Cangkir Terakhir

16:16 cinta kata 0 Comments

Ilustrasi by Suryo Pct

Sudah senja ketika kutemukan alamatnya. Dua tanganku kini merasa perlu menautkan dua sisi resleting jaket. Dua jari kananku dengan cepat menarik tuas resleting ke atas, melindungiku dari dinginnya udara pedesaan di pelosok Jawa Tengah ini. Udara dingin serta aroma duka bersekongkol mewarnai suasana, menghinggapiku hingga kudukku meremang.

Bendera merah, lantunan ayat-ayat Al-quran, dan pelayat dengan busana nuansa gelap. Aku memang sedang berada di rumah duka. Di ruang utama rumah duka ini, terbujur kaku tubuh Mbak Rumi, putri sambung Kakekku. Kami sebaya, teman sekelas pula sejak SMP.

Dengan alasan sebaya itu, ia enggan kupanggil Bulik. Panggilan yg seharusnya kusematkan padanya sebagai anak dari wanita yang dinikahi Kakekku. Mbak Rumi juga terpaut usia cukup jauh dari Ibuku, putri semata wayang Kakek. Mbak Rumi, teman sekaligus keluarga yang lebih dari saudara kandung bagiku. Ia ikut dirawat Ibu sepeninggal Kakek dan Nenek.

"Darwis, kamu tidak segera menyolatkan Mbakyumu?" Ibu menepuk pundakku lembut. Menyadarkanku bahwa aku sedang duduk di depan jenazah Mbak Rumi.

Aku hampir tak mengenali tubuh Mbak Rumi. Sangat kecil untuk ukuran ideal seorang wanita, terlampau kecil malahan. Ibu mengatakan bahwa tubuh Mbak Rumi hanya tinggal tulang berbalut kulit. Tak berani kusingkap wajah di balik kafan itu. Biarlah kenangan semasa ia sehat saja yang perlu ku kenang.

Setelah kuambil wudhu, aku segera berdiri bersama jamaah lain yang hendak menyolatkan Mbak Rumi. Rangkaian takbir dan doa meluncur, mengiring saat-saat terakhir jasad Mbak Rumi berada di tengah-tengah kami.

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia.” Kuresapi setiap bacaan doa dengan sepenuh hati dan sepenuh keikhlasan melepasnya.

Maka sebelum senja benar-benar tumbang, jenazah Mbak Rumi siap dikebumikan. Kulihat Mas Herman, suami Mbak Rumi, nampak begitu kuyu. Di sampingnya ada dua anak laki-laki Mbak Rumi yang sudah beranjak remaja, Darma dan Danu. Kuamati Darma, putra sulungnya, lebih lama. 

Kami angkat keranda yang kelewat ringan itu. Letak makam yang hanya berjarak 200 meter dari rumah, membuat Mbak Rumi cukup diantar dengan kaki-kaki kami. Aku menoleh sebentar ke belakang, ada Ibu di sana bersama seorang anak perempuan usia dua tahun. Anak perempuan yang merupakan anak ketiga Mbak Rumi, Bianka namanya.

“Umur sakit Mbakyumu itu seumuran Bianka, Le.” Ibu menceritakan dalam telepon waktu itu, saat Mbak Rumi dirawat untuk kesekian kalinya di Rumah Sakit.

“Kasihan ya Rumi, kanker lambung itu berhasil menggerogotinya. Uangnya kurasa tak cukup untuk berobat.” Aku sedang membereskan kursi-kursi saat seorang tetangga mengucapkan itu kepada temannya.

“Hartanya keburu habis untuk khitanan si Danu, siapa suruh menghabiskan harta untuk pesta sebesar itu,” timpal temannya. Aku hampir saja menghampiri mereka, kalau saja Ibu tidak memanggilku. Menyuruh mereka untuk sedikit menjaga mulut. Menjaga aib mayit jelas sangat dianjurkan, terlebih tanah di makam Mbak Rumi masih basah.

 “Ini dari Mbakyumu.” Ibu menyerahkan sebuah bungkusan berwarna biru navy, berisi sepasang cangkir keramik putih. Aku tahu sepasang cangkir itu akan dikembalikan padaku. Tiba-tiba mataku mulai memanas. Tangis yang coba kutahan sejak mendengar kabar kepergian Mbak Rumi kini tak mampu lagi terbendung.
**

“Apakah kau suka?” Suara bening Mbak Rumi mengagetkanku. Aku sedang menulis sebuah roman sore itu, dua puluh tahun yang lalu.

“Tentu.” Aku menjawab pertanyaannya sambil mengangkat cangkir keramik berwarna putih, pemberiannya. Aku lalu menyodorkan cangkir lain yang serupa. Menyerahkannya pada Mbak Rumi dan membuatnya menemaniku menikmati sore bersama kopi dan roman yang masih menggantung ujung ceritanya. 

“Cangkir ini sangat sederhana, tapi terlihat begitu elegan. Seperti Mbak Rumi,” ucapku pada sosok sederhana di sampingku. 

Mbak Rumi hanya tersenyum tipis. Kakinya ia ayunkan sambil menghirup dan menyesap kopi dalam cangkir, perlahan. Kala itu, aku merasa berhasil menemukan inspirasi untuk menyelesaikan romanku. Meskipun kemudian kutahu, sampai sekarang pun roman itu tak pernah selesai.
**

“Darwis, bulan depan kamu harus pulang ke Jawa pokoknya.” Suara bening Mbak Rumi memenuhi gendang telingaku kala itu.

Kami memang sudah punya kehidupan masing-masing. Aku di Kalimantan dan Mbak Rumi di Jawa. Mbak Rumi dengan keluarganya yang bahagia bersama Mas Herman dan aku tentu saja masih membujang.

Ia mengabarkan kalau Danu, putra keduanya akan dikhitan. Akan ada pesta besar katanya. Hal yang tak dilakukan Mas Herman dan Mbak Rumi untuk Darma, si putra sulung. 
Hanya kukirim paket bingkisan untuk Danu. Bingkisan dengan kertas pembungkus berwarna biru navy, warna kesukaan kami. Aku memang tak menjanjikan untuk pulang kala itu.

Dari Ibu, hanya kudengar bahwa rumah Mb Rumi sudah berkeramik, dicat indah, dan ada pagar besi pula. Menghelat pesta khitanan besar-besaran adalah impian lain Mbak Rumi, itu yang diceritakan Ibu. Ada campur sari yang ditanggap tiga hari tiga malam. Seluruh desa diundang. Bahkan mendatangkan pelawak dari ibu kota pula. Kala itu ada sebersit perasaan, bahwa Mbak Rumi bukan seperti Mbak yang kukenal lagi.

Kabar berikutnya, sebenarnya tak terlalu mengagetkanku. Sumbangan yang didapat tak bisa menutup biaya perayaan khitanan. Pesta yang berbuntut hutang tentu sesuatu yang klise.

Dari episode itu semua kesulitan seakan menghampiri Mbak Rumi. Mas Herman kena PHK dan Mbak Rumi mulai sakit-sakitan. Satu kebahagiaan besar di tengah itu adalah lahirnya Bianka, anak perempuan yang diidam-idamkan.

Sayangnya, Mbak Rumi terlalu rapuh untuk mengasuh Bianka. Kanker lambung stadium lanjut ternyata tervonis untuk Mbak Rumi. Hingga tubuhnya menyusut drastis dalam dua tahun terakhir sebelum ajal menjemputnya.
**

Mencintai anak kakekku tentu hal yang tabu di masyarakat. Kami saling merasa nyaman dan bergantung satu sama lain. Menjadi teman dan tempat curhat Mbak Rumi, mungkin itu fungsiku kala itu.

Hingga suatu sore, saat Ibu tak di rumah. Saat dua cangkir keramik putih menjadi saksi gejolak masa muda kami. Cangkir terakhir yang kami nikmati bersama, sebelum tiga bulan kemudian Mas Herman melamar Mbak Rumi.

“Maaf telah membuatmu menanggung dosa masa lalu itu,” ucapku lebih pada diriku sendiri.

Aku ada di samping nisan Mbak Rumi saat ini. Menyapanya sebelum aku kembali ke Kalimantan. Aku di sini bersama seseorang yang diwasiatkannya padaku. Seseorang yang cukup memanggilku paman, tanpa perlu tahu masa lalu dibalik wasiat ini.

“Darma, ucapkan salam pada Ibumu. Kita akan berangkat setelah ini.” Aku berdiri mensejajari remaja lelaki, darah dagingku. 
***

Dimuat di Majalah Nur Hidayah edisi 120/September 2017 (dengan beberapa penyesuaian oleh Redaksi). 


"Cangkir Terakhir" adalah hasil belajar di Kelas Rumah Karya bersama Mbak Yulina Trihaningsih, dkk. Senang bisa mengenal dan belajar bersama kalian... Love you all ^^

0 komentar: