ASTARI
Tok. . .tok . . .tok. . .
“Assalamu’alaikum,,,,Bulik!!!!”
Seorang perempuan paruh baya berjalan tergesa menuju
pintu. “Wa’alaikumsalam, , owalah nduk kamu tho. .ayo-ayo masuk!”
“Nggih bulek. Ehm ini Syifa bawakan martabak hangat
kesukaan dek Tari.” Sambil menjabat tangan bulik, kuserahkan bungkusan martabak
itu.
“Gimana kabarmu dan ibu bapak? Kamu itu kok repot-repot
segala bawa oleh-oleh nduk, kamu udah datang aja pasti Tari seneng.”
“Alhamdulillah kami sekeluarga sehat Bulik. Kok Bulik gak
bilang kalau dek Tari sakit, seharusnya kan Syifa bisa lebih awal jenguk dek Tari.”
“Iya, maafkan Bulik nduk. Kamu kan juga tahu gimana Tari,
dia gak suka menyusahkan orang lain.”
“Bulek ini gimana? Kami kan bukan orang lain. Kalau
kemarin Syifa gak disuruh ibu ambil jahitan di tempat Budhe Atik, Syifa juga
gak tahu kalu dek Tari sakit.”
“Ya sudah, yang penting kan sekarang kamu sudah di sini. Sebentar
Bulek panggilkan Tari.”
“Gak usah bulek, biar syifa saja yang ke kamar dek tari.”
Ketika kulangkahkan kaki ke kamar sepupuku itu, kulihat
ia sedang shalat. Ku amati lekat-lekat setiap geraknya. Ya, sangat terlihat
gerak tubuhnya lemah. Tak tega melihatnya lama-lama, akhirnya aku putuskan
menunggunya di ruang tamu.
Kuamati interior rumah bulik, dan kesan sederhana akan
muncul bagi siapapun yang melihatnya. Seperti halnya rumah di desa, rumah bulek
cukup luas. Meskipun begitu, jangan membayangkan isi rumah penuh dengan
perabot. Ruang tamu rumah bulekku, cukup diisi dengan seperangkat sofa yang sudah
lubang-lubang di beberapa sisinya dan sebuah mesin jahit tua lengkap dengan
kursi kayu di depannya. Di ruang tengah terdapat televisi bermerek national
dengan model za-dul (red-zaman dulu) dengan tombol chanel di sisi kanan
televisi. Dinding rumah tanpa cat itu hanya tertempeli sebuah jam berbentuk
persegi.
Tepat ketika jam menunjukkan pukul 16.00, kudengar pintu
depan bergeser. “Assalamu’alaikum...”
Ternyata yang datang adalah ayah dek Tari dan dek Ardan,
putra kedua bulek yang masih duduk di bangku SMP kelas IX.
“Wa’alaikumsalam....” sambil menjawab salam kulangkahkan
kaki menyambut Paklik serta menjabat tangan beliau dan dek Ardan.
“Baru pulang Paklik?”
“Iya, ini tadi sekalian jemput Ardan dan beli obat untuk
Tari. Sudah ketemu Tari kah?”
“Mbaak
Syifa!!!” terdengar suara lemah memanggil namaku. Kuarahkan wajah ke sumber
suara. Ternyata dek Tari sudah selesai shalat.
“Aduuh,
seharusnya kamu jangan keluar kamar. Biar mbak aja yang nyamperin.” Dengan
tergesa kuhampiri dek Tari dan kupapah ia kembali ke kamarnya.
“Ma-af
lho mbaak, me-re-pot-kan.” Nafasnya terdengar terengah-engah saat berbicara.
“Kamu
itu ngomong apa sih dek, mbak gak repot kok. Sebenarnya mbak masih marah lho,
bisa-bisanya mbak gak kamu kabari kalau kamu sakit.” Kukatakan itu sambil pura-pura
memasang wajah memberengut.
“I-ya,
Ta-ri cu-ma gaak pe-ngen mem-bu-at se-mua o-rang kha-watir mbaak.”
Melihatnya
terengah-engah, aku benar-benar tidak tega. Kupeluk tubuh ringkih dek Tari
pelan. “Iya, tadi mbak Cuma pura-pura marah. Udah gak usah bicara lagi,disimpen
aja tenaganya.”
Tak
sengaja dua bulir air mataku menetes di balik pelukan dek Tari.
***
“Kemungkinan Tari gak jadi pergi ke Malaysia mbak.
Tubuhnya aja sakit dan lemah kayak gitu.” Paklik menjelaskan pertanyaan ibuku yang
datang beberapa hari kemudian setelah aku.
Ya,
adikku itu memang berencana jadi TKW di Malaysia. Dia berencana bekerja dua
tahun di sebuah pabrik lampu handphone di negeri Jiran. Dua bulan
sebelum rencana kerangkatannya ke Malaysia, dek Tari jatuh sakit. Ia tidak
cukup hanya di bawa ke dokter umum, karena setelah di bawa ke sana sang dokter
memberi surat pengantar untuk Tari pergi ke dokter spesialis penyakit dalam.
Setelah itu baru diketahui bahwa di jantungnya terdapat flek. Tubuhnya pun
mulai melemah.
Cita-cita Tari sungguh mulia, sebagai anak sulung ia
ingin mengentaskan orang tuanya dari kemiskinan. Selain untuk membantu
kebutuhan orang tuanya, ia juga akan menabung untuk biaya kuliahnya sendiri. Ia
yang baru saja lulus SMK tidak mungkin berani membebani orang tuanya dengan
keinginannya kuliah. Ibunya yang tak lain bulikku hanya bekerja sebagai tukang
jahit serabutan dan ayahnya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik kain.
Dek Tari
menghampiri kami di ruang tamu, wajahnya masih pucat seperti tiga hari yang
lalu ketika aku mengunjunginya.
“Udah
nduk, kamu gak usah banyak pikiran. Kalau memang Gusti Allah menghendaki kamu
pergi ke Malaysia, pasti tubuhmu akan baikan nanti. Dan sebaliknya, kalau
keadaanmu masih lemah menjelang keberangkatanmu, yang tinggal 3 minggu lagi ya
gak papa. Brarti kamu dikehendaki menemani ibumu. Bekerja di dekat-dekat sini
juga bisa.” Ibuku menasehati panjang lebar.
“Nggih
bu-dhe, ma-tur nu-wun.” Tari menjawab masih dengan wajah yang murung. Senyum
yang biasa menghiasi wajahnya pun sekarang purna.
***
“Mbak,
bantu aku. Ehmm.....cara masuk kuliah di UNS itu seperti pa? Jurusannya apa aja
sih mbak? J
“Bisa lewat jalur undangan atau tes SNMPTN dek. Untuk
jurusannya banyak, kamu tinggal pilih yang sesuai minatmu. Kamu kan pinter
pasti bisa masuk.”
Diriku kembali teringat percakapan kami 6 bulan yang
lalu. Sampai saat ini pun masih terasa gelora semangat dari adikku itu. Yang
membuatku sedih, keinginannya untuk kuliah itu pun harus tertunda.
Tiga bulan yang lalu usianya 18 tahun, dan Tari sudah
melewati ujian Nasional. Sekarang tinggal menunggu hasil ujian. Dua bulan
lamanya ia hanya di rumah menemani ibunya menjahit sambil menunggu panggilan ke
Malaysia. Banyak kejadian yang dilihat dan dialaminya selama dua bulan itu. Yang
bisa jadi mempengaruhi psikis dan berimbas pada fisiknya.
Dengan kondisi keuangan keluarga yang tidak menentu,
ibunya beberapa kali meminjam uang secara kredit, dan setiap hari ia
menyaksikan ibunya didatangi tukang kredit bukan hanya satu tapi lebih dari
tiga setiap harinya.
Juga ada kejadian di mana sang ibu dituduh mencuri
perhiasan oleh tetangganya. Ia merasa banyak orang memandang rendah orang
tuanya.
Dari situ aku tahu mengapa suatu hari dulu ia pernah
membuat status di facebook, “Tak akan kubiarkan mereka memandang rendah
kalian, ayah-ibu, , ,bersabarlah aku akan memberikan kehidupan yang layak untuk
kalian nanti.”
***
Kriiiiiiiiiiiiiiing.............kriiiiiiiiiiiing!!!
“Ya Hallo, Assalamu’alaikum. . .dengan siapa?” Ayahku
menjawab telepon dengan nomor yang tidak dikenalnya.
“Ini Ardan Pakdhe. . sekarang mbak Tari di rawat di Rumah
Sakit. Tadi dia pingsan.”
“Innalillahi, ya..... Secepatnya kami akan ke sana.”
Hari itu agendaku padat oleh kuliah dan kegiatan kampus.
Sementara ayah dan ibuku ada undangan pernikahan dari saudaraku di luar kota.
Dan otomatis kami tidak bisa langsung pergi menjenguknya.
“Syifa, besok pagi kamu ada kuliah gak? Kita jenguk Tari
rame-rame.”
“Wah bu, Syifa ada waktu sorean besok, soalnya ada kuliah
dan kegiatan sampe sore.”
“Yasudah sore aja gak papa.”
“Ok.”
***
Ada
perasaan ganjil ketika aku dapat kabar Tari masuk rumah sakit. Rasanya ingin
segera menemui dan tahu keadaannya. Dengan jarak rumah yang lumayan jauh, kami
sering hanya bertemu saat lebaran, karena di situ memang waktu berkumpul
keluarga besar kami. Di luar itu bisa dibilang jarang sekali bisa ketemuan,
tentunya karena kesibukan masing-masing dari kami.
Sore itu
sepulang dari kampus aku mandi untuk bersiap-siap pergi menjenguk Tari.
Tiba-tiba dalam waktu yang hampir bersamaan, telepon genggam punyaku, ayahku,
dan ibuku menerima sebuah pesan singkat dari Ardan.
“Mbak
Syifa, mbak Tari udah gak ada.” Begitu bunyi pesan singkat di layar telepon
genggamku.
Degh...tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang dan
kedua mataku memanas. Aku tidak sanggup membendung air mata yang dengan
derasnya langsung tumpah di pipi.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Kami pun langsung meluncur ke rumah bulik. Pandanganku
pun sedikit kabur oleh air mata yang tak kunjung habis. Beberapa kejadian masa
lalu bersama Tari pun tiba-tiba muncul dan wajah Tari seakan hadir di pelupuk
mata.
***
“Kamu itu mbok keluar, main sama temenmu nduk. Jangan
hanya menemani ibu menjahit saja.” Tanya Bulikku suatu hari pada Tari.
“Gak mau bu, paling kalau kumpul-kumpul itu mereka hanya
ngomongin orang dan bahas cowok. Nanti malah aku tambah dosa, hehehe.” Jawab
Tari dengan sederhana dan budi yang tetap luhur.
Tidak pernah kulihat rombongan takziah seperti hari itu.
Semua orang benar-benar merasa kehilangan Tari. Tidak pernah ada kata
keluh-kesah keluar dari mulutnya. Hidupnya sederhana, sesederhana cita-citanya
untuk memberikan kehidupan yang layak untuk orang tuanya.
Tari membuatku belajar tentang bab ikhlas dan syukur.
Seumur hidup ia tidak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan, tetapi dia
ikhlas dan tak pernah berhenti bersyukur. Sebagai anak sulung pun ia
menunjukkan tanggung jawabnya. Tuhan pun sangat sayang padanya, sehingga ingin
cepat-cepat memanggil Tari untuk menempati tempat terindah di sisi-Nya, tepat
satu minggu sebelum jadwal keberangkatannya ke Malaysia. Bahwa Tuhan
berkehendak Tari berada di sisi orang-orang terdekatnya di saat terakhir
hidupnya.
Nama lengkap adikku itu adalah Astari Solihah. Sesuai
namanya ia tumbuh sebagai sosok yang solihah, bukan hanya itu Tari juga anak
paling cerdas di sekolahnya. Hari di mana ia meninggal adalah bertepatan dengan
jadwalnya untuk cap tiga jari di ijazahnya. Hari itu rombongan guru dan
teman-temannya membawakan ijazah Tari, dan di sana terpampang nilai matematika
10 bulat tentunya tanpa cap tiga jari Tari.
***
By: Anisah Sholichah


2 komentar: