Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

14:00 cinta kata 0 Comments


Ada seorang kawan yang lama tinggal di Arab Saudi. Ia memiliki stigma awal bahwa orang-orang Arab itu malas-malas. Di sana ia menjadi manajer yang membawahi beberapa staf, ada orang Yaman, India, dan Arab. Suatu hari staf yang orang Arab tidak masuk kerja tanpa kabar yang jelas. Staf tersebut masih muda dan tinggal bersama orang tuanya.

Si manajer lalu menelepon anak muda tersebut, menanyakan kenapa dia tidak masuk. Si pemuda menjawab badannya agak kurang sehat, meskipun begitu sebenarnya masih kuat untuk ke kantor. Mendengar jawaban pemuda tersebut, sang manajer meminta agar si pemuda masuk karena hari itu ia sangat membutuhkan kehadiran si pemuda. 

Dengan sangat sopan tapi yakin dia menjawab, tidak diizinkan oleh ibunya. “Maaf Boss, saya lebih baik dipecat Anda, daripada saya melawan keinginan ibu saya, beliau memaksa saya untuk istirahat dan tidak berangkat, buat apa kerja kalau tidak didoakan ibu saya.” Jawaban yang berhasil menampar manajer asal Indonesia itu. Kalau di Indonesia, permintaan ibu seperti itu tidak akan dianggap, malah kebanyakan akan memarahi ibu, protes menentang permintaan itu.

Hal lain, dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Arab memang cenderung santai saat bekerja. Jam 9 masuk kerja, jam 10 sudah keluar kantor, ngopi-ngopi dulu, pekerjaan bisa berhari hari selesai, dan lain sebagainya. Tapi saat Dhuha dan adzan shalat berkumandang, mereka bergegas untuk pergi ke Masjid, tidak ada kompromi, walaupan sedang rapat/ meeting, mengerjakan sesuatu. Tidak ada tawar menawar, saat waktu shalat orang-orang Arab sudah menghilang pergi ke masjid. 

Pekerjaan bukanlah sesuatu yang utama buat mereka, mereka sangat meyakini sekali rezeki itu dari Allah, kadang bekerja itu bagi mereka hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk menunggu waktu shalat, sangat kental sekali bagaimana mereka itu benar-benar mengutamakan shalat.

Seperti saat beberapa waktu yang lalu Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al-Saud meninggalkan Obama di tengah-tengah pertemuan mereka, karena waktu Ashar sudah tiba. Raja Salman adalah muslim yang taat, memilih segera shalat pada waktunya karena itu amat dicintai Allah. Maka pantaslah jika Allah begitu mencintai bangsa Arab karena pemimpin dan rakyatnya sama-sama memilih apa yang dicintai Allah: shalat pada waktunya dan mengutamakan berbuat baik kepada Ayah dan Ibu. [] 

0 komentar: