Satu Hari Sebelum Dua Lima
Pencapaian dan harapan, mungkin dua kata yang
sering dimunculkan seiring bertambahnya usia kita. Dan “kapan” menjadi kata tanya
yang sering didengungkan orang lain yang perhatian (red. Kepo) terhadap
kehidupan pribadi kita, iya nggak sih? Contohnya nih yaa…. “Kapan nih diwisuda?”;
“Kapan kerja?”; “Kapan Nikah?”; “Kapan punya anak?”; “Kapan mantu?”; “Kapan
punya cucu?”; daaann... “Kapan mati?” (Eitsss.. kalimat tanya terakhir yang
paling jarang dilontarkan sih.. hihihi.. )
Angka dua lima (atau dua puluh lima) adalah
sebuah gerbang kematangan menurut banyak kacamata. Dua lima juga berarti
seperempat abad lhoo.. (klo sudah pakai kata abad nih jadi berasa benar-benar
mateng.. yang penting nggak kematengan aja sih).
Jeng.. jeng.. dan besok ketika matahari terbit
dari ufuk Timur (sok puitis dikit..) aku nih, tiba-tiba sudah dua lima. Ehmm..
campur aduk, gado-gado, dan yang pasti lebih mikir. “Kamu udah dua lima lho,
udah ngelakuin apa saja? Udah ngasih manfaat apa saja?...” Dan saya hanya
terdiam dalam artian bukan bengong sih, tapi langsung flashback ke waktu yang
sudah berlalu.
Banyak harapan aku yang sudah tercapai di usia
ini dan banyak pula yang belum bisa tercapai. Ibaratnya nih kita bebas menulis
dan menggantungkan harapan tapi tentu saja yang pegang kendali dan penghapus
adalah Allah Azza Wa Jalla. Di usia ini status sebagai beban (..beban dalam
artian positif sih) sudah berkurang. Dua tahun lalu aku sudah resmi diwisuda
sebagai Sarjana dan dua tahun ini pula sedikit banyak diriku telah mampu berdikari.
Walaupun dengan penghasilan standar, aku sudah bisa lah cari uang jajan dan
uang belanja sendiri.
Sesuatu yang gawat adalah ketika di titik ini aku
lebih banyak stagnan (jalan di tempat). Ujung-ujungnya situasi ini melahirkan
kejenuhan baru yang memang harus dilawan. Tidak banyak memang gebrakan yang
berhasil kulakukan. Tapi salah satunya di Agustus tahun ini aku ikut kelas
menulis Merah Jambu Anak dan dua Cerita Anak karyaku berhasil tembus media pada
akhir September dan awal Oktober ini. Satu prestasi yang menurutku adalah
sebuah titik awal yang harus terus dikejar.
Sebenarnya titik awal ini yang ingin aku lakukan
terus sampai masa yang akan datang. Bukan sebagai karyawan yang nyambi sebagai
penulis, tetapi sebagai penulis professional produktif. Maka jalan di tempat
bukan lagi pilihan. Saat ini meskipun jalan dengan langkah lambat, tapi aku
berharap perjalanan menuju penulis profesional lambat laun semakin tinggi
kecepatannya.
Bekerja sebagai seorang reporter majalah seperti
saat ini sedikit banyak memudahkan aku untuk lebih mahir mengolah kata. Maka sebagian
besar waktu yang kuhabiskan di depan komputer juga bisa kumanfaatkan untuk
berkarya dalam menulis cerita. Dan cerita anak aku rasa akan menjadi fokusku
satu tahun ke depan.
Berproses terus kulakukan. Berproses sebagai
hamba yang mampu memenangkan Rabb-Nya dalam segala kondisi. Berproses sebagai
anak yang mampu berperan sebagai mutiara bagi orang tua. Berproses sebagai
bagian masyarakat. Dan Berproses untuk menjadi insan kamil untuk kemudian menjadi
pemenang dunia dan akhirat.
Di dua lima yang hampir kujalani, ada satu yang
masih kutunggu. Jawaban untuk menyempurnakan agama. Ini nanti adalah gerbang
awal lagi yang akan menentukan banyak hal ke depan. Manusia boleh berencana
tapi Allah Azza Wa Jalla jualah yang menentukan. Percaya kok bahwa semua akan
indah pada waktunya. Bukan mengejar tepat waktu, tapi di waktu yang tepat
(eaaaa.. ). ^^

2 komentar: