Siung Bawang Putih dari Nenek
Bagian 1)
Dio cemberut. Dia tidak mau ke rumah Nenek.
Kemarin adalah ulang tahun Dio dan Nenek ingin bertemu. Kata Ibu, Nenek sudah
kangen Dio.
“Dio nggak suka pergi ke desa, banyak nyamuk.”
“Ini, Ibu sudah bawa losion antinyamuk,” ucap Ibu sambil menunjuk losion anti nyamuk di samping tas.
Ibu tengah menyiapkan beberapa lembar pakaian untuk mereka bawa.
“Tapi Dio nggak suka kalau Nenek dekat-dekat
Dio terus. Bau Nenek nggak enak, bau balsem.”
Dio sebenarnya sayang sama Nenek. Apalagi
kalau Dio sudah dimasakkan bebek goreng spesial oleh Nenek.
Dengan berbagai bujukan, akhirnya Dio mau
diajak ke desa. Dengan syarat menu bebek goreng sudah terhidang saat Dio datang
nanti.
**
Itu Nenek. Nenek terlihat menunggu mereka di
depan rumah. Ketika Nenek memeluknya, Dio segera melepaskan pelukan Nenek. Dio
masih tidak suka bau Nenek.
“Bu, apa Dio boleh makan sekarang?”
“Cuci tangan dulu, Nak,” jawab Ibu sambil
tersenyum.
Nenek terlihat bahagia melihat cucu lelakinya
makan sangat lahap. Pagi-pagi sekali Nenek sudah menyuruh Om Tino untuk
menyembelih bebek. Nenek sendiri yang memasaknya.
Dio segera pergi ke halaman belakang. Di sana
ada kandang sapi dan ada tiga ekor sapi di dalamnya. Dio paling suka memberi
makan sapi. Kalau tidak ada nyamuk di malam hari dan Nenek tidak terus
dekat-dekat Dio, Dio sangat suka dengan desa.
Selain memberi makan sapi, Dio akan
mengejar-ngejar gerombolan bebek dan coba menangkapnya. Dio juga suka udara
desa yang sejuk yang membuatnya selalu lapar. Dio suka makan dan Nenek koki
terbaik setelah Ibu.
Malam itu Dio sangat kekenyangan. Dio tertidur
sebelum sikat gigi. Dio sering melupakan urusan sikat gigi. Ketika ingat untuk
sikat gigi pun, Dio akan sikat gigi dengan sangat cepat. Dio sikat gigi hanya
agar Ibu tidak memarahinya.
(Dimuat di Koran Berani, 21-27 September 2015/Tahun IX/No. 29)
**
(Bagian
2)
Pagi
dini hari, ayam belum juga berkokok tapi Dio sudah terjaga. Dio memegangi pipi
kirinya dan coba untuk membangunkan Ibu.
“Ibu, gigi Dio sakit sekali,” Dio
mengguncang-guncang pundak Ibu dan mulai menangis.
Matahari sudah mulai terik. Dio masih meraung
kesakitan akibat gigi gerahamnya yang berlubang. Ibu sudah berusaha memberi parasetamol untuk menghilangkan
nyeri, tapi Dio tidak suka minum obat.
“Ini coba Dio tempelkan di gigi yang lubang.”
Nenek tiba-tiba datang membawa setengah suing bawang putih mentah yang sudah
dikupas.
“Tapi baunya enggak enak,” Dio mencoba
menolak.
“Bau tidak enak itu tidak selamanya jelek.
Gigi Dio banyak bakterinya dan bawang putih ini bisa membunuh bakteri-bakteri
itu,” jelas Nenek.
Nenek biasa menggunakan bawang putih ketika
sakit gigi. Resep itu Nenek dapat dari Ibu Nenek.
Akhirnya Dio memasukkan bawang putih yang
dibawa nenek ke mulutnya. Dio memilih itu daripada harus minum obat. Dio
menempelkan bawang putih itu tepat di giginya yang berlubang. Setelah lima
menit Nenek menyuruh Dio mengeluarkan lagi bawang putih itu dan menyuruh Dio
berkumur dengan air hangat.
**
“Nenek, Dio pamit dulu ya,” Dio berpamitan
pada Nenek sambil memeluk Nenek beberapa saat.
Kemarin, setelah beberapa jam diberi
bawang putih, gigi Dio sudah tidak terasa nyeri. Walaupun baunya tidak enak,
ternyata bawang putih sangat bermanfaat.
Dio juga tahu dari Ibu kalau Nenek sering
menggunakan minyak angin untuk menghangatkan tubuh. Nenek semakin tua dan
semakin tidak tahan dengan hawa dingin. Itu yang membuat bau Nenek seperti bau
balsem.
Di kantong jaket Dio tersembunyi satu suing
bawang putih dari dapur Nenek. “Buat jaga-jaga kalau di jalan gigiku kambuh
lagi,” lirih Dio sambil meraba suing bawang putih itu.
Suing bawang putih yang mendekatkan Dio pada
neneknya. “Aku sayang Nenek,” kata Dio dalam hatinya.
*TAMAT*
(Dimuat di Koran Berani, 28 September-4 Oktober 2015/Tahun IX/No. 30)







0 komentar: