Jakarta dan Kongres Bahasa Indonesia X
Menulis
adalah salah satu cara terbaik untuk menyimpan dan mengabadikan momen dalam
hidup kita. Kali ini aku akan menulis tentang perjalananku ke Jakarta akhir
Oktober ini, untuk menghadiri Kongres Bahasa X.
Kami
berempat (aku, Esti, Aya, dan Sinta) berangkat ke Jakarta hari Ahad, 27 Oktober
naik kereta ekonomi. Itu merupakan pengalaman pertama bagi kami naik kereta
ekonomi AC bernama “Krakatau”. Dengan level ekonomi Krakatau cukup nyaman untuk
menjadi alternatif transportasi saat ini. Perjalanan ke Jakarta via kereta
siang hari juga baru kami rasakan. Alhasil perjalanan pun terasa sangat
panjang. Menurut jadwal, kami berangkat dari Stasiun Jebres pukul 10.31 dan
sampai stasiun Senen pukul 21.49, tapi karena kereta datang terlambat (—problem
klasik bangsa ini) kami pun semakin malam sampa Jakarta. Hal positif perjalanan
siang adalah kita bisa menikmati pemandangan sekitar yang memang didominasi
alam hijau dan pedesaan.
Sore
harinya kita juga bisa menikmati indahnya matahari tenggelam. Hal yang juga
perlu disiapkan adalah camilan, mp3, atau buku jika kita tidak ingin mati
kebosanan. Walaupun memang mengobrol dengan teman adalah hal yang pasti
dilakukan ketika kita pergi rame‒rame dengan teman. Topik apa pun kami
bincangkan, mulai dari cuaca, acara televisi, keluarga, harapan-harapan kami,
sampai hal‒hal
tidak penting.
Kami
sampai stasiun Senen sekitar pukul 22.00. Sesampainya di Jakarta, kami harus
konfirmasi ulang ke panitia di Hotel tempat acara. Segera kami mencari taksi
dan menyebutkan nama hotel tujuan. Dengan tergesa, ketika sampai hotel kami
langsung bertanya ke resepsionis dan menuju ke lantai dua tempat panitia.
Sampai di sebuah ruangan dengan banyak meja dan beberapa orang masih dengan
kesibukannya, kami pun disambut salah satu panitia dan dia mengatakan bahwa
konfirmasi sudah tidak dilayani dan disuruh datang besok pagi saja sebelum
acara. Seketika itu kami langsung lemas, kami konfirmasi malam juga bukan tanpa
alasan, karena panitia via sms menjelaskan bahwa kami boleh konfirmasi malam
hari.
Dengan
wajah yang layu kami pun meninggalkan hotel bintang lima yang bernama Grand
Sahid Jaya itu. Sinta berpisah dengan kami, karena dia akan menginap di tempat
kakaknya di daerah Jakarta Selatan dan kami bertiga (aku, Esti, dan Aya)
meluncur ke arah Rawamangun, Jakarta Timur. Kami memang tidak menginap di hotel
(—tentunya karena masalah budget. .hehe) tapi menginap di kos‒kosan anak 2010 yang
sedang magang, lebih tepatnya di kamar Rida, Ayu, dan Arifah. Sesampainya di
kos kami pun disambut dengan hangat. ^^ Teman‒teman langsung terlelap dan malam
itu aku tidak bisa tidur, hanya memejamkan satu atau dua jam barangkali.
28 Oktober 2013
Senin
pagi pukul 04.00, aku adalah orang yang pertama terjaga pagi itu. Aku langsung
membangunkan teman‒teman,
beberapa langsung wudlu dan yang lain siap‒siap mandi. Kami berempat berangkat
dengan menumpang bus badan bahasa yang memang disediakan untuk anak‒anak magang, karena
mereka diperbantukan menjadi panitia di acara Kongres Bahasa tersebut. Di jalan
cukup macet di beberapa titik jalan.
Perjalanan
Rawamangun‒Sudirman
pun kami tempuh kurang lebih satu jam lebih dikit. Sesampainya di Hotel Grand
Sahid Jaya, kami pun segera konfirmasi atau daftar ulang. Di awal sudah cukup
terlihat kalau kepanitiaan kongres tersebut tidak begitu matang. Banyak hal
teknis yang belum sesuai tempatnya, seperti seminar kit yang belum lengkap,
acara yang molor (‒jam
karet khas Indonesia), dan koordinasi yang kurang dengan anak‒anak magang.
Pagi
itu kami bertemu dengan Pak Ahmad Taufiq, ketua jurusan kami, dan kami berempat
menyapa beliau. Atas rekomendasi beliau pula akhirnya kami memutuskan mencari
sarapan terlebih dahulu, karena kami baru dapat makan siang harinya, sementara
saat itu acara masih belum dimulai dan waktu masih menunjukkan pukul 08.00.
Kami pun memutuskan sarapan di luar hotel, di sebuah warung tenda. Soto betawi
dan teh hangat menjadi menu sarapan kami pagi itu dengan harga Rp 20.000,00
(—harga yang cukup mahal untuk biaya sekali makan di Solo dengan menu serupa).
Pagi itu perutku sedikit bermasalah antara kembung dan disminor karena haid, sehingga sarapanku pun tidak aku
habiskan, padahal untuk rasa sebenarnya makanan itu cukup enak.
Selesai
sarapan kami langsung kembali ke hotel dan segera menuju ke Puri Agung Ball
room tempat acara diselenggarakan. Sudah cukup banyak tamu yang hadir di ruangan.
Kami memilih tempat duduk di tengah‒tengah ruangan. Acara pun dimulai
dengan gladiresik terlebih dahulu sambil menunggu datangnya Mendikbud
(—Muhammad Nuh) yang memang dijadwalkan akan memberi sambutan sekaligus membuka
acara Kongres Bahasa Indonesia X tersebut.
Sekitar
pukul 10.00, Mendikbud pun akhirnya datang. Oleh pembawa acara kongres pun
dibuka dan hadirin disuruh berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan kita
“Indonesia Raya”. Aku menjadi salah satu peserta yang bersemangat
menyanyikannya juga dengan sepenuh hati. Selanjutnya Mendikbud memberi sambutan
sekaligus paparan tentang realita serta harapan terhadap Bahasa Indonesia kita.
Acara
pun dibuka secara resmi dengan dipukulnya gong oleh Muhammad Nuh sebanyak
sepuluh kali sesuai angka urutan kongres Bahasa Indonesia tahun ini. Acara
dilanjutkan dibuka dengan tarian tradisional dari Betawi dan dilanjutkan paduan
suara dari siswa‒siswa
SD yang menyanyikan beberapa lagu nasional dan salah satunya lagu berjudul
“Bangga Berbahasa Indonesia”. Lagu dengan lirik dan nada sederhana tapi mampu
membawa energi tersendiri bagi pendengarnya. Salah satu liriknya mengatakan,
“Kita harus menjaga bahasa Indonesia”, sebuah kesadaran pun kembali hadir bahwa
memang kitalah yang harus menjaga bahasa persatuan negeri ini, sebuah visi yang
tidak boleh berakhir sejak diikrarkan oleh para pemuda bangsa ini sejak 85
tahun silam di tanggal persis sepert hari ini 28 Oktober. Semangat Kongres
Bahasa Indonesia adalah juga semangat Sumpah Pemuda yang tidak boleh lekang
oleh waktu.
Sambutan
selanjutnya adalah dari pimpinan Badan Bahasa, Prof. Dr. Mahsun. Dengan
penampilan yang bersahajam], beliau mampu memperlihatkan kharisma tersendiri
dan dengan kata‒katanya
hadirin dipaksa untuk mengamini kecerdasan beliau. Kata-kata yang keluar dari
beliau begitu runtut terstruktur dan bernas. Dikarenakan waktu yang sudah
tengah hari, setelah beberapa sambutan, acara dilanjutkan dengan santap siang
model praspanan dengan standing party. Apesnya kami berempat menjadi bagian
dari peserta yang tidak mendapat jatah makan. Semua makanan habis tak bersisa,
kecuali sisa makanan peserta yang terlebih dahulu makan dan tidak dihabiskan.
Aku dan Esti hanya menemukan sepotong kue cake yang kemudian kami bagi berdua
(—langsung teringat makanan tadi pagi yang tidaj aku habiskan jadi merasa
kualat gitu L).
Usut
punya usut ternyata banyak peserta tambahan yang datang, walhasil para peserta
makan dengan sistem rimba. Mungkin ini salah satu catatan hitam yang perlu jadi
evaluasi untuk tidak terulang di kongres selanjutnya. Untungnya untuk makan
siang dan sesi kudapan (—coffe break) selanjutnya tidak terulang lagi hal
serupa. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Hal terpenting yang harus
dipetik sebanyak-banyaknya adalah ilmu dari kongres ini.
Prof.
Dr. Mahsun juga menjadi salah satu pemakalah yang salah satu kata-kata beliau
adalah “Untuk menjadikan bahasa Indonesia diterima di dunia Internasional,
bahasa Indonesia harus menjadi bahasa ilmu pengetahuan.” Hal itu sejalan dengan
tema yang diangkat untuk Kongres Bahasa Indonesia tahun ini yakni “Penguatan
Bahasa Indonesia di Dunia Internasional”. Sebuah wacana yang memang tidak mudah
untuk terwujud seketika, karena notabene yang perlu dilakukan terlebih dahulu
saat ini adalah menjadikan bahasa Indonesia sebagai tuan rumah di negeri ini.
Sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia harus ditingkatkan karena
bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa ini seperti halnya yang disebutkan di
dalam UUD 1945 Pasal 25 ayat 2.
Banyak
sekali materi yang disajikan oleh pemakalah‒pemakalah hebat hari itu. Banyak
sekali cabang dari badan bahasa sendiri yang memang harus mempunyai tugas dan
tanggung jawab terhadap bahasa kita bahasa Indonesia, tentang tantangannya saat
ini dan di masa depan. Mulai dari peran keluarga, kemudian guru‒guru di sekolah, dan
tentunya masyarakat. Dengan hanya duduk saja ketika kita tetap berpikir, energi
pun juga cepat terkuras. Kami pun pulang juga dengan menumpang bus rombongan
magang. Jalanan Jakarta malam itu benar‒benar macet dan hampir dua jam kami
baru sampai kos.


0 komentar: