Satu Hari Sebelum Dua Lima

14:36 cinta kata 2 Comments


Pencapaian dan harapan, mungkin dua kata yang sering dimunculkan seiring bertambahnya usia kita. Dan “kapan” menjadi kata tanya yang sering didengungkan orang lain yang perhatian (red. Kepo) terhadap kehidupan pribadi kita, iya nggak sih? Contohnya nih yaa…. “Kapan nih diwisuda?”; “Kapan kerja?”; “Kapan Nikah?”; “Kapan punya anak?”; “Kapan mantu?”; “Kapan punya cucu?”; daaann... “Kapan mati?” (Eitsss.. kalimat tanya terakhir yang paling jarang dilontarkan sih.. hihihi.. )
Angka dua lima (atau dua puluh lima) adalah sebuah gerbang kematangan menurut banyak kacamata. Dua lima juga berarti seperempat abad lhoo.. (klo sudah pakai kata abad nih jadi berasa benar-benar mateng.. yang penting nggak kematengan aja sih).
Jeng.. jeng.. dan besok ketika matahari terbit dari ufuk Timur (sok puitis dikit..) aku nih, tiba-tiba sudah dua lima. Ehmm.. campur aduk, gado-gado, dan yang pasti lebih mikir. “Kamu udah dua lima lho, udah ngelakuin apa saja? Udah ngasih manfaat apa saja?...” Dan saya hanya terdiam dalam artian bukan bengong sih, tapi langsung flashback ke waktu yang sudah berlalu.
Banyak harapan aku yang sudah tercapai di usia ini dan banyak pula yang belum bisa tercapai. Ibaratnya nih kita bebas menulis dan menggantungkan harapan tapi tentu saja yang pegang kendali dan penghapus adalah Allah Azza Wa Jalla. Di usia ini status sebagai beban (..beban dalam artian positif sih) sudah berkurang. Dua tahun lalu aku sudah resmi diwisuda sebagai Sarjana dan dua tahun ini pula sedikit banyak diriku telah mampu berdikari. Walaupun dengan penghasilan standar, aku sudah bisa lah cari uang jajan dan uang belanja sendiri.
Sesuatu yang gawat adalah ketika di titik ini aku lebih banyak stagnan (jalan di tempat). Ujung-ujungnya situasi ini melahirkan kejenuhan baru yang memang harus dilawan. Tidak banyak memang gebrakan yang berhasil kulakukan. Tapi salah satunya di Agustus tahun ini aku ikut kelas menulis Merah Jambu Anak dan dua Cerita Anak karyaku berhasil tembus media pada akhir September dan awal Oktober ini. Satu prestasi yang menurutku adalah sebuah titik awal yang harus terus dikejar.
Sebenarnya titik awal ini yang ingin aku lakukan terus sampai masa yang akan datang. Bukan sebagai karyawan yang nyambi sebagai penulis, tetapi sebagai penulis professional produktif. Maka jalan di tempat bukan lagi pilihan. Saat ini meskipun jalan dengan langkah lambat, tapi aku berharap perjalanan menuju penulis profesional lambat laun semakin tinggi kecepatannya.
Bekerja sebagai seorang reporter majalah seperti saat ini sedikit banyak memudahkan aku untuk lebih mahir mengolah kata. Maka sebagian besar waktu yang kuhabiskan di depan komputer juga bisa kumanfaatkan untuk berkarya dalam menulis cerita. Dan cerita anak aku rasa akan menjadi fokusku satu tahun ke depan.
Berproses terus kulakukan. Berproses sebagai hamba yang mampu memenangkan Rabb-Nya dalam segala kondisi. Berproses sebagai anak yang mampu berperan sebagai mutiara bagi orang tua. Berproses sebagai bagian masyarakat. Dan Berproses untuk menjadi insan kamil untuk kemudian menjadi pemenang dunia dan akhirat.
       Di dua lima yang hampir kujalani, ada satu yang masih kutunggu. Jawaban untuk menyempurnakan agama. Ini nanti adalah gerbang awal lagi yang akan menentukan banyak hal ke depan. Manusia boleh berencana tapi Allah Azza Wa Jalla jualah yang menentukan. Percaya kok bahwa semua akan indah pada waktunya. Bukan mengejar tepat waktu, tapi di waktu yang tepat (eaaaa.. ). ^^
  

2 komentar: