INI KITA. . . .
Hampir dua tahun dalam satu lingkaran bukanlah waktu yang singkat untuk membuat hati-hati kami saling bertaut. Ketika kata perpisahan diucapkan maka seakan ada bagian dari tubuh ini yang tercerabut. Bagai film yang tiba-tiba memutar kembali secara otomatis. Adegan-adegan kebersamaan kami pun berseliweran dalam ingatan silih berganti. Tidak banyak moment yang kami tangkap dalam dimensi digital sehingga mengingatnya cukup dengan ingatan akan setiap canda, perhatian, tausiyah, dan obrolan di setiap pertemuan.
Bertemu setiap pekan dan tiba-tiba
rutinitas itu berganti dengan orang-orang baru pasti tetap berbeda. Perpisahan
selalu mengajarkan kita untuk seharusnya menghargai setiap moment kemarin dan
jika bisa ingin membungkusnya dengan label penting. Betapapun menyadari
perpisahan adalah keniscayaan, di saat kata itu tiba pun kami masih ingin untuk
mengulur waktu. Untuk sekadar menatap lebih lama wajah satu sama lain atau
sekadar menyampaikan secara tersirat, “Aku mencintaimu saudaraku.”
Ini Kita
Kita memang sebuah kata
yang terdiri dari aku dan kamu
tanpa pemberitahuan pun
kita tahu bahwa ini kita
kita yang saling
mendoakan dalam malam-malam yang panjang
kita yang saling gelisah
ketika ada sedikit kerenggangan
dan kita yang selalu ada
di kotak memory ukhuwah
semoga kita pun masih
tetap menjadi kita
meskipun tanah yang kita
pijak berbeda tempat
tapi kita tetap melihat
matahari yang sama.



0 komentar: