Faith
“Apa???
Lamaran dari cowok sebaik Bayu kau tolak Sar?” teriak Rani yang duduk di
sebelah Sarah di sebuah sudut café milik Sarah.
“Iya,
gak usah heboh gitu dong. Kalau jodoh juga gak ke mana. Kamu kan tahu, Ran, aku
gak mungkin mendahului Kak Lana untuk menikah duluan. Aku gak ingin Kakakku
satu-satunya itu merasa tersinggung.”
“Aku
mau mengecek pembukuan hari ini. Kamu enak-enakin dulu kopi dan baca buku
favoritmu itu ya temanku yang paling cantiik.” Sarah pun berlalu dan beralih di
belakang meja kerjanya di salah satu ruangan café.
Sarah
sebenarnya tidak benar-benar sedang mengecek pembukuan cafénya. Ia hanya ingin
sendiri untuk beberapa saat. Sarah sadar bahwa dirinya baru saja menolak
lamaran seorang Bayu yang juga sangat dicintainya. Ia pun terisak sendirian di
ruang kerjanya.
“Maafkan aku Bay, aku tidak bisa menerima lamaranmu
sekarang. Aku tidak ingin menikah mendahului kakakku, kau kan tahu itu Bay?”
“Tapi
sampai berapa lama lagi Sar aku harus menunggu untuk menyuntingmu? Apa di zaman
modern ini kamu juga percaya dengan mitos bahwa kakakmu akan menjadi perawan
tua kalau kau dahului? Jodoh setiap orang itu sudah ada garisnya.”
“Aku
tidak sepenuhnya percaya itu. Aku hanya ingin menghormati perasaan Kak Lana.
Itu saja.”
***
Di
usianya yang ke-26, Sarah sudah terhitung sebagai pengusaha muda yang cukup
sukses. Ia adalah owner sebuah café library.
Sebuah tempat nongkrong sekaligus persewaan buku, di mana keduanya berada di
satu tempat yang cozy. Hobi membaca
yang dimilikinya ingin ia tularkan kepada masyarakat luas khususnya anak muda. Café
JJ mulai dirintis Sarah sejak ia
duduk di semester 3 jurusan manajemen. JJ
adalah singkatan dari Journal of Journey,
karena Sarah ingin menjadikan café JJ tempat singgah banyak orang.
Di
Café JJ pula tempat pertemuan Sarah
dengan Bayu. Saat itu hujan sangat lebat dan café menjadi tempat persinggahan
yang tepat untuk berteduh. Saat itu pegawai Sarah belum sebanyak sekarang.
Pengunjung yang membludak membuat Sarah cukup repot. Padahal kondisi tubuhnya
kurang fit hari itu. Tiba-tiba saat selesai meletakkan pesanan di atas salah
satu meja, Sarah jatuh pingsan.
Saat
tersadar dari pingsannya, Sarah melihat sosok pangeran yang tengah memeriksa
nadinya. Pangeran itu ternyata seorang dokter muda bernama Bayu. Sarah langsung
jatuh cinta pada pandangan pertama.
Setelah
diperiksa ternyata tekanan darah Sarah drop. Berawal dari ucapan terima kasih
kemudian tanya terkait resep obat, hubungan mereka kian dekat dan berkembang
menjadi lebih dari teman.
Tidak
ada prosesi tembak-menembak di antara mereka. Hubungan yang terjalin terus
mengalir dan masing-masing dari mereka cukup tahu bahwa mereka saling mencintai
dan mampu saling mengisi. Bayu adalah sosok cerdas yang mampu mengimbangi apapun
topik diskusi yang diangkat Sarah. Keduanya sama-sama book addict dan pecinta traveling.
Jadilah mereka sangat klop walaupun bukan dari background pendidikan yang sama.
Kini
sudah tiga tahun Sarah mengenal Bayu. Ketika Bayu sudah lulus spesialis dan
Sarah sudah begitu matang sebagai wanita, Bayu ingin segera meresmikan hubungan
mereka. Ujungnya justru penolakan dari Sarah yang terjadi.
***
Sebenarnya
Bayu sudah tahu kalau ujungnya akan seperti ini. Pernah ia mengobrol dengan
ayah Sarah mengenai rencananya ini. Dengan tegas Bapak Subroto Aji, ayah Sarah,
tidak menghendaki putri keduanya menikah mendahului putri pertamanya. Keluarga Sarah adalah keluarga Jawa yang
masih memegang teguh tradisi nenek moyang. Dalam mitos yang beredar di
masyarakat Jawa seorang adik perempuan tidak boleh menikah terlebih dahulu
melangkahi kakak perempuannya. Jika itu dilanggar maka sang kakak akan menjadi
perawan tua yang tak kunjung bertemu jodohnya.
Saat
itu tidak sengaja Lana mendengar obrolan antara ayahnya dan Bayu. Ia merasa
sangat bersalah karena menjadi penghalang pernikahan adik semata wayangnya.
Lana adalah wanita Jawa modern yang tidak percaya dengan mitos. Ada alasan
tersendiri mengapa ia belum bisa menjalin komitmen pernikahan dengan seorang
pria. Di lain sisi meyakinkan orang tua yang sangat kolot sama saja dengan
meniupkan udara kedalam balon yang bocor, tidak ada hasilnya.
Sebelumnya
Lana adalah gadis yang ceria dan supel. Ia mempunyai banyak teman dan aktif di berbagai
organisasi kampus. Ia pun menjadi gadis yang popular karena prestasi dan
keaktifannya di organisasi. Sampai suatu ketika ia didekati seorang laki-laki
bernama Ringgo.
Ringgo
adalah presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampus tempat Lana belajar.
Mereka pun akhirnya menjalin hubungan yang lebih dekat hingga masing-masing
dari mereka lulus. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah.
Masalah
pun datang. Subroto Aji, ayah Lana, menolak pernikahan tersebut. Ringgo adalah
anak ketiga dalam keluarganya dan Lana adalah anak pertama di mana anak pertama
dan ketiga tidak boleh menikah dalam tradisi Jawa. Jika itu dilaksanakan maka
akan menimbulkan kesengsaraan dan kesialan.
Merasa
sakit hati dengan tanggapan ayah Lana, Ringgo akhirnya mundur dan meninggalkan
Lana begitu saja. Tidak berapa lama, Lana mendengar Ringgo telah menikah dengan
gadis yang dijodohkan kedua orang tua Ringgo.
Sejak
saat itu Lana memutuskan untuk menutup diri. Pekerjaan yang dilakoni Lana pun
tidak banyak berhubungan dengan orang banyak. Ia bekerja sebagai editor lepas
di beberapa penerbitan di Jawa. Ia adalah korban mitos yang dijunjung tinggi
oleh orang tuanya sendiri. Ia pun tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang
pria pun setelah Ringgo. Bagi Lana itu adalah bentuk protes dirinya kepada
orang tuanya.
Tiba-tiba
tanpa sadar air mata Lana menetes. Ia menyesalkan bahwa sang adik juga harus
menjadi korban mitos karena kakaknya tak kunjung menikah. Dua tahun ini
sebenarnya Lana mulai mau membuka diri. Ia mulai aktif dalam sebuah LSM . Pergaulannya
pun juga semakin luas. Mau bagaimana lagi, kini usianya sudah 30 tahun dan ia
belum mempunyai seorang calon suami yang mau menikahinya. Lana pun tidak bisa
berbuat banyak untuk hal yang diluar kendalinya.
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Sarah Natasha binti
Subroto Aji dengan seperangkat alat salat dan mas kawin tersebut tunai.”
“Saaaah…,” ucap para hadirin kompak.
Baru saja dalam sekali nafas, Bayu mengucapkan ijab qabul
dengan sangat lancar. Sarah terlihat merona bahagia di samping Bayu.
Di belakang pasangan pengantin baru itu, terlihat Lana
menyeka air mata di sudut matanya. Lana bahagia melihat adiknya akhirnya
bersatu dengan Bayu. Lana lalu menghampiri adiknya dan memeluknya dengan lembut.
“Selamat ya, Dik! Kak Lana bahagia kok…,” lirih Lana di
telinga Sarah.
Sarah hanya bisa mengangguk diikuti isakan haru yang
tiba-tiba tumpah begitu deras.
Lana percaya bahwa tidak ada yang tertukar atas sebuah
ketetapan. Ayah mereka, Subroto Aji, telah terlebih dahulu menghadap Sang
Pencipta setengah tahun lalu. Rokok yang menjadi teman sehari-hari Subroto Aji selama
puluhan tahun telah merenggut sebagian besar paru-parunya.
Dulu,
Lana terhalang untuk menikah karena dirinya adalah anak pertama yang jika
menikah dengan anak ketiga ditakutkan akan membawa sial bagi keluarga. Orang dulu
mengatakan bisa jadi kesialan itu dalam wujud meninggalnya anggota keluarga. Saat
ini Lana masih gadis. Tidak ada yang tertukar atas sebuah ketetapan.
***
“Apakah tempat duduk di samping Anda masih kosong,”
seulas senyum menyapa Lana dengan hangat. Senyum yang terlalu manis yang pernah
dilihat Lana.
Lana menutup novel yang tengah dibacanya. Ia lalu
mengangguk dan mempersilahkan pemilik senyum indah itu untuk duduk.
Pemilik senyum indah itu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan,
Rega.”
“Lana.”
Tangan kanan Lana menyambut uluran tangan Rega. Lana tersenyum tipis. Ia sedikit
merasa asing karena jantungnya mulai berdetak lebih kencang setelah sekian lama
tertidur. Desir jantung yang secara halus menyusupkan rasa bahagia yang indah.
***


0 komentar: