Siung Bawang Putih dari Nenek

11:29 cinta kata 0 Comments





Bagian 1)

Dio cemberut. Dia tidak mau ke rumah Nenek. Kemarin adalah ulang tahun Dio dan Nenek ingin bertemu. Kata Ibu, Nenek sudah kangen Dio.
“Dio nggak suka pergi ke desa, banyak nyamuk.”
“Ini, Ibu sudah bawa losion antinyamuk,” ucap Ibu sambil menunjuk losion anti nyamuk di samping tas. Ibu tengah menyiapkan beberapa lembar pakaian untuk mereka bawa.
“Tapi Dio nggak suka kalau Nenek dekat-dekat Dio terus. Bau Nenek nggak enak, bau balsem.”
Dio sebenarnya sayang sama Nenek. Apalagi kalau Dio sudah dimasakkan bebek goreng spesial oleh Nenek.
Dengan berbagai bujukan, akhirnya Dio mau diajak ke desa. Dengan syarat menu bebek goreng sudah terhidang saat Dio datang nanti.
**
Itu Nenek. Nenek terlihat menunggu mereka di depan rumah. Ketika Nenek memeluknya, Dio segera melepaskan pelukan Nenek. Dio masih tidak suka bau Nenek.
“Bu, apa Dio boleh makan sekarang?”
“Cuci tangan dulu, Nak,” jawab Ibu sambil tersenyum.
Nenek terlihat bahagia melihat cucu lelakinya makan sangat lahap. Pagi-pagi sekali Nenek sudah menyuruh Om Tino untuk menyembelih bebek. Nenek sendiri yang memasaknya.
Dio segera pergi ke halaman belakang. Di sana ada kandang sapi dan ada tiga ekor sapi di dalamnya. Dio paling suka memberi makan sapi. Kalau tidak ada nyamuk di malam hari dan Nenek tidak terus dekat-dekat Dio, Dio sangat suka dengan desa.
Selain memberi makan sapi, Dio akan mengejar-ngejar gerombolan bebek dan coba menangkapnya. Dio juga suka udara desa yang sejuk yang membuatnya selalu lapar. Dio suka makan dan Nenek koki terbaik setelah Ibu.


Malam itu Dio sangat kekenyangan. Dio tertidur sebelum sikat gigi. Dio sering melupakan urusan sikat gigi. Ketika ingat untuk sikat gigi pun, Dio akan sikat gigi dengan sangat cepat. Dio sikat gigi hanya agar Ibu tidak memarahinya.

(Dimuat di Koran Berani, 21-27 September 2015/Tahun IX/No. 29)
**

(Bagian 2)
Pagi dini hari, ayam belum juga berkokok tapi Dio sudah terjaga. Dio memegangi pipi kirinya dan coba untuk membangunkan Ibu.
“Ibu, gigi Dio sakit sekali,” Dio mengguncang-guncang pundak Ibu dan mulai menangis.
Matahari sudah mulai terik. Dio masih meraung kesakitan akibat gigi gerahamnya yang berlubang. Ibu sudah berusaha memberi parasetamol untuk menghilangkan nyeri, tapi Dio tidak suka minum obat.
“Ini coba Dio tempelkan di gigi yang lubang.” Nenek tiba-tiba datang membawa setengah suing bawang putih mentah yang sudah dikupas.
“Tapi baunya enggak enak,” Dio mencoba menolak.
“Bau tidak enak itu tidak selamanya jelek. Gigi Dio banyak bakterinya dan bawang putih ini bisa membunuh bakteri-bakteri itu,” jelas Nenek.
Nenek biasa menggunakan bawang putih ketika sakit gigi. Resep itu Nenek dapat dari Ibu Nenek.
Akhirnya Dio memasukkan bawang putih yang dibawa nenek ke mulutnya. Dio memilih itu daripada harus minum obat. Dio menempelkan bawang putih itu tepat di giginya yang berlubang. Setelah lima menit Nenek menyuruh Dio mengeluarkan lagi bawang putih itu dan menyuruh Dio berkumur dengan air hangat.
**
“Nenek, Dio pamit dulu ya,” Dio berpamitan pada Nenek sambil memeluk Nenek beberapa saat.
            Kemarin, setelah beberapa jam diberi bawang putih, gigi Dio sudah tidak terasa nyeri. Walaupun baunya tidak enak, ternyata bawang putih sangat bermanfaat.
Dio juga tahu dari Ibu kalau Nenek sering menggunakan minyak angin untuk menghangatkan tubuh. Nenek semakin tua dan semakin tidak tahan dengan hawa dingin. Itu yang membuat bau Nenek seperti bau balsem. 
Di kantong jaket Dio tersembunyi satu suing bawang putih dari dapur Nenek. “Buat jaga-jaga kalau di jalan gigiku kambuh lagi,” lirih Dio sambil meraba suing bawang putih itu.
Suing bawang putih yang mendekatkan Dio pada neneknya. “Aku sayang Nenek,” kata Dio dalam hatinya.
*TAMAT*

(Dimuat di Koran Berani, 28 September-4 Oktober 2015/Tahun IX/No. 30)

0 komentar:

Aya Terlambat Lagi

11:00 cinta kata 2 Comments



Aya tidak bisa tidur semalam. Kini ia harus mengayuh sepeda sekuat tenaga agar tidak terlambat.
“Teeeeeeeeetttt,” terdengar bunyi bel tanda masuk saat Aya berjarak tiga meter dari pagar sekolah.
“Huft.” Aya menekuk wajahnya sambil cemberut. Ia harus siap-siap bertemu Bu Ikke.
“Baiklah sekarang Aya masuk ke kelas dan besok jangan terlambat lagi ya.” Bu Ikke ternyata tidak marah, tapi Aya sangat malu karena ini kali pertama Aya terlambat. 
“Ternyata tidak bisa tidur itu tidak enak ya, badanku lemas sekarang,” ungkap Aya ke Melati yang duduk di sampingnya.
“Biar enggak lemas, yuk, kita jajan ke kantin,” ajak Melati sambil menggamit lengan Aya.
Aya menjadi sedikit bersemangat ketika membahas makanan. Aya sudah kelas 5 dan di masa pertumbuhannya ia jadi doyan makan. Selain suka makan, Aya juga suka membantu ibunya memasak. Aya juga suka makan camilan dan jajan.
Keesokan harinya…
“Ayaaa…ini sudah jam berapa, Nak?” Panggilan Bunda yang kesekian kali akhirnya berhasil membangunkan Aya.
Pandangan Aya langsung beralih ke jam dinding di kamarnya. Jarum jam sudah mengarah ke angka 6.30.
“Gimana ini, aku bisa-bisa terlambat lagi hari ini.” Aya segera siap-siap berangkat sekolah tanpa sarapan.
“Bunda, Aya berangkat.” Aya mencium tangan Bunda secepat kilat.
Aya mengelap peluh dikeringatnya. Karena terlambat untuk kedua kali, Aya dihadiahi Bu Ikke merapikan buku diperpustakaan.
 “Sudah selesai kah merapikan bukunya?” Bu Ikke tiba-tiba muncul dari belakang.
“Sudah, Bu. Apakah saya bisa pinjam buku ini?”
Bu Ikke mengangguk dan Aya kembali ke kelas dengan buku ditangannya.
“Kamu bawa buku apa, Ay?”
“Mel, sepertinya sekarang aku paham mengapa aku tidak bisa tidur kemarin?”
Aya mengingat malam sebelum dia terlambat sekolah untuk pertama kali, minggu lalu. Malam itu Bunda secara khusus memasak Sup Iga Sapi kesukaan Aya. Ia makan malam sangat lahap, bahkan sampai nambah dua kali. Dan malam itu Aya baru bisa tertidur pukul 03.00.
 “Sepertinya aku tidak bisa tidur karena makan terlalu banyak. Aku membacanya dari sini,” Aya menunjuk buku yang dibawanya.
“Kok bisa?” Melati pun jadi penasaran.
“Kamu baca ini deh, Mel.”
Melati mengikuti jari telunjuk Aya. Di sana tertulis bahwa tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan. Aya tidak bisa tidur karena makan banyak dan makan terlalu dekat dengan waktu tidurnya.
“Bahaya lainnya aku bisa kelebihan berat badan kalau terus makan, aku nggak mau gemuk.”
“Iya gemuk itu nggak enak,” Melati pun sepakat dengan sahabatnya.
Keduanya kini mendapat satu ilmu baru. Sekarang Aya akan makan ketika lapar dan makan secukupnya.


-TAMAT-

(Dimuat di Koran Berani, 14-20 September 2015/Tahun IX/No.28)

2 komentar:

Hidup Satu Kali (Lagi)

15:05 cinta kata 0 Comments

Hidup satu kali (lagi) bisa jadi perwakilan kata untuk menandai transformasi blog ini guys. Tagline “Cinta Kata” adalah nafas yang akan dibawa dalam postingan-postingan ke depan. So…hibernasi selama sepuluh bulan aku rasa cukup lah yaa (padahal berasa satu abad aja ninggalin ini blog….hihihi).  

Selama sepuluh bulan ke belakang, bisa dibilang aku sedang mencari idealisme dalam berkarya. Maka keinginan terkuat kala itu adalah mampu mewarnai Cerita Anak (CerNak) di dunia kepenulisan nusantara. Alasannya karena dunia anak adalah dunia tanpa beban yang begitu tulus dalam segala aspeknya. Ketika banyak anak-anak yang telah kehilangan dunia mereka karena gawai (red. gadget) yang semakin canggih, ada keinginan dalam diri untuk menyuguhkan keasyikan dunia mereka dalam sebuah tulisan.

Cerita anak selalu mengajak anak untuk belajar memahami dunia dengan cara sederhana. Menyuguhkan sesuatu yang dicintai anak adalah sebuah impian tersendiri agar anak-anak tetap mampu tumbuh sesuai usianya. Dari keinginan tersebut, mulailah aku sambangi toko buku loakan (buku bekas) dan kubelilah berpuluh-puluh majalah anak untuk kubaca dalam rangka belajar. Majalah-majalah anak yang baru pun tak lupa kupelajari juga.

Kebanyakan penulis cerita anak yang saat ini sudah punya nama besar, tentunya mewarnai masa kecil mereka dengan membaca majalah-majalah anak, seperti Bobo yang memang merajai majalah anak sampai sekarang. Usia Bobo sendiri sudah 42 tahun dengan eksistensi yang luar biasa. So, balik lagi ke masa kecil, secara pribadi membaca majalah anak bahkan sesuatu yang langka buatku. Paling banter aku membaca buku-buku di perpustakaan sekolah saat SD, itupun tidak sering.


Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Walaupun sedikit terlambat, kecintaan untuk membaca dan melahap buku hadir saat aku di bangku SMP, guys. Perpustakaan menjadi tempat yang paling sering kukunjungi selain kantin, hehe. Seperti kebanyakan pelajar, fiksi menjadi pilihan terbaik untuk jenis bacaan favorit.

Novel Totto Chan karya Tetsuko Kuroyanagimenjadi buku favorit yang begitu menginspirasi kala itu. Totto Chan menghadirkan bahasa yang sederhana tetapi sangat padat nilai moral. Diceritakan bahwa Totto Chan mampu melejit di sekolah barunya. Sekolah yang berlokasi di bekas gerbong kereta dengan Kepala Sekolah yang luar biasa mampu melihat dan menghargai setiap potensi anak. Sampai kemudian bertambah judul-judul novel inspiratif lain yang kubaca.


Dari sana muncullah kesadaran bahwa banyak wawasan yang bisa kita dapat dari sekadar membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang saling berkolerasi. Semua orang pasti sepakat dengan itu. Ibarat sebuah teko ketika ia kosong, ia tak mampu menumpahkan apapun. So, background knowledge atau pengetahuan apapun dalam kepala adalah primer bagi seorang penulis.

Keinginan untuk melangkah ke dunia CerNak berarti pula keharusan untuk mau tercebur total dalam dunia anak. Caranya adalah melahap segala jenis CerNak, banyak berkomunikasi dengan anak-anak, dan banyak bergaul dengan para penulis.

Mestakung (seMesta menduKung), keadaan yang sering datang untuk memuluskan hajat (keinginan) kita. Kuncinya ketika seseorang melangkah, ia akan melihat jalan keluar. Kedua kunci ketekunan, man jadda wa jadda.

Qadarullah, aku pun dipertemukan dengan penulis-penulis hebat serta orang-orang yang punya passion yang sama. Energy itu semakin menular hingga sebuah kesempatan lain hadir. Aku berkesempatan ikut dalam Kelas Merah Jambu Anak yang digawangi Mbak Nurhayati Pujiastuti sebagai ibu guru bagi kami.

Keefektifan berjama’ah, berkumpul dalam satu grup selama dua bulan full dan kami berkomitmen untuk menulis setiap hari. Ternyata kelas menulis bekerja dengan baik untuk menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri. Mungkin di lain kesempatan akan kuulas khusus tentang banyak inspirasi di Kelas Merah Jambu Anak (KMJA).

Kini dua karya CerNak-ku sudah nampang di Koran Berani. Dua karya hasil belajar di KMJA. Dua CerNak tersebut nanti akan aku posting juga di sini (tunggu yaa…). Maka pembuktian selanjutnya, menulis secara mandiri untuk kemudian eksis adalah langkah lain yang harus kuraih.

Semoga pula naskah-naskah CerNak yang sudah terkirim ke berbagai media tidak mengalami masa tunggu yang terlalu lama atau bahkan mengalami penolakan. Kirim dan lupakan adalah formula terjitu agar kita terus menulis, menulis, dan menulis. Salam produktif dan kreatif. []

0 komentar: