Tantangan, Ketulusan, dan Kebahagiaan Sukarelawan
Dunia
kesukarelawanan sosial (volunteers) adalah kegiatan positif yang menarik
bagi individu-individu yang “terpanggil”. Dunia sosial ini bisa membawa seseorang
pada pengalaman luar biasa, jejaring pertemanan, ilmu-ilmu baru di luar bidang
yang selama ini ditekuni, dan tentu saja kebahagiaan. Semangat kesukarelawanan
sosial dewasa ini membawa seseorang atau sekelompok orang untuk membuat
komunitas atau gerakan sosial yang berdampak positif. Tidak serta merta
mengubah dunia secara luas tapi setidaknya ia mau bergerak untuk mengubah
secuil dunia menjadi lebih baik.
Indonesia memiliki
populasi penduduk di urutan keempat dunia dengan jumlah penduduk 255.993.674
jiwa atau sekitar 3,5% dari keseluruhan Jumlah Penduduk Dunia (data CIA World
Factbook Tahun 2015). Pendidikan untuk bangsa sebesar Indonesia menjadi sesuatu
yang mendesak untuk dibangun, karena urgensinya sebagai modal pembangunan
bangsa.
Berbicara tentang volunteers
dalam dunia pendidikan Indonesia salah satu yang cukup dikenal masyarakat adalah
Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). GIM dimulai sejak 2010 dan mengajak pemuda-pemuda
terbaik negeri ini untuk mau menjadi pengajar muda di pelosok Indonesia. Praktis
kegiatan ini akan sepaket dengan ketidakenakan dan ketidaknyamanan di daerah
yang dituju. Tapi bagi orang-orang yang terpanggil, justru menjadi tantangan
tersendiri, dalam ketidaknyamanan ada kebahagiaan. Menjadi orang yang bermanfaat
adalah kebahagiaan yang mereka kejar.
Sebut saja Scott Neeson,
jabatan sebagai presiden 20th Century
Fox International rela dilepasnya untuk melakukan kegiatan sukarelawan dengan
membantu warga miskin di Kamboja. Nesson melepas karir menjanjikannya dan gaji
sebesar 1 milliar USD per tahun. Dia lalu menjual seluruh hartanya di Australia
untuk pindah ke Kamboja. Neeson tergerak untuk mengabdikan hidupnya membantu
anak-anak miskin di Phnom Penh setelah melakukan kunjungan pada 2003. Dan tahun
2014 saja, dia berhasil membantu 2.400 anak-anak miskin di Phnom Penh dengan
dana Rp 120 miliar lewat Cambodian Children’s Fund yang digawanginya. “Momen saat aku menginjakkan kakiku di sana adalah
momen yang paling berpengaruh dalam hidupku,” ucap Scott Neeson.
![]() |
| Salah satu siswa Kelas 5 belajar memotret (kebahagiaan) dalam Kelas Inspirasi Boyolali (KIBoy)_10 Sept 2016 |
![]() |
| Kami melingkar dengan Merapi sebagai Latar |
![]() |
| Momen perpisahan dengan para siswa SDN 2 Genting di KIBoy |
| Berpose di halaman SDN 2 Genting Boyolali dengan berlatar Merapi |
![]() |
| Membantu anak-anak Indonesia membungkus mimpi |
![]() |
| Menjemput bahagia |
Gerakan volunteers
lain yang juga berasal dari rahim GIM adalah Kelas Inspirasi (KI). Sasaran
gerakan ini adalah para profesional yang menjadi guru sehari di SD-SD marginal.
Merelakan satu hari kerja untuk cuti dan membangun mimpi-mimpi anak-anak SD.
Menjelaskan tentang apa profesi mereka sehingga akan memberikan gambaran referensi
bagi pondasi cita-cita anak-anak Indonesia.
Ada sekitar 50
juta siswa di Indonesia. Sebagian di antara mereka terancam putus sekolah,
bahkan tak pernah menyelesaikan jenjang pendidikan menengah apalagi pendidikan
tinggi. Maka mimpi dan cita-cita adalah salah satu faktor yang membedakan
antara memutuskan berhenti atau tetap bersekolah.
Kebaikan yang
bergetar dari hati akan diterima dengan mudah oleh hati lainnya. KI terus
tumbuh dan kian meluas. Kontribusi dari kaum profesional dalam andil
meningkatkan kualitas pendidikan menjadi output yang diharapkan. Banyak
di antara relawan KI yang terus terlibat mengikuti KI di daerah manapun dan
meninggalkan jejak inspirasi. Walaupun dalam dunia kesukarelawanan ini tetap ada
seleksi.
Tidak berlebihan ketika Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif
GIM pernah mengatakan bahwa ketika seseorang memilih bergabung dalam sebuah
gerakan sosial pastilah akan ada tantangan ketulusan, akan ada yang mundur,
mundur, dan itu sudah biasa terjadi. Mereka yang memiliki ketulusan yang kuat
sajalah yang akan bertahan lama. Ketulusan itu dari hati, dan itu tidak bisa
dipaksakan. []
[Dimuat dalam Majalah Nur Hidayah/edisi110/November 2016]






0 komentar: