Tantangan, Ketulusan, dan Kebahagiaan Sukarelawan

15:40 cinta kata 0 Comments


Dunia kesukarelawanan sosial (volunteers) adalah kegiatan positif yang menarik bagi individu-individu yang “terpanggil”. Dunia sosial ini bisa membawa seseorang pada pengalaman luar biasa, jejaring pertemanan, ilmu-ilmu baru di luar bidang yang selama ini ditekuni, dan tentu saja kebahagiaan. Semangat kesukarelawanan sosial dewasa ini membawa seseorang atau sekelompok orang untuk membuat komunitas atau gerakan sosial yang berdampak positif. Tidak serta merta mengubah dunia secara luas tapi setidaknya ia mau bergerak untuk mengubah secuil dunia menjadi lebih baik.
Indonesia memiliki populasi penduduk di urutan keempat dunia dengan jumlah penduduk 255.993.674 jiwa atau sekitar 3,5% dari keseluruhan Jumlah Penduduk Dunia (data CIA World Factbook Tahun 2015). Pendidikan untuk bangsa sebesar Indonesia menjadi sesuatu yang mendesak untuk dibangun, karena urgensinya sebagai modal pembangunan bangsa.
Berbicara tentang volunteers dalam dunia pendidikan Indonesia salah satu yang cukup dikenal masyarakat adalah Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). GIM dimulai sejak 2010 dan mengajak pemuda-pemuda terbaik negeri ini untuk mau menjadi pengajar muda di pelosok Indonesia. Praktis kegiatan ini akan sepaket dengan ketidakenakan dan ketidaknyamanan di daerah yang dituju. Tapi bagi orang-orang yang terpanggil, justru menjadi tantangan tersendiri, dalam ketidaknyamanan ada kebahagiaan. Menjadi orang yang bermanfaat adalah kebahagiaan yang mereka kejar.
Sebut saja Scott Neeson, jabatan sebagai presiden 20th Century Fox International rela dilepasnya untuk melakukan kegiatan sukarelawan dengan membantu warga miskin di Kamboja. Nesson melepas karir menjanjikannya dan gaji sebesar 1 milliar USD per tahun. Dia lalu menjual seluruh hartanya di Australia untuk pindah ke Kamboja. Neeson tergerak untuk mengabdikan hidupnya membantu anak-anak miskin di Phnom Penh setelah melakukan kunjungan pada 2003. Dan tahun 2014 saja, dia berhasil membantu 2.400 anak-anak miskin di Phnom Penh dengan dana Rp 120 miliar lewat Cambodian Children’s Fund yang digawanginya. “Momen saat aku menginjakkan kakiku di sana adalah momen yang paling berpengaruh dalam hidupku,” ucap Scott Neeson.

Salah satu siswa Kelas 5 belajar memotret (kebahagiaan) dalam Kelas Inspirasi Boyolali (KIBoy)_10 Sept 2016

Kami melingkar dengan Merapi sebagai Latar

Momen perpisahan dengan para siswa SDN 2 Genting di KIBoy

Berpose di halaman SDN 2 Genting Boyolali dengan berlatar Merapi
Membantu anak-anak Indonesia membungkus mimpi
Menjemput bahagia

Gerakan volunteers lain yang juga berasal dari rahim GIM adalah Kelas Inspirasi (KI). Sasaran gerakan ini adalah para profesional yang menjadi guru sehari di SD-SD marginal. Merelakan satu hari kerja untuk cuti dan membangun mimpi-mimpi anak-anak SD. Menjelaskan tentang apa profesi mereka sehingga akan memberikan gambaran referensi bagi pondasi cita-cita anak-anak Indonesia.
Ada sekitar 50 juta siswa di Indonesia. Sebagian di antara mereka terancam putus sekolah, bahkan tak pernah menyelesaikan jenjang pendidikan menengah apalagi pendidikan tinggi. Maka mimpi dan cita-cita adalah salah satu faktor yang membedakan antara memutuskan berhenti atau tetap bersekolah.
Kebaikan yang bergetar dari hati akan diterima dengan mudah oleh hati lainnya. KI terus tumbuh dan kian meluas. Kontribusi dari kaum profesional dalam andil meningkatkan kualitas pendidikan menjadi output yang diharapkan. Banyak di antara relawan KI yang terus terlibat mengikuti KI di daerah manapun dan meninggalkan jejak inspirasi. Walaupun dalam dunia kesukarelawanan ini tetap ada seleksi.

Tidak berlebihan ketika Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif GIM pernah mengatakan bahwa ketika seseorang memilih bergabung dalam sebuah gerakan sosial pastilah akan ada tantangan ketulusan, akan ada yang mundur, mundur, dan itu sudah biasa terjadi. Mereka yang memiliki ketulusan yang kuat sajalah yang akan bertahan lama. Ketulusan itu dari hati, dan itu tidak bisa dipaksakan. []

[Dimuat dalam Majalah Nur Hidayah/edisi110/November 2016]

0 komentar: